top of page

Sketsa Kehidupan Henk Ngantung

Henk Ngantung menjadi satu-satunya gubernur Jakarta yang berasal dari kalangan seniman. Namun, kehidupannya tak seindah guratan pada lukisan dan sketsanya.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 1 jam yang lalu
  • 7 menit membaca

SKETSA lelaki paruh baya terpajang di ruang pameran Museum Naskah Proklamasi (Munasprok) di Jalan Imam Bonjol No. 1, Menteng, Jakarta Pusat. Informasi pada sketsa menerangkan sosok pria tersebut: Hendrik “Henk” Hermanus Joel Ngantung atau lebih dikenal dengan Henk Ngantung. Yang menarik, sketsa itu dilukis oleh Henk sendiri.

Edukator Munasprok, Paskasius Fajar Sunandar menyebut sketsa diri itu merupakan potret Henk saat berusia 55 tahun. Henk mengerjakan sketsanya dengan cara bercermin sambil menggambar secara langsung. Pada sketsa ini tampak goresan garis ekspresif yang membentuk wajah Henk Ngantung mengenakan kacamata hitam. Bila Henk kelahiran 1921, maka sketsa tersebut bertitimangsa 1976.

Sketsa potret Henk Ngantung menjadi salah satu koleksi yang disimpan oleh keluarga. Sebagian telah dijual atau dihibahkan ke Museum Seni Rupa Keramik. Selain dikenal sebagai seniman, Henk Ngantung adalah gubernur Jakarta periode 1964–1965, sekaligus gubernur Jakarta satu-satunya yang berlatar belakang seniman. Dia termasuk seniman yang dekat dengan Presiden Sukarno, sehingga hidupnya memprihatinkan setelah peristiwa G30S 1965. 

“Ketika beliau jadi gubernur itu rentang waktunya sangat singkat. Dia hanya menjabat setahun, tetapi kebaikan-kebaikan atau peran kontribusi dia yang banyak sebelum itu [di]hilang[kan],” kata Fajar kepada Historia.ID


Sketsa potret diri Henk Ngantung yang dilukisa sendiri oleh Henk Ngantung pada 1976. (Martin Sitompul/Historia.ID).
Sketsa potret diri Henk Ngantung yang dilukisa sendiri oleh Henk Ngantung pada 1976. (Martin Sitompul/Historia.ID).

Berkawan dengan Jan

Henk Ngantung lahir di Bogor pada 1 Maret 1921. Ayah dan ibunya berasal dari Tomohon, Sulawesi Utara. Sejak kecil, Henk senang melukis. Bakatnya mengalir secara otodidak. Dia tak pernah mengecap ilmu seni rupa di bangku sekolah. Pendidikan terakhirnya setingkat sekolah dasar di masa kolonial Hindia Belanda. 

“Dia tidak sekolah seni. Dia otodidak. Dari pergaulannya dengan seniman-seniman saat itu, akhirnya dia banyak belajar. Makanya dia sering ikut ekshibisi-ekshibisi,” jelas Fajar. 

Dalam berbagai lukisan maupun sketsa, menurut Fajar, Henk Ngantung banyak mengangkat sosok orang biasa yang menjadi ciri khas karyanya. Entah itu petani, rakyat jelata, hingga serdadu tanpa nama. Henk tampak ingin menampilkan kesederhanaan dari setiap objek lukisannya.

“Jadi, tidak selalu yang diceritakan dalam lukisannya itu hanya orang-orang penting,” kata Fajar. “Ada juga orang-orang yang dalam sejarah kita mengenalnya ada di garda depan, tapi tidak pernah terekspos.”


Edukator Museum Naskah Proklamasi (Munasprok) Paskasius Fajar Sunandar menerangkan sketsa Henk Ngantung dalam Perundingan Linggarjati dalam pameran "Henk Ngantung: Seni dan Diplomasi". (Martin Sitompul/Historia.ID).
Edukator Museum Naskah Proklamasi (Munasprok) Paskasius Fajar Sunandar menerangkan sketsa Henk Ngantung dalam Perundingan Linggarjati dalam pameran "Henk Ngantung: Seni dan Diplomasi". (Martin Sitompul/Historia.ID).

Henk menggelar pameran perdana di Manado ketika berusia 15 tahun. Dia menjajakan lukisannya dari rumah ke rumah. Henk dibantu kawannya bernama Jan yang dikenal sebagai pemuda berengsek dan hidupnya tak keruan.

Jan membawa Henk berkeliling kota, mengantarnya kemana-mana naik bemo. Henk yang semula ragu kemudian tergugah. Perkawanan dengan Jan membuka matanya bahwa banyak orang kecil yang berhati baik. Pengalaman itu pula yang membuatnya tertarik pada rakyat kecil. Tema penderitaan kaum marjinal inilah yang selalu diangkat Henk dalam lukisannya. 

