- 24 jam yang lalu
- 4 menit membaca
DALAM historiografi populer, nama Haji Djamhari sering disebut sebagai penemu rokok kretek. Namun, selama bertahun-tahun sosok ini dipandang sebagai figur mitologi. Sebuah legenda lokal yang tidak memiliki dasar historis yang kuat.
Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat Kudus, Haji Djamhari hidup pada akhir abad ke-19. Dia dikisahkan mengalami sakit di bagian dada yang sudah lama dideritanya. Setiap kali serangan sesak napas datang, dia merasakan penderitaan yang begitu berat.
Dalam upaya meredakan penyakit tersebut, dia mencoba menggunakan minyak cengkih dengan mengoleskannya pada dada dan punggungnya. Cara itu memberinya sedikit kelegaan, meskipun belum benar-benar menyembuhkan.
Tidak berhenti di situ, dia kemudian mencoba mengunyah butiran cengkih secara langsung. Hasilnya ternyata lebih terasa dibandingkan sebelumnya. Dari pengalaman itulah muncul gagasan dalam benaknya untuk memanfaatkan cengkih sebagai bahan pengobatan bagi penyakit yang dideritanya.
“Adapun caranya sangat sederhana sekali. Cengkih ini dirajang halus-halus, kemudian dicampurkan pada tembakau yang dipakainya untuk merokok. Dengan cara ini dia bisa mengisap asapnya sampai masuk ke dalam paru-parunya,” catat Amen Budiman dan Onghokham dalam Hikayat Kretek.
Hasilnya sungguh di luar perkiraan. Penyakit dada yang selama ini dideritanya berangsur-angsur sembuh setelah dia memanfaatkan cengkih tersebut. Cara pengobatan sederhana ini kemudian tersebar dan dikenal oleh masyarakat di sekitarnya. Rokok jenis ini kemudian dikenal dengan sebutan “kretek”. Nama tersebut muncul karena rokok ini mengeluarkan bunyi “kretek... kretek...” saat dibakar. Bunyi itu berasal dari cengkih yang terbakar di dalamnya.
Namun, selama bertahun-tahun, kisah ini lebih banyak bersandar pada tradisi lisan daripada dokumen tertulis. Minimnya arsip kolonial yang menyebut namanya membuat sebagian sejarawan meragukan keberadaan Haji Djamhari. Dia dianggap lebih sebagai simbol kultural daripada tokoh historis yang nyata.

Penemuan di Tasikmalaya
Upaya membuktikan keberadaan sosok Haji Djamhari pertama kali dilakukan oleh Edy Supratno. Hasil penelitiannya dibukukan berjudul Haji Djamhari Penemu Kretek: 100 Tahun Sejarah yang Terpendam dan Lika-liku Pencarian Jejaknya.
Meski Edy pendatang di Kudus, dia sangat tertarik membaca penelitian tentang Kudus. Salah satu yang menarik adalah sejarah rokok kretek. Dari berbagai bacaan, dia menemukan keterangan bahwa penemu rokok kretek adalah Haji Djamhari. Temuan itulah yang mendorongnya meneliti lebih jauh sosok Haji Djamhari.
“Penelitian saya dimulai dari titik awal kretek yang berada di Kudus. Kalau menurut penelitian itu adanya di Kudus kulon, sekitar menara. Saat bertemu orang-orang di sana dan mencari administrasi di beberapa desa, tetapi tidak ditemukan,” ujar Edy kepada Historia.ID.
Penelitian kemudian dilanjutkan ke beberapa tempat, meski sama sekali belum menunjukkan jawaban. “Hingga suatu hari saya berhasil menemukan sumber-sumber yang bisa menunjukkan, yaitu silsilah dan makam Haji Djamhari yang berada di Tasikmalaya,” ujar Edy.
Silsilah Djamhari didapatkan dari keluarga Hardiwidjojo, saudara sepupu Djamhari. Catatan ini terbilang cukup lengkap. Cerita mengenai kretek juga divalidasi oleh kaluarganya bahwa Djamhari memang mengonsumsi cengkih untuk mengobati rasa sakitnya. Bahkan, hal ini menjadi tradisi di keluarga besar mereka. Dari beberapa nama yang tercantum di silsilah tersebut, semuanya di Kudus, kecuali Djamhari. Selain itu, cerita dalam silsilah tersebut berkaitan erat dengan Kudus.
“Abdul Somad menikah dengan Ganirah atau Aisyah yang kemudian menurunkan enam anak, yaitu Djajuri, Djamhari, Atmo, Sukirah, Saleh, dan Irjam,” catat Edy.
Diketahui bahwa ayahnya juga mempunyai keluhan yang sama dengan Djamhari, yaitu penyakit sesak napas. Menurut Tony Priliono, dokter yang sehari-hari bertugas di Rumah Sakit Griya Balur Muria Kudus, penyakit tersebut memang bisa menurun dari orang tua ke anak.
Abdul Somad merupakan pedagang batik. Keuletannya dalam berdagang diwarisi oleh anak-anaknya. Djajuri berdagang pecah belah yang didatangkan dari Cirebon, sedangkan Djamhari berdagang di Pasar Singaparna. Keberadaannya di Tasikmalaya tidak dapat dilepaskan dari peristiwa anti-Tionghoa di Kudus pada 1918. Saat itu, Djamhari tengah menjabat sebagai komisaris Sarekat Islam (SI) Kudus wilayah Prawoto.
“Peristiwa kerusuhan ini diawali dengan perkelahian antara sejumlah pemuda Tionghoa yang sedang melakukan prosesi arak-arakan gotong Tepekong dengan sekelompok pemuda SI,” catat Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik.

Pertikaian ini berujung pada kerusuhan yang disertai penjarahan dan pembakaran toko-toko milik orang Tionghoa. Pemerintah kolonial mencatat, Kerusuhan Kudus pada Oktober 1918 merupakan salah satu kerusuhan terburuk pada abad ke-20. Pemerintah kolonial kemudian mengambil tindakan dengan menangkap para pimpinan pengurus SI. Tindakan tersebut menimbulkan trauma di kalangan pengurus SI. Dalam situasi inilah Djamhari diyakini meninggalkan Kudus dan memboyong keluarganya ke Tasikmalaya.
Di Tasikmalaya, Djamhari menjual pakaian. Sebagai seorang pedagang, Djamhari tidak membatasi diri pada satu jenis barang dagangan saja. Selama ini, dia memang dikenal menjual pakaian, tetapi dia juga siap memenuhi kebutuhan lain sesuai permintaan pembeli. Selain apuk, ia pun melayani penjualan material bangunan seperti kayu. Apuk yang telah dibeli kemudian dimuat ke dalam kereta-kereta lembu dan dibawa secara beriringan.
Saat terjadi peristiwa DI/TII di Jawa Barat, Djamhari mengalami tekanan dan rumahnya terdampak. Dalam keadaan tersebut, dia memutuskan untuk membawa keluarganya ke Kudus. Namun, di Kudus perekonomiannya mulai mengalami kesulitan, sementara usaha dan lahan garapannya berada di Tasikmalaya. Setelah situasi relatif membaik, dia kembali ke Tasikmalaya untuk melanjutkan kehidupannya.
Djamhari tinggal di Tasikmalaya hingga akhir hayatnya. Dia meninggal pada 10 Juni 1962 dalam usia sekitar 90 tahun. Meski tidak ada informasi mengenai tanggal lahirnya, tetapi dia diperkirakan lahir sekitar tahun 1870-an.
“Dengan ditemukannya silsilah dan makamnya, hal ini membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi,” jelas Edy*













Komentar