top of page

Kawan Westerling Tewas di Pati

Bekas komandan pasukan khusus Belanda yang berkawan dengan Westerling ini sedang ikut serta dalam Agresi Militer Belanda II ketika tertembak dadanya.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 41 menit yang lalu
  • 4 menit membaca

TAK hanya ke ibukota RI Yogyakarta, pada 19 Desember 1948 tentara Belanda bergerak ke daerah-daerah lain Republik Indonesia. Salah satunya Keresidenan Pati. Blora, daerah tertimur di Keresidenan Pati, berhasil ditembus pada 20 Desember 1948.

 

Di Pati, yang setelah penumpasan PKI dipimpin oleh Residen Milono, para pegawai sipil melarikan diri dari tentara Belanda ke tempat aman di bagian selatan. Di sana, pasukan Republik yang tak mampu membendung tentara Belanda, bergerilya.

 

Ke sanalah Kapten Willem Jan Scheepens (1907-1949) ikut bergerak untuk menumpas gerilya Republik Indonesia. Meskipun Pati belum pernah dijamahnya sebelum itu, Jan Scheepens punya jam terbang tinggi dalam bertempur.

 

Jan Scheepens merupakan pria kelahiran Nijmegen, Belanda pada 13 Mei 1907 dari pasangan Letnan Kolonel Wilhelm Bernhard Johann Antoon Scheepens (1868-1913) dan Rosalia Helena Halwijn. Ayah Jan merupakan serdadu tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) yang berpengaruh di Aceh.

 

Ketika Jan berusia enam tahun, ayahnya pergi meninggalkan dia dan ibunya untuk selamanya. Kepergian itu terjadi tanpa diduga. Suatu hari, ayahnya bersantai dengan ibunya yang sedang hamil. Tak dinyana, seorang Aceh tiba-tiba mendatangi mereka. Tusukan rencong  orang Aceh itu lalu merenggut nyawa Wilhelm BJA Scheepens.

 

Jan Scheepens lalu meneruskan tradisi keluarganya, menjadi kadet pada 1928. Menurut  Studbook-nya, dia bertugas di Resimen Granedier sebelum meneruskan tradisi keluarganya  masuk Akademi Militer Breda. Setelah lulus dari akademi pada akhir 1931, dia naik kapal MV Marnix van Sint Aldegonde ke Batavia untuk menjalankan tugas menjadi perwira di Hindia Belanda.

 

Pria kelahiran Nijmagen, Negeri Belanda, 13 Mei 1907 ini, adalah putra dari Letnan Kolonel Wilhelm Bernhard Johann Antoon Scheepens (1868-1913) dan Rosalia Helena Halwijn. Ayahnya terbunuh pada 1913 oleh rencong orang Aceh, ketika bersantai dengan ibunya yang sedang hamil. Ayahnya termasuk perwira tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) yang berpengaruh di Aceh.

 

Daerah demi daerah di Hindia Belanda lalu disambanginya seiring tugas memanggilnya selama berada di Hindia Belanda hingga 1942. Letnan Scheepens pernah menyusuri sisi utara Pegunungan Bukit Barisan. Namun, begitu militer Jepang menduduki Nusantara, dia berlayar ke Srilangka demi menghindari penangkapan.

 

Di Srilangka, bersama Mayor Fritz Mollinger, Kapten HGC Pel, dan Letnan Henri Emile Wijnmalen, Jan Scheepens membangun pasukan khusus. Koran NRC Handelsblad tanggal 25 Oktober 1986 menyebut, mula-mula hanya terdapat 38 orang di dalam pasukan khusus itu. Rinciannya: 8 perwira, 12 sersan, dan 18 kopral.