“Barangkali Jan sudah tiada. Tapi saya tidak bisa melupakannya,” ujar Henk seperti dikutip Kompas, 21 Januari 1979.

Pada 1937, Henk merantau ke Bandung. Di kota kembang itu, dia berguru kepada Prof. Rudolf Wenghart, pelukis potret terkenal asal Wina. Henk juga berkarib dengan Neumann, kolektor barang antik dan benda-benda seni. Di rumahnya kerap berlangsung pertemuan seniman-seniman Eropa, tempat Henk menimba ilmu. 


Henk Ngantung sedang melukis. (Tropen Museum).
Henk Ngantung sedang melukis. (Tropen Museum).

Henk kemudian berkenalan dengan Affandi, yang telah menjadi pelukis profesional, berkat dorongan Syafei Sumarja, seorang pendidik seni rupa. Henk cukup aktif melukis selama menetap di Bandung. Lukisan-lukisannya yang dijual di toko barang antik dan seni “Kunsthandel Wilo”, milik orang Italia di Jalan Braga, cukup diminati. Nama Henk Ngantung mulai dilirik ketika dia menggelar pameran tunggal di Savoy Homann saat hotel itu belum terbuka luas untuk bumiputra.

Memasuki 1940, seni rupa berkembang pesat di Jakarta. Banyak pelukis, baik Belanda maupun bumiputra, mengukir namanya di Jakarta. Henk pun menggadaikan 20 lukisan untuk memperoleh uang guna mempertaruhkan karier di Jakarta.  

Henk bergabung dengan kelompok pelukis ternama dalam Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). Lembaga seni berpengaruh ini didirikan S. Sudjojono dan Agus Djaja. Sejak itu Henk Ngantung tercatat sebagai salah satu tokoh perintis seni rupa modern Indonesia. 


Kisah Lukisan Memanah

Lembaga kebudayaan bentukan Jepang, Keimin Bunka Sidosho menggelar pameran lukisan di Jakarta pada 1944. Henk Ngantung ikut serta dengan menampilkan lukisan orang yang sedang berlatih memanah. Meski lebih dikenal dengan judul “Memanah”, cerita di balik lukisan ini tidaklah sesederhana judulnya.

Lukisan tersebut awalnya berjudul “Ketika Fajar Menyingsing...” Dalam lukisannya, Henk menampilkan berbagai potret buram manusia diterangi cahaya obor. Seperti diterangkan Henk dalam Kompas, 21 Januari 1979, lukisan ini menggambarkan keadaan Indonesia menjelang kemerdekaan. Ada orang yang merindukan masa lalu, ada yang tak mau tahu, dan ada yang ragu-ragu. Figur yang menjadi sorotan dalam lukisan adalah orang yang memegang busur panah. Cahaya obor melambangkan zaman peralihan, dari gelap menuju terang.

Menurut Henk, di belakang judul asli lukisan memanah itu, tersirat keyakinannya akan kemerdekaan Indonesia. Titik-titik tersembunyi setelah kalimat judul berbunyi “nampaklah sasaran” yang berarti kemerdekaan. Di akhir pameran, lukisan karya Henk berhasil memenangkan lomba. Namun, Jepang melakukan sensor sehingga judulnya diganti menjadi “Memanah”. 


Replika lukisan "Memanah" karya Henk Ngantung. (Martin Sitompul/Historia.ID).
Replika lukisan "Memanah" karya Henk Ngantung. (Martin Sitompul/Historia.ID).

Lukisan “Memanah” pula yang mempertemukan Henk Ngantung dengan Sukarno. Saat itu, Sukarno sebagai ketua Pusat Tenaga Rakyat (Putera) menyaksikan pameran. Dia terpikat kepada lukisan Henk dan ingin memilikinya. Usai pameran, Sukarno mendatangi kediaman Henk di Tanah Abang, lalu menawar lukisannya. 

“Saya mau membeli lukisanmu dan akan saya bawa sekarang juga,” pinta Bung Karno kepada Henk.

Henk minta waktu sebelum melepas lukisannya. Pada bagian tangan pemanah, menurut Henk, masih belum sempurna. Namun, Bung Karno bersikeras ingin memilikinya segera.

“Saya perlu orang yang menjadi model untuk memperbaiki lukisan itu,” kata Henk. 

“Saya mau jadi model,” Sukarno menyanggupi.

Sukarno membuka bajunya dan merentangkan tangannya seperti seorang pemanah. Buru-buru Henk melukisnya. Sejam kemudian, lukisan yang dibuat dengan cat minyak di atas tripleks berukuran 152x152 cm itu rampung dan berpindah tangan kepada Sukarno. Henk melukis di atas tripleks karena keterbatasan kanvas. 

