- 24 Mei
- 5 menit membaca
SEJAK tahun 1950, slogan “Empat Sehat Lima Sempurna” yang dipelopori oleh Poorwo Soedarmo selaku ketua Lembaga Makanan Rakyat dikampanyekan secara luas. Konsep tersebut terdiri dari makanan pokok (karbohidrat), lauk-pauk (protein), sayuran, buah-buahan, dan disempurnakan oleh susu. Slogan tersebut masih melekat dalam ingatan masyarakat sebagai simbol pentingnya gizi seimbang.
Namun, pada masa itu, susu tidak mudah diperoleh. Dalam Alamanak Pertanian tahun 1954 dijelaskan, susu tergolong mahal karena bergantung pada impor. Susu encer dalam kaleng dijual Rp4,50 per liter, sedangkan susu peras di Jakarta antara Rp4 hingga Rp5. Harga tersebut membuat masyarakat sulit membeli susu, terlebih produksi susu dalam negeri belum memadai.
Persoalan lain muncul karena keterbatasan sapi perah. Sekalipun jumlah ternak dapat ditambah, ketersediaan pakan masih sangat terbatas. Melihat kondisi tersebut, pemerintah mencari alternatif pengganti susu sapi yaitu kedelai. Lahirah susu nabati bernama Saridele.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.




_edited.jpg)













