top of page

28 Mei 1738: Joseph-Ignace Guillotin Lahir

Upayanya untuk membuat hukuman mati lebih manusiawi justru menjadikan namanya sinonim dengan mesin jagal yang menjadi ikon salah satu periode paling berdarah dalam sejarah Prancis.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 56 menit yang lalu
  • 4 menit membaca

28 MEI 1738, Joseph-Ignace Guillotin lahir di Saintes, Prancis. Namanya menjadi eponim untuk alat pemenggal kepala yang digunakan saat eksekusi mati, guillotine. Meskipun menggunakan namanya, Guillotin bukanlah penemu dari mesin jagal tersebut.


Guillotin membangun reputasi sebagai dokter yang terkemuka di Prancis. Aktivitasnya dalam politik membawanya terpilih sebagai anggota Majelis Nasional.


Sebagai anggota Majelis, dia mengajukan rancangan undang-undang (RUU0 untuk reformasi medis pada 1791. Antara lain berisi penyetaraan dokter dan ahli bedah, pembentukan kampus kedokteran nasional, standarisasi profesi, serta penyatuan teori dan klinik. Pergolakan politik Revolusi Prancis dan jatuhnya monarki membuat Majelis Nasional tak sempat mengesahkannya. Gagasan dalam RUU ini akhirnya menjadi fondasi hukum kedokteran modern Prancis lewat undang-undang baru pada Maret 1803.


“Faktanya, kedokteran modern masih mematuhi hukum yang dianjurkan pada tahun 1790 oleh Guillotin,” catat Andre Soubiran dalam The Good Doctor Guillotin and His Strange Device.


Namun, namanya lebih dikenal karena mengusulkan penggunaan alat mekanik hukuman pancung.


Guillotin punya perhatian pada hukum pidana. Pengalamannya sebagai dokter telah membuatnya menentang hukuman mati. Pada awalnya, dia mencoba untuk menghapuskannya, tapi tak berhasil. Dia lalu mengajukan usulan agar hukuman mati disetarakan bagi semua kalangan dan dilakukan dengan cara yang minim rasa sakit. Guillotin berharap, dengan hukuman mati yang lebih manusiawi akan menjadi langkah awal agar praktik tersebut benar-benar dihapuskan di negaranya.


Guillotin mengajukan RUU ketika Majelis Nasional bersidang dengan agenda reformasi sistem peradilan dan hukum pidana pada 1789. Namun, gagasannya tak mendapat sambutan hangat. Hanya Pasal 1 yang diadopsi, sedangkan sisanya ditunda pembahasannya. Pasal 1 itu berbunyi: “Kejahatan sejenis akan dihukum dengan jenis hukuman yang sama, terlepas dari pangkat atau status pelakunya.”


Setelah pasal pertama dari enam pasal yang sangat berharga baginya disetujui, Dr. Guillotin terus berupaya. Dia menyusun pasal-pasal lainnya terkait terpidana mati. Salah satunya mengenai eksekusi memenggal kepala dengan “alat sederhana”. Guillotin menyatakan bahwa dia mendukung pemenggalan kepala dengan proses mekanis.


Hingga saat itu, hukuman yang mengerikan bergantung pada posisi terpidana dalam hierarki sosial. Pemenggalan kepala dengan pedang, yang dianggap mulia, hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan. Untuk rakyat biasa, para terpidana mati biasanya digantung, dibakar hidup-hidup, ditenggelamkan, dan berbagai metode lain yang mengharuskan mereka merasakan penyiksaan luar biasa saat meregang nyawa.


Gagasan Guillotin sebenarnya bukanlah hal baru. Mesin eksekusi untuk memenggal kepala terpidana mati telah digunakan sejak beberapa abad sebelumnya di Italia, Jerman, Inggris, dan Skotlandia. “Dengan demikian, Dr. Guillotin sama sekali bukan penemu pemenggalan kepala mekanis,” catat Harold J. Morowitz dalam The kindly Dr. Guillotin: and other essays on science and life.


Usulan Guillotin akhirnya diterima dan menjadi undang-undang pada Oktober 1791. Hukuman pancung pun menjadi satu-satunya metode eksekusi mati yang legal di Prancis.


Potret Joseph-Ignace Guillotin. (Wikimedia Commons)
Potret Joseph-Ignace Guillotin. (Wikimedia Commons)

Perancangan dan pembuatan mesin mekanis diserahkan kepada ahli bedah Antoine Louis serta pembuat harpsichord asal Jerman, Tobias Schmidt. Setelah diuji coba pada domba hidup dan jenazah manusia, mesin siap digunakan. Alat ini kemudian dikenal dengan nama guillotine.


“Sejumlah upaya sempat dilakukan untuk memberinya nama Louison, merujuk pada peran M. Louis sang ahli bedah dalam pengembangannya. Tapi epigram tersebut sudah terlalu lekat dengan nama Guillotin, sehingga alat ini tidak pernah populer dengan sebutan lain,” catat majalah Chambers's Edinburgh Journal edisi 6 April 1844.


Setelah penundaan cukup lama, guillotine kali pertama digunakan pada April 1792 terhadap seorang perampok bernama Nicolas Jacques Pelletier. Eksekusi baru ini menarik banyak orang ke Place de Gréve –nama lama untuk alun-alun publik di Paris yang saat ini dikenal sebagai Place de l'Hôtel-de-Ville.


