- 1 jam yang lalu
- 5 menit membaca
SEJAK tahun 1950, slogan “Empat Sehat Lima Sempurna” yang dipelopori oleh Poorwo Soedarmo selaku ketua Lembaga Makanan Rakyat dikampanyekan secara luas. Konsep tersebut terdiri dari makanan pokok (karbohidrat), lauk-pauk (protein), sayuran, buah-buahan, dan disempurnakan oleh susu. Slogan tersebut masih melekat dalam ingatan masyarakat sebagai simbol pentingnya gizi seimbang.
Namun, pada masa itu, susu tidak mudah diperoleh. Dalam Alamanak Pertanian tahun 1954 dijelaskan, susu tergolong mahal karena bergantung pada impor. Susu encer dalam kaleng dijual Rp4,50 per liter, sedangkan susu peras di Jakarta antara Rp4 hingga Rp5. Harga tersebut membuat masyarakat sulit membeli susu, terlebih produksi susu dalam negeri belum memadai.
Persoalan lain muncul karena keterbatasan sapi perah. Sekalipun jumlah ternak dapat ditambah, ketersediaan pakan masih sangat terbatas. Melihat kondisi tersebut, pemerintah mencari alternatif pengganti susu sapi yaitu kedelai. Lahirah susu nabati bernama Saridele.
Dalam Sejarah Kesehatan Nasional jilid I disebutkan, penyediaan susu tersebut sejalan dengan program pemerintah di bidang kesehatan, seperti higiene lingkungan, kesehatan ibu dan anak, kesehatan sekolah, kesehatan perusahaan, pendidikan kesehatan rakyat, serta perbaikan gizi masyarakat. Program-program itu mendapat dukungan dari WHO, UNICEF, FAO, dan USAID. Bantuan tersebut turut digunakan untuk memberantas penyakit frambusia, malaria, tuberkulosis, kusta, dan penyakit lainnya.
Surat kabar Java Bode, 21 Januari 1955, memberitakan, Indonesia menerima bantuan sebesar US$4.750.000 dari UNICEF untuk mengatasi persoalan kesehatan. Salah satu program unggulannya adalah pembangunan pabrik susu nabati di Yogyakarta. UNICEF bekerja sama dengan FAO menyediakan perlengkapan produksi Saridele yang terbuat dari kedelai dan kacang tanah.
Pembangunan pabrik menjadi langkah penting bagi pemerintah Indonesia untuk mengembangkan industri susu nasional. Sultan Hamengkubuwono IX menyediakan lahan seluas dua hektar di Muja Muju untuk mendirikan pabrik NV Saridele. Yogyakarta dipilih karena wilayah tersebut merupakan sentra penghasil kedelai dan kacang tanah. Selain itu, ada sumber yang menyebut pemilihan Yogyakarta karena dekat dengan daerah rawan kekurangan gizi seperti Gunungkidul.
NV Saridele memiliki target produksi sebesar 593 nutrisi protein per tahun. Namun, proses produksi awal mengalami kendala. Kualitas bahan baku yang belum stabil membuat produksi beberapa kali gagal, sementara Saridele satu-satunya susu lokal yang tersedia. Keterbatasan tenaga ahli juga menjadi tantangan tersendiri. Karena belum tersedia teknisi khusus untuk mengoperasikan mesin pabrik, produksi melibatkan insinyur Angkatan Udara.
Pemimpin pertama NV Saridele adalah Letnan Dua Angkatan Udara Suwadi. Dia sebelumnya bertugas sebagai insinyur di Bandung, tetapi ditarik ke Yogyakarta untuk memimpin pabrik susu. UNICEF memberikan bantuan mesin pengolah susu, sedangkan FAO melatih tenaga ahli pangan. Bantuan pinjaman mesin dari UNICEF harus dikembalikan dalam bentuk 150 ribu kaleng susu yang akan didistribusikan kepada masyarakat selama lima tahun pertama produksi Saridele.

