- Randy Wirayudha

- 7 jam yang lalu
- 11 menit membaca
SUNGAI Tamiang membentang dari hulu di pegunungan hingga bermuara di Selat Malaka sepanjang 104 kilometer. Ia jadi nadi peradaban di Aceh Timur, utamanya bagi masyarakat yang berdiam di Aceh Tamiang. Wilayah ini terdampak paling parah dalam bencana alam pada akhir November 2025 yang menerjang Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat hingga menewaskan lebih dari 1.100 jiwa. Belum juga pulih, warga Aceh Tamiang yang bermukim di sepanjang Sungai Tamiang terendam akibat luapan sungai yang disebabkan curah hujan tinggi pada awal tahun 2026.
Dulu, Sungai Tamiang tak hanya menampung hujan dan menyuburkan lahan-lahan di sekitarnya, tetapi juga jadi jalur perdagangan dan perjuangan di masa revolusi kemerdekaan.
Julius Pour dalam biografi Laksamana Sudomo: Mengatasi Gelombang Kehidupan mencatat, upaya Mayor John Lie dengan kapal The Outlaw bernomor lambung PPB 58 LB mendapatkan persenjataan dari Singapura dan Malaya untuk pasukan Republik di Sumatra berawal dari Sungai Tamiang. Ketika itu, tak sedikit komoditas perkebunan yang dibawa menembus blokade laut Belanda untuk dibarter dengan keperluan militer.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












