- 1 jam yang lalu
- 4 menit membaca
SETIAP orang ingin kaya apalagi orang miskin yang sudah lelah dengan kemiskinan. Keinginan menjadi kaya mendorong orang untuk bekerja, menabung, hingga berinvestasi. Sayangnya, impian itu sulit terwujud bila masyarakat harus menghadapi krisis ekonomi. Alih-alih menjadi kaya, masyarakat justru terancam PHK dan inflasi membuat hidup semakin berat.
Dalam situasi krisis ekonomi banyak orang hidup dalam kondisi bertahan atau survival mode. Ketika upah tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka memangkas pengeluaran yang tidak perlu. Mereka tak bisa menabung atau berinvestasi, sehingga impian hidup mapan semakin sukar untuk digapai.
Di tengah ketidakpastian dan ketakutan akan nasib di masa depan, sebuah permainan memberikan kesempatan bagi para pemainnya untuk merasakan sensasi menjadi orang kaya. Permainan itu adalah monopoli yang digandrungi masyarakat Amerika Serikat ketika menghadapi Depresi Besar tahun 1929 hingga 1930-an.
Stephen Feinstein dalam The 1930s: From the Great Depression to the Wizard of Oz menulis, banyak warga Amerika yang harapan dan impiannya hancur akibat Depresi Besar. Sementara yang lainnya terpaksa hidup dengan menurunkan standar harapan mereka demi tetap bisa bertahan di tengah krisis yang tidak pasti.
“Dengan kondisi seperti ini, tak heran jika banyak orang terpikat oleh permainan monopoli yang mendapatkan popularitas luar biasa meski krisis ekonomi tengah melanda masyarakat. Para pemain bisa, sejenak, menjadi kaya melebihi impian terlihat mereka –setidaknya dalam imajinasi mereka sendiri,” tulis Feinstein.
Besarnya minat terhadap monopoli tidak hanya karena pemainnya bisa berfantasi menjadi kaya. Mereka juga dapat melupakan kekhawatiran dan ketakutan akan masa depan untuk sementara waktu karena permainan ini berlangsung lama sehingga waktu cepat berlalu.
Menurut Lawrence R. Samuel dalam The American Dream: A Cultural History, permainan ini menjadi lebih menarik karena membuat para pemain berusaha membangkrutkan pemain lain dalam perburuan properti di berbagai kotak yang disediakan. Hal ini seakan menjadi interpretasi dari American Dream, yang tak jarang dikaitkan dengan konsep seleksi alam. Mereka yang mampu beradaptasi akan bertahan, sedangkan yang tidak mampu akan punah.
“Para pemain memulai dari posisi yang sama di monopoli, dan para pemain menikmati gagasan ‘siapa yang menang, dia yang mendapat semuanya’. Dengan berbagai aturan bermain yang ditulis sebanyak empat halaman, membutuhkan waktu berjam-jam untuk memainkannya. Monopoli menjadi hit yang tak terduga, terutama selama Depresi Besar,” tulis Samuel.
Kesuksesan monopoli yang dipasarkan perusahaan permainan Parker Brothers menarik perhatian banyak orang. Di tengah banyak orang menahan diri untuk tidak membeli barang-barang tak perlu, penjualan monopoli justru fantastis. Dalam waktu 18 bulan sejak permainan ini dipasarkan, lebih dari dua juta eksemplar monopoli telah terjual.
Mary Pilon menulis dalam “How the Great Depression Became a Golden Age for Board Games” di History.com, 28 Mei 2025, kesuksesan monopoli menjadi gambaran popularitas board game di kalangan penduduk Amerika selama Depresi Besar. Dijual dengan harga terjangkau, monopoli menjadi permainan yang banyak dimainkan keluarga di Amerika, tidak hanya oleh anak-anak tetapi juga orang dewasa.