Produk Saridele kemudian diuji selama enam bulan. Dalam Kabinet Karya: Menjelang Dua Tahun Kabinet Karya terbitan Kementerian Penerangan tahun 2002 disebutkan Inspeksi Kesehatan Jawa Timur menerima sebagian besar produksi Saridele untuk dibagikan kepada anak-anak sekolah dan berbagai bagian dari Dinas Kesehatan Provinsi. Distribusi tersebut masih bersifat penelitian karena beberapa wilayah masih terancam bahaya kelaparan.
NV Saridele kemudian berkembang menjadi produsen susu bayi. Pabrik Saridele inilah cikal bakal pabrik susu bayi SGM yang dikenal luas di Indonesia. Tahun 1962, NV Saridele dinasionalisasi menjadi PN Sari Husada berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 83 Tahun 1961 tentang pendirian Perusahaan Negara “SARI HUSADA” yang diundangkan pada 17 April 1961 dengan modal awal sebesar Rp35 juta.
Perubahan besar terjadi ketika UNICEF membantu pengembangan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) melalui pembagian susu skim. Dalam Perjuangan dan Pengabdian Mosaik Kenangan Prof. Dr. Satrio, Menteri Kesehatan Prof. Dr. Satrio atas nama dokter ahli anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menugaskan PN Sari Husada membuat susu bayi bernama SGM, singkatan dari “Susu, Gula, Minyak”. Susu ini dibuat dari bubuk skim yang dicampur gula, lemak nabati, vitamin, dan mineral.
SGM diuji kepada pasien bayi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta dan mendapat respons baik dari masyarakat. Dalam Angkasa terbitan Dinas Penerbangan TNI AU tahun 1965 disebutkan Prof. Te Bek Siang bersama dokter-dokter bagian anak RSCM menguji susu bubuk SGM pada bayi selama sepuluh bulan dengan hasil yang sangat memuaskan. Bahkan, dalam majalah Ekonomi, Keuangan dan Bank bagian II edisi 1–10 tahun 1965 disebutkan 1.025 bayi menjadi bukti keberhasilan penelitian penggunaan susu SGM di RSCM Jakarta.
Pada 1965, PN Sari Husada secara resmi ditugaskan memproduksi susu bubuk khusus bayi bernama SGM. Langkah ini dilakukan karena sebelumnya kebutuhan susu bayi masih bergantung pada produk impor seperti Camelpo dan Eledon. Namun, tantangan ekonomi kembali muncul ketika Undang-undang Nomor 2 Tahun 1965 menetapkan pajak penjualan sebesar 20% terhadap produksi susu bayi. Pemerintah kemudian menganggap susu bayi memiliki fungsi medis sehingga layak digolongkan sebagai obat-obatan dan memperoleh keringanan pajak.
Arsip Inventaris Ekuin tanggal 30 Agustus 1966 menunjukkan PN Sari Husada menghadapi tekanan ekonomi yang berat akibat tambahan Pajak Penjualan sebesar 400%. Dalam surat kepada Direktorat Pajak Tidak Langsung, perusahaan menjelaskan bahwa beban pajak tersebut mengancam keberlangsungan produksi susu bayi SGM meskipun sebelumnya pemerintah telah menurunkan pajak penjualan dari 20% menjadi 10% demi menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.

Permohonan tersebut direspons pemerintah. Arsip Inventaris Ekuin tanggal 27 September 1966 menunjukkan bahwa Departemen Kesehatan meminta pembebasan Pajak Penjualan untuk susu bayi SGM kepada Menteri Keuangan. Pemerintah menilai susu bayi memiliki fungsi medis dan sangat penting bagi pemenuhan gizi masyarakat. Produksi SGM juga sebagai langkah menuju kemandirian industri susu nasional agar tidak bergantung pada produk impor.
Sebulan kemudian, arsip Inventaris Ekuin tanggal 4 Oktober 1966 memperlihatkan langkah pemerintah dalam memanfaatkan bantuan luar negeri untuk mendukung produksi susu bayi. Pemerintah Inggris memberikan bantuan penanganan bencana alam, yang sebagian dialokasikan untuk pembelian susu bayi. Akan tetapi, karena harga susu impor jadi mahal, pemerintah mengimpor skim milk dari Hongkong untuk diolah PN Sari Husada menjadi susu bayi SGM. Kebijakan tersebut agar harga susu terjangkau dan menjangkau masyarakat luas.
Perkembangan PN Sari Husada terus mengalami perubahan. Tahun 1968, perusahaan ini di bawah PT Kimia Farma sebagai BUMN. Pada 1972, Kimia Farma melakukan joint venture dengan PT Tiga Raksa. Kemudian pada 1983, Sari Husada melakukan IPO di Bursa Efek Jakarta. Pada 1992, PT Tiga Raksa menjadi pemegang saham mayoritas perusahaan.
Perjalanan perusahaan berlanjut hingga memasuki pasar internasional. Pada 1998, Sari Husada menjalin aliansi dengan Nutricia International BV (Royal Numico NV). Setelah Danone Group mengakuisisi Royal Numico pada 2008, Danone menjadi pemegang saham mayoritas Sari Husada. Hingga kini, Sari Husada terus memproduksi berbagai produk nutrisi untuk ibu dan anak dari pabriknya di Yogyakarta dan Klaten, Jawa Tengah, dengan dukungan riset internasional dari Danone Research Center di Belanda, Singapura, dan Indonesia.
Sejarah Saridele hingga SGM menunjukkan perkembangan industri susu di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan bisnis pangan, tetapi juga erat dengan upaya pemenuhan gizi nasional. Dari upaya mengganti susu sapi dengan kedelai, bantuan internasional, hingga lahirnya susu bayi SGM, seluruh proses tersebut menjadi bagian penting dari sejarah kesehatan masyarakat Indonesia.*




_edited.jpg)














Komentar