Guillotin sendiri tidak senang dengan penggunaan namanya. Dia tidak pernah hadir dalam eksekusi mati. Dia tidak pernah tahan mendengar nama yang diberikan kepada mesin yang mengerikan itu. Dia memprotes keras. Tapi protesnya tidak pernah didengar. Guillotin menghabiskan sisa hidupnya dalam penyesalan mendalam dan penderitaan batin.


"Momen yang mencatatkan namanya dalam sejarah itu sangat disesali Guillotin hingga akhir hayatnya,” catat Chambers's Edinburgh Journal.


Dalam sejarahnya, guillotine menjadi mesin yang mengambil nyawa ribuan orang, terutama pada masa Reign of Terror (Pemerintahan Teror), periode paling berdarah dalam sejarah Revolusi Prancis. Di antara mereka yang menemui ajal, terdapat Louis XVI (raja terakhir monarki Prancis) dan Marie Antoinette (permaisuri dan istri Louis XVI). Karena mengakibatkan banyak perempuan menjadi janda dan anak-anak menjadi yatim, guillotine dijuluki sebagai “The Widow” atau “Madame la Guillotine”.


Selama masa Reign of Terror, Guillotin sendiri ditangkap dan dipenjara. Setelah dibebaskan, dia melanjutkan kehidupan publik yang aktif dan berkontribusi dalam memulihkan dunia medis Prancis. Ia mendirikan institusi ilmiah Société de Médecine de Paris, memimpin kampanye vaksinasi massal, dan ikut membidani lahirnya sistem klinik kedokteran baru sebagai realisasi ide-ide yang sempat dia ajukan dalam RUU tahun 1791.


Guillotin meninggal dunia pada 1814 di usia 75 tahun. Keluarganya merasa sangat malu karena nama mereka terafiliasi dengan sebuah mesin pembunuh. Keluarga Guillotin lalu membuat petisi agar pemerintah Prancis mengganti nama mesin guillotine. Tapi usaha ini tak membuahkan hasil. Mereka tak punya pilihan lain selain mengubah nama keluarga mereka agar terbebas dari stigma mematikan tersebut.


Mesin guillotine digunakan di Prancis hingga tahun 1977. Orang terakhir yang dieksekusi menggunakan guillotine adalah seorang terdakwa pembunuhan. Pada 1981, pemerintah Prancis resmi menghapus hukuman mati. Hal ini sekaligus menyudahi masa bakti guillotine sebagai instrumen hukum negara setelah berdiri selama 189 tahun.


Meski tak lagi digunakan, guillotine tetap tercatat dalam sejarah sebagai alat eksekusi mati yang membawa teror, baik bagi para terpidana mati maupun mereka yang turut hadir menyaksikan eksekusi mati.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Jambi, a major oil-producing region in Indonesia, proved difficult for the Dutch Parachute and Red Elephant units to capture.
bg-gray.jpg
As one of the seven important inscriptions from the Tarumanagara heritage, the Tugu Inscription mentions the Bekasi River and the Old Cakung River that exist until today.
bg-gray.jpg
Seorang kiai kampung diadili karena dianggap mengingkari syariat. Sebuah kritik atas pembacaan Serat Cebolek.
bg-gray.jpg
Henk Ngantung menjadi satu-satunya gubernur Jakarta yang berasal dari kalangan seniman. Namun, kehidupannya tak seindah guratan pada lukisan dan sketsanya.
Upayanya untuk membuat hukuman mati lebih manusiawi justru menjadikan namanya sinonim dengan mesin jagal yang menjadi ikon salah satu periode paling berdarah dalam sejarah Prancis.
Upayanya untuk membuat hukuman mati lebih manusiawi justru menjadikan namanya sinonim dengan mesin jagal yang menjadi ikon salah satu periode paling berdarah dalam sejarah Prancis.
Chairil Anwar dan kawan-kawan membangun majalah sastra di tengah revolusi kemerdekaan. Setelah itu, penerbitan majalah sastra menggeliat dan beririsan dengan konflik ideologis.
Chairil Anwar dan kawan-kawan membangun majalah sastra di tengah revolusi kemerdekaan. Setelah itu, penerbitan majalah sastra menggeliat dan beririsan dengan konflik ideologis.
Mikel Arteta diusulkan dibikinkan patung seperti Arsène Wenger hingga Herbert Chapman. David Danskin si pendiri justru sekadar dihargai batu nisannya.
Mikel Arteta diusulkan dibikinkan patung seperti Arsène Wenger hingga Herbert Chapman. David Danskin si pendiri justru sekadar dihargai batu nisannya.
Pasang-surut nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS yang mencerminkan kondisi perekonomian tiap-tiap presiden yang menjabat.
Pasang-surut nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS yang mencerminkan kondisi perekonomian tiap-tiap presiden yang menjabat.
Barisan Madoera yang di eksis sebelum tahun 1942 dibubarkan Jepang. Kiprahnya diteruskan Korps Tjakra Madoera.
Barisan Madoera yang di eksis sebelum tahun 1942 dibubarkan Jepang. Kiprahnya diteruskan Korps Tjakra Madoera.
Karena susu sapi mahal dan bergantung pada impor, pemerintah membuat susu alternatif terbuat dari kedelai untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi dan anak-anak.
Karena susu sapi mahal dan bergantung pada impor, pemerintah membuat susu alternatif terbuat dari kedelai untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi dan anak-anak.
transparant.png
bottom of page