- 20 Okt 2020
- 4 menit membaca
Diperbarui: 2 jam yang lalu
BUKITTINGGI, 19 Desember 1948. Hawa dingin masih membekap pagi, ketika Mayor Chairun Basri, Kepala Intelijen Panglima Komandemen Sumatra, mendengar suara ketukan. Begitu pintu dibuka, nampaklah Kapten Islam Salim, ajudan Panglima Teritorium Sumatra Kolonel Hidajat Martaatmadja. Setelah memberi hormat, dia menyampaikan pesan Hidajat supaya Chairun cepat datang menemui sang kolonel di markas besar. Ada rapat penting terkait rencana penyerbuan Belanda ke seluruh wilayah di Indonesia.
Singkat cerita bertemulah mereka bertiga dengan staf lainnya di kantin markas. Baru saja rapat dibuka Kolonel Hidajat, tetiba terdengar raungan suara pesawat tempur musuh di langit Bukittinggi.Raungan bak suara ribuan tawon itu kemudian diikuti ledakan bom dan rentetan senjata otomatis. Markas Komandemen Sumatra dan Markas Komando Sumatra Barat yang posisinya berdampingan seketika porak poranda.
Tak ada yang bisa dilakukan oleh Kolonel Hidajat dan anak buahnya kecuali bertiarap di lobang-lobang perlindungan yang memang sudah tersedia sekitar markas. Ketika sebuah bom jatuh menimpa sebuah lubang perlindungan, baru saja Mayor Chairun meninggalkannya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















