top of page

Dari Kamp Nazi ke TNI

Donald Willem Poetiray pernah menjadi tawanan kamp konsentrasi Nazi. Kembali ke Indonesia pada masa revolusi.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Mayor TNI Donald Poetiray, Komandan Batalyon 325 di Jawa Barat. (Dok. Herman Keppy).

13 Okt 2022
4 menit membaca

Diperbarui: 22 Mar

SETELAH tentara Belanda memasuki Jawa Timur, sebuah pasukan ditempatkan di daerah Kraksaan, Probolinggo. Komandannya seorang perwira Koninklijk Landmacht (KL) atau Angkatan Darat Kerajaan Belanda. Perwira itu seorang berdarah Indonesia, Letnan Donald Willem Poetiray (1922–2005). Umurnya belum menginjak 30 tahun ketika bertugas di sana.


Suatu kali, bagian intelijen keamanan menyampaikan pesan untuk Donald. Isinya seorang kerabat ingin bertemu. Kerabat itu tidak berada di pihak Belanda, tapi di pihak Republik Indonesia bernama Letnan TNI Kotis Anakotta.


“Dia memeluk saya, tidak ada pembicaraan tentang nasionalisme, hanya ada banyak orang Ambon di sisinya, juga Poetiray lainnya. Jadi saya diingatkan oleh lawan saya tentang hubungan keluarga saya dengan Maluku,” kata Donald seperti dicatat Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit: De Indonesische officieren uit het KNIL 1900–1950.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page