Pilon menyebut board game tetap menjadi titik terang di tengah resesi ekonomi, yang biasanya menjadi masa suram bagi peritel, karena dijual dengan harga relatif murah, dapat dimainkan berkali-kali, dan menghibur berbagai usia. “Satu papan monopoli dapat menghibur sebuah keluarga selama berhari-hari, sebuah keuntungan mengingat banyak keluarga memperketat anggaran pengeluaran mereka di masa itu,” tulisnya.
Popularitas monopoli di masa Depresi Besar karena masyarakat Amerika banyak yang menjadi korban PHK massal, sehingga mereka lebih banyak tinggal di rumah. Dengan meningkatnya pengangguran dan kondisi keuangan terpuruk, orang-orang tidak memiliki uang untuk pergi ke bioskop atau mencari hiburan di luar rumah. Untuk mencegah rasa bosan selama di rumah, monopoli menjadi solusi.
Pilon menyebut monopoli tidak hanya menyediakan hiburan murah, tetapi juga menawarkan obat penenang psikologis, di mana permainan tersebut memberikan para pemainnya “perasaan menjadi orang kaya”.
“Namun, yang membuat permainan ini tetap populer adalah peluang untuk meraih keuntungan pribadi. Sebab, monopoli mendorong munculnya kompetisi untuk mengalahkan orang lain. Orang-orang juga bisa bermain monopoli tanpa merasa itu adalah akhir dari dunia. Semacam pelepasan dari ketegangan kehidupan sehari-hari,” jelas Pilon.
Meningkatnya popularitas monopoli memicu kontroversi siapakah pencipta permainan tersebut. Ketika monopoli menjadi permainan yang paling diminati masyarakat Amerika, keuntungan tidak hanya dirasakan Parker Brothers, yang selamat dari kebangkrutan setelah membeli hak penjualan monopoli, tetapi juga mengubah hidup Charles Darrow.
Darrow terdampak krisis ekonomi sehingga kehilangan pekerjaan. Dia harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Di tengah himpitan ekonomi dia mengembangkan versi baru dari permainan yang kemudian dinamai monopoli. Dia menawarkan hak penjualan permainan itu kepada Parker Brothers pada 1935. Tingginya penjualan monopoli mengubah hidup Darrow, dari pengangguran menjadi jutawan.
Namun, menurut Jennifer Scanlon dalam “Board Game”, termuat di The Guide to United States Popular Culture, kemunculan monopoli sesungguhnya tidak berawal dari Charles Darrow, tetapi dari Elizabeth Magie Phillips. Di awal tahun 1900-an, wanita itu menciptakan dan mematenkan permainan bernama The Landlord’s Game.
Phillips yang merupakan pendukung Henry George, tokoh yang memopulerkan teori pajak tunggal di abad ke-19, merancang permainan tersebut untuk mempromosikan gagasannya yang menganggap hanya properti real estate yang seharusnya dikenai pajak.
“Phillips mengenalkan Landlord’s Game kepada George Parker dari Parker Brothers, namun Parker menilai permaianan itu terlalu politis untuk dijual secara luas kepada masyarakat. Phillips kemudian menjual Landlord’s Game secara mandiri, permainan ini menjadi sangat populer di berbagai universitas,” tulis Scanlon.
Melalui permainan itu, Phillips ingin menunjukkan bahwa sewa yang berlebihan hanya menguntungkan pemilik properti yang serakah dan merugikan penyewa. Wanita aktivis itu hendak menyindir keserakahan korporasi Amerika.
Menurut Cynthia R. Comacchio dan Neil Sutherland dalam Ring Around the Maple: A Sociocultural History of Children and Childhoods in Canada, 19th and 20th Centuries, kesan itu lambat laun berubah seiring dengan penyebaran The Landlord’s Game di berbagai wilayah Amerika.
“Permainan yang telah berganti merek [menjadi monopoli] ini merupakan kebalikan total dari niat Magie untuk menyindir keserakahan korporasi Amerika; pesannya berubah menjadi ‘cepat kaya’, tentu saja [hanya] mimpi di era Depresi Besar,” tulis Comacchio dan Sutherland.*



















Komentar