top of page

Pekik Merdeka Shamsiah Fakeh (Bagian I)

Pernah berguru ke Rahmah El Yunusiyah dan H.R. Rasuna Said, Shamsiah Fakeh getol memperjuangkan kemerdekaan negeri dan kaumnya. Kini, buku memoar aktivis Malaysia berdarah Minang itu dilarang pemerintah Malaysia.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Shamsiah Fakeh, aktivis perempuan Malaysia berdarah Minang. (Repro sampul buku Dari AWAS ke Rejimen Ke-10).

26 Apr
11 menit membaca

SEJAK 2025, Kementerian Dalam Negeri (KDN) Malaysia melarang peredaran puluhan judul buku fiksi maupun non-fiksi yang dikategorikan vulgar, berbau LGBTQ+, yang menistakan agama, dan buku-buku yang “berbau” komunis. Terbaru, dua buku lagi dilarang beredar, salah satunya memoar pejuang-aktivis kiri Shamsiah Fakeh.


Menurut sejarawan Nasrul Hamdani, Malaysia tak ubahnya Indonesia. Nasrul yang pernah studi di Universiti Kebangsaan Malaysia mengungkapkan bahwa buku-buku yang berkaitan dengan kisah atau ideologi kiri masih sangat sensitif baik di tengah-tengah masyarakat maupun pemerintah.


“Bukan cuma buku Shamsiah Fakeh dilarang, buku memoar Chin Peng juga dilarang. Isu komunisme masih sensitif di sana karena sepertinya luka masa lalu. UMNO (United Nalays National Organization, red.) pernah merasa dikhianati komunis, itu belum selesai dan kadang isu itu masih dipakai di politik di Malaysia,” kata Nasrul kepada Historia.ID. Memoar Chin Peng yang dimaksud adalah otobiografi pendiri Partai Komunis Malaya (PKM), Alias Chin Peng: My Side of History, yang terbit pada 2003.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page