- 12 Mar
- 3 menit membaca
SETELAH lulus dari Koninklijke Militaire Academie atau Akademi Militer Kerajaan Belanda di Breda, Hidayat Martaatmadja diangkat menjadi Letnan KNIL dan ditempatkan di Cimahi. Namun, pekerjaan sebagai tentara KNIL mengguncang hati dan pikirannya. Matanya terbuka bahwa selama ini rakyat sebangsanya dieksploitasi oleh pemerintah kolonial Belanda.
“Sekembalinya [dari Belanda], ia melihat kehidupan masyarakat jajahan di sekitarnya yang ‘aneh’ dan membuatnya berpikir, sehingga lama-kelamaan membuat ayah diserang depresi,” kata Dewi A. Rais Abin, putri Hidayat, dalam Hidayat: Father, Friend, and a Gentleman.
Dewi menyebut ayahnya pernah ditegur oleh seorang atasan ketika naik dokar menuju kediaman kakaknya di Batavia. Pria kelahiran Cianjur, 26 Mei 1915 itu menaiki dokar dengan mengenakan seragam opsir KNIL. Menurut atasannya tindakan itu tidak terpuji karena sebagai opsir KNIL sudah gelijksteld atau setara dengan opsir Belanda.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