Pada bagian wajah pemanah, Henk mengambil model sastrawan Marius Ramis Dajoh. Jadi, lukisan memanah itu perpaduan dua model. Wajah pemanah milik Dajoh sedangkan tangannya milik Sukarno. 

Sukarno memajang lukisan itu di beranda rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat. Tak diketahui berapa harga yang dibayarkan Sukarno untuk menebus lukisan Henk. Yang terang, lukisan itu kelak menjadi saksi sejarah sekaligus benda seni bersejarah. 

“Lukisan itu menjadi saksi bisu sejarah Proklamasi kemerdekaan Indonesia. Karena pada saat pembacaan teks Proklamasi oleh Bapak Sukarno, latar belakangnya lukisan memanah itu, karya Henk Ngantung. Dan yang kedua, juga jadi saksi pada saat pembentukan kabinet pertama,” kata Geniati Heneve Ngantung, anak kedua Henk Ngantung, kepada Historia.ID.


Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 di rumah Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat. Pada latar belakang, tampak lukisan "Memanah" karya Henk Ngantung yang telah menjadi koleksi Bung Karno. (Departemen Penerangan RI).
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 di rumah Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat. Pada latar belakang, tampak lukisan "Memanah" karya Henk Ngantung yang telah menjadi koleksi Bung Karno. (Departemen Penerangan RI).

Lukisan memanah juga menjadi latar belakang konferensi pers pertama pemerintah Republik Indonesia. Pada 4 Oktober 1945, catat Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil: Petite Histoire Indonesia Jilid 3, kediaman Sukarno didatangi para koresponden luar negeri untuk memberitakan tentang Indonesia yang baru saja merdeka. Sukarno menerima mereka di beranda rumah, tempat yang sama ketika Proklamasi dikumandangkan. 

“Pada pertemuan itu para wartawan luar negeri ramai mengambil foto Sukarno-Hatta yang duduk dikitari oleh para menteri. Ini disebut acara photo-session. Setelah itu wartawan mengajukan pertanyaan. Presiden Sukarno yang menjawab,” kenang Rosihan.

Rumah Sukarno kemudian tak berbekas lagi. Lukisan memanah karya Henk Ngantung dipindahkan ke Istana Negara. Meski sempat rusak berat akibat dimakan usia dan kurang pemeliharaan, lukisan itu akhirnya direstorasi. Pada 2016, pelukis kontemporer kenamaan Haris Purnomo melukis ulang lukisan memanah karya Henk Ngantung.

“Lukisan itu sekarang menjadi koleksi Istana Negara,” kata Geni. “Sudah disimpan di sana.”


Konferensi pers pertama Pemerintah RI pada 4 Oktober 1945. Tampak Presiden Sukarno berlatar belakang pada lukisan "Memanah" karya Henk Ngantung. (Repro Lukisan Revolusi 1945-1950).
Konferensi pers pertama Pemerintah RI pada 4 Oktober 1945. Tampak Presiden Sukarno berlatar belakang pada lukisan "Memanah" karya Henk Ngantung. (Repro Lukisan Revolusi 1945-1950).

Seniman Kesayangan Sukarno

Selain pelukis, Henk Ngantung juga pejuang. Ketika Belanda menduduki Jakarta pada 1945, Sukarno memindahkan pemerintahan dan ibu kota ke Yogyakarta. Teman-teman Henk sesama pelukis ikut hijrah. Sementara itu, Henk menetap di Jakarta dan ikut berjuang melawan Belanda dengan bergabung dalam Laskar Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS).

Setelah ibu kota kembali ke Jakarta, Henk menjadi salah satu dari tiga orang yang dicari Sukarno. Dua orang lainnya adalah pelukis berdarah Belanda-Prancis, Ernest Dezentje dan tukang cukur langganan Sukarno bernama Pak Azis. 

Bung Karno menugaskan ajudannya dari Detasemen Kawal Pribadi Mangil Martowijojo untuk mencari ketiga orang tersebut. “Henk Ngantung saya temukan dengan gampang di Jalan Tanah Abang II dekat Asrama Polisi Tentara,” kata Mangil dalam memoarnya, Kesaksian tentang Bung Karno 1945–1967.

Menurut Fajar Sunandar, Henk selalu diikutsertakan Sukarno dalam berbagai acara kenegaraan. Seperti dalam Perundingan Linggarjati yang mempertemukan delegasi Indonesia pimpinan Perdana Menteri Sutan Sjahrir dengan delegasi Belanda yang dipimpin Wim Schermerhorn dan van Mook. 


Sketsa potret