top of page

Sepenggal Kisah dari Kolonel Hidajat Martaatmadja

Berjuang di tengah rimba raya Sumatra, sang kolonel meninggalkan anak dan isteri di daerah pendudukan Belanda.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kolonel Hidajat Martaatmadja saat akan memulai perundingan dengan militer Belanda di Tasikmalaya. (Arsip Nasional Belanda).

  • 20 Okt 2020
  • 4 menit membaca

Diperbarui: 26 Mei

BUKITTINGGI, 19 Desember 1948. Hawa dingin masih membekap pagi, ketika Mayor Chairun Basri, Kepala Intelijen Panglima Komandemen Sumatra, mendengar suara ketukan. Begitu pintu dibuka, nampaklah Kapten Islam Salim, ajudan Panglima Teritorium Sumatra Kolonel Hidajat Martaatmadja. Setelah memberi hormat, dia menyampaikan pesan Hidajat supaya Chairun cepat datang menemui sang kolonel di markas besar. Ada rapat penting terkait rencana penyerbuan Belanda ke seluruh wilayah di Indonesia.


Singkat cerita bertemulah mereka bertiga dengan staf lainnya di kantin markas. Baru saja rapat dibuka Kolonel Hidajat, tetiba terdengar raungan suara pesawat tempur musuh di langit Bukittinggi.Raungan bak suara ribuan tawon itu kemudian diikuti ledakan bom dan rentetan senjata otomatis. Markas Komandemen Sumatra dan Markas Komando Sumatra Barat yang posisinya berdampingan seketika porak poranda.


Tak ada yang bisa dilakukan oleh Kolonel Hidajat dan anak buahnya kecuali bertiarap di lobang-lobang perlindungan yang memang sudah tersedia sekitar markas. Ketika sebuah bom jatuh menimpa sebuah lubang perlindungan, baru saja Mayor Chairun meninggalkannya.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
transparant.png
bottom of page