- 4 jam yang lalu
- 4 menit membaca
KABAR duka datang dari belantika musik rock tanah air. Donny Fattah, pencabik bas sekaligus salah seorang pendiri band rock legendaris God Bless, tutup usia pada Sabtu, 7 Maret 2026. Manajemen God Bless melalui akun Instagram-nya, @goodblessrocks, mengabarkan almarhum meninggal dunia di Rumahsakit Fatmawati, Jakarta.
Peran Donny amat besar di God Blesss. Selain penjaga keharmonisan band, selaku basis Donny produktif menulis lagu dan konsisten menjaga ritme lagu-lagu God Bless yang jelas bukan kaleng-kaleng.
Sedari awal, God Bless sudah punya beberapa lagu bagus. Lagu-lagu itu muncul di album pertama, God Bless (1976), dengan Ahmad Albar yang kribo sebagai sampul albumnya. Bersama sutradara Syumandjaya, Donny menulis lagu “Huma di Atas Bukit”. Selain itu, juga lagu “She Passed Away” dan “Setan Tertawa”.
“Tiga lagu ini menjadi kebanggaan God Bless karena sebelumnya supergroup Jakarta ini biasa mengcover lagu barat,” catat Bens Leo dalam Bens Leo dan Aktuil: Rekam Jejak Jurnalisme Musik dan Majalah Aktuil edisi 243 tahun 1978.
Selain muncul di album perdana God Bless, “Huma di Atas Bukit” muncul di film Laela Majenun karya Syumandjaya yang dibintangi pula oleh Ahmad Albar. “She Passed Away” juga muncul dalam film Si Doel Anak Modern, yang juga dimainkan Syumandjaya bersama Ahmad Albar pula plus Benyamin S.
Waktu album perdana itu dirilis, rata-rata usia para personel God Bless masih 20-an tahun. Donny yang kelahiran Makassar, 24 September 1949, masih sekitar 27 tahun. Namun, Donny yang sejak usia belasan tahun sudah main band di Jakarta itu rupanya sudah memikirkan Indonesia.
“Sebagai generasi muda yang sedang tumbuh dalam pencarian identitas diri, kita dihadapkan kegamangan ketika melihat para pemimpin yang kala itu tidak lagi mencerminkan semangat 45. Mereka berpesta pora, sementara dimana-mana rakyat menderita,” terang Donny seperti dicatat Alex Palit dalam God Bless and You - Rock Humanisme.
Lewat lagu kritikan itu, Donny menyuarakan kesenjangan generasi muda dan generasi tua yang sedang berkuasa. Dengan lirik yang amat lugas dan sederhana, seharusnya lagu mudah dipahami orang-orang yang pernah “makan” bangku sekolahan meski tak dijelaskan siapa para pembuat dosa dalam lagu tersebut.
Generasi tua yang berkuasa di era album itu dirilis adalah mereka yang lahir antara tahun 1900 hingga 1929, biasa digolongkan sebagai “Great Generation” alias Generasi Hebat. Sementara, Donny dan personel God Bless lain adalah pemuda kelahiran 1945 hingga 1950-an, tergolong generasi “Baby Boomers” alias yang lahir setelah Perang Dunia II.
Era 1970-an, saat album God Bless dirilis, adalah era Orde Baru. Era tersebut dianggap pendukung Orde Baru sebagai era pertumbuhan ekonomi meski realitasnya pertumbuhan itu jauh dari kata merata seperti yang diinginkan Pancasila. Kesenjangan sosial saat itu diwarnai pula oleh korupsi.
“Mereka lupa Tuhan ada, setan tertawa berpesta pora, membawa lagu ia berkata, tambah kawan masuk neraka,” tulis Donny dalam lagu “Setan Tertawa”.
Lagu “Setan Tertawa” dibuat di era korupsi mulai marak di Indonesia. Penguasa suka mengutuk orang tak beragama atau tak bertuhan, namun mereka sendiri banyak mengabaikan perintah Tuhan.
Donny dengan demikian mengutuki penguasa-penguasa yang satu generasi dengan ayahnya. Di antara yang berkuasa itu bahkan ada yang kawan seperjuangan ayahnya sewaktu revolusi ‘45. Waktu lagu itu ditulis, ayah Donny yang bernama Eddy Medau Gagola dan populer sebagai Eddy Gagola, sudah meninggal dunia. Eddy Gagola termasuk Angkatan 45.
“Ayahnya seorang Sangir Talaud seorang letkol (letnan kolonel) AD yang pernah pegang wakil Kostrad KODAM V Jaya. Orangtuanya ini meninggal dunia pada 1965 yang menyebabkan Donny harus meninggalkan bangku kuliah yang ketika itu baru saja memasuki tingkat persiapan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,” tulis Bens Leo.
Sewaktu revolusi kemerdekaan Indonesia (1945-1949), Eddy Gagola mula-mula anggota laskar Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS). Kecerdasannya membuat dia menjadi perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) ketika berperang melawan tentara Belanda. Edy Gagola sudah letnan di era revolusi. Pada awal 1950, Eddy sudah berpangkat kapten dan ditempatkan di Sulawesi Utara hingga naik pangkat lagi. Eddy Gagola dekat dengan pemimpin Permesta Letnan Kolonel Herman Nicolas Ventje Sumual.
“Mayor Eddy Gagola adalah staf saya dulu masa perang gerilya di Jogja. Ia perwira yang cerdas,” kata Ventje Sumual dalam Memoar Ventje H.N. Sumual.
Sang pemimpin Permesta itu cukup menghormatinya Eddy. Sebagai salah satu orang penting di Sulawesi pada 1950-an, Eddy ikut menandatandatangani deklarasi Permesta, yang merupakan upaya koreksi daerah kepada pusat dan menjadi isu penting pada 1957.
Eddy menikahi seorang perempuan Jawa bernama Moerdiyah Kartoatmodjo. Keduanya lalu dianugerahi putra yang diberi nama Gideon Patta Onda Gagola alias Donny Fattah.
Donny memilih berbeda jalan hidup dari ayahnya yang militer. Donny yang tak bisa jadi dokter lalu bergelut dengan musik. Sewaktu bekerja sebentar di Kedubes RI di Kanada, Donny memanfaatkannya untuk belajar lebih tentang bas pada basis cum pentolan grup Rush, Geddy Lee. Sekembalinya ke tanah air, Donny lalu memperkuat Equator Child dan Fancy Jr. Bersama gitaris Ludwig Lemans dan drummer Fuad Hassan, Donny juga terlibat dalam proyek Deddy Dores and The Road yang merilis album lagu-lagu melankolis seperti “Tinggal Kenangan”.
Ludwig datang ke Indonesia dari Belanda bersama Ahmad Albar. Keduanya sukses bermusik di Belanda lewat Clover Leaf. Di Indonesia, keduanya bersama Donny dan Fuad lalu membentuk God Bless.
Dengan segala masalahnya, Donny hidup dengan musik hingga tua. Donny sempat rekaman bersama adiknya, Rudi Gagola, dalam D&R. Di era 1990-an, bersama gitaris God Bless Ian Antono dan Albar, Donny memperkuat Gong 2000 hingga band tersebut dibubarkan pada 2000. Meski ada masa Donny absen, Donny terus bertahan di God Bless hingga akhir hayatnya. Selamat jalan, Donny!*













Komentar