 

Satuan tersebut berkali-kali menyusup ke Sumatra. Pada Mei 1942, misi mereka di bawah Wijnmalen gagal. Namun, itu tak menghentikan operasi mereka. Setidaknya, satuan itu telah 13 kali mendarat dalam 8 operasi militer khusus di Sumatra selama kurun waktu Desember 1942 hingga Agustus 1945. Leeuwarder Courant edisi 21 Oktober 1986 memberitakan, Kapten Scheepens bersama Letnan Sisselaar ikut menyusup ke Sumatra untuk memantau Jepang dengan bantuan orang-orang Indonesia. Mereka mencari tahu tempat pendaratan bagi militer Sekutu yang akan lebih banyak lagi masuk ke Sumatra yang sedang diduduki Jepang.

 

Belakangan, jumlah anggota satuan itu bertambah. Pemerintah Belanda di pengasingan pun memberi perhatian khusus.

 

“Penaklukan Jawa oleh Jepang berarti detasemen tersebut tidak dapat melangkah lebih jauh dari Ceylon, di mana Pemerintah Belanda memutuskan bahwa para prajurit tersebut harus menjalani pelatihan komando untuk mendukung operasi gerilya Operasi Khusus Belanda (NSO) melawan Hindia Belanda yang diduduki,” tulis Nicholas van der Bijl dalam Commandos in Exile: The Story of 10 (Inter-Allied) Commando, 1942-1945.

 

Pada 1 Agustus 1942, pasukan komando itu resmi didirikan dengan nama Korps Insulinde. Mereka berpangkalan di Kamp D, di pinggiran Desa Laksapitiya, 20 km selatan Colombo.

 

“Pada 1 Agustus, NSO berganti nama menjadi Korps Insulinde dan pindah ke sebuah kamp di Laksapatiya, selatan Kolombo, tempat mereka berlatih di daerah rawa, bukit kecil, dan danau yang tidak jauh berbeda dengan Achnacarry, kecuali bahwa itu adalah hutan tropis,” sambung Nicholas.

 

Korps Insulinde melakukan operasi pertamanya di pantai barat Sumatera Utara pada 16 Desember. Sebanyak 11 pasukan komando yang dipimpin Mayor Mollinger didaratkan menggunakan kapal selam Belanda O-24 untuk mengumpulkan informasi dari kepala desa loyalis di Troemon. Namun, loyalis yang dicari ternyata telah digantikan oleh kolaborator Jepang.

 

Scheepens yang pada pertengahan 1945 sudah naik pangkat menjadi kapten lalu dipercaya memimpin Korps Insulinde. Namun, kepemimpinan itu tidak berlangsung lama. Pada Oktober 1945, Korps Insulinde dibubarkan. Anggotanya kemudian bergabung dengan School Opleiding Parachutisten (SOP) atau sekolah pasukan payung. Kemudian, dibentuklah Depot Speciale Troepen (DST).

 

Di masa membangun DST, Kapten Scheepens berkenalan dengan Letnan

Raymond Paul Pierre Westerling yang usianya lebih muda darinya. Westerling pernah dilatih menjadi pasukan komando di Inggris. Dia kemudian untuk sementara waktu menggantikan Scheepens yang terluka.

 

Di masa Westerling yang cukup disegani bawahannya, pasukan itu berkembang. Pasukan payung dan DST lalu bersatu dalam Korps Speciale Troepen (KST). Waktu Agresi Militer Belanda II, pasukan itu merebut Yogyakarta.

 

Namun, militer Belanda tak hanya bergerak ke Yogyakarta waktu Agresi Militer II. Semua daerah Republik Indonesia diupayakan untuk direbut, termasuk Keresidenan Pati. Di sana, gerilya pasukan Republik yang amat mengganggu Belanda berlangsung hingga awal 1949. Maka tentara Belanda terus berupaya melakukan pembersihan di Keresidenan Pati.

 

Kendati gerak-maju pasukan Belanda tak mampu dibendung, kombatan Republik begitu nekat dalam melakukan perlawanan. Buku Republik Indonesia: Propinsi Djawa Timur menyebutkan, para gerilyawan Indonesia dengan hanya bermodal senapan mesin ringan macam Sten Gun pada sore hari berani menembaki perwira-perwira Belanda yang sedang bersantai atau berpesta dari jarak dekat.

 

Kondisi Pati yang mengerikan itulah yang menjadi tempat penugasan baru bagi Kapten Jan Scheepens. Tak dinyana, tempat itulah yang jadi daerah terakhir yang dia injak dalam hidupnya. Arsip OGS menyebut, pada 3 Januari 1949 Jan Scheepens tertembak peluru dum-dum –adalah peluru yang bagian ujungnya dilebarkan hingga berdaya hancur lebih besar–  dan akhirnya tewas. Setelah menembus dadanya, peluru dum-dum mengenai jantung Jan Scheepens. Suami Antoinette Henriette Blume itu jasadnya kemudian dimakamkan di Semarang.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Henk Ngantung menjadi satu-satunya gubernur Jakarta yang berasal dari kalangan seniman. Namun, kehidupannya tak seindah guratan pada lukisan dan sketsanya.
bg-gray.jpg
In addition to the epigraphs found on the seven inscriptions, historical sources regarding Tarumanagara also come from statues and temples at two archaeological sites.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah lahir dari keluarga menak terpandang. Memilih jalan perjuangan.
bg-gray.jpg
Pernah dicampakkan dan ditipu intel Jepang, Shamsiah Fakeh lantang menyuarakan emansipasi perempuan. Dituduh bunuh anak sendiri saat gerilya di hutan.
Bekas komandan pasukan khusus Belanda yang berkawan dengan Westerling ini sedang ikut serta dalam Agresi Militer Belanda II ketika tertembak dadanya.
Bekas komandan pasukan khusus Belanda yang berkawan dengan Westerling ini sedang ikut serta dalam Agresi Militer Belanda II ketika tertembak dadanya.
Museum swasta lebih berperan dalam menopang perkembangan seni rupa. Sementara museum pemerintah masih berkutat dengan administrasi dan birokrasi.
Museum swasta lebih berperan dalam menopang perkembangan seni rupa. Sementara museum pemerintah masih berkutat dengan administrasi dan birokrasi.
Fenomena Lipstick Effect muncul ketika krisis ekonomi. Perempuan membeli kosmetik untuk memanjakan diri sebagai mekanisme psikologis mengatasi tekanan.
Fenomena Lipstick Effect muncul ketika krisis ekonomi. Perempuan membeli kosmetik untuk memanjakan diri sebagai mekanisme psikologis mengatasi tekanan.
Beragam faktor, terutama perubahan birokrasi dan pertanian paksa, menyengsarakan rakyat sejak era kolonial hingga Jepang. Memicu konflik antara penduduk dengan penguasa. Kebanyakan dipimpin tokoh agama.
Beragam faktor, terutama perubahan birokrasi dan pertanian paksa, menyengsarakan rakyat sejak era kolonial hingga Jepang. Memicu konflik antara penduduk dengan penguasa. Kebanyakan dipimpin tokoh agama.
Demi jaga hak, sejarah, asal-usul, dan adat-istiadat suku Muyu bagi generasi-generasi penerusnya, kepala adat marga Kimko di suku Muyu gelar tradisi pesta babi sebagai bentuk perlawanan.
Demi jaga hak, sejarah, asal-usul, dan adat-istiadat suku Muyu bagi generasi-generasi penerusnya, kepala adat marga Kimko di suku Muyu gelar tradisi pesta babi sebagai bentuk perlawanan.
Pernah ada masalah dengan pejuang seberang, Soeharto lama tidak memberi tempat orang-orang Sulawesi dalam posisi kunci militer. Jenderal M. Jusuf pengecualian.
Pernah ada masalah dengan pejuang seberang, Soeharto lama tidak memberi tempat orang-orang Sulawesi dalam posisi kunci militer. Jenderal M. Jusuf pengecualian.
transparant.png
bottom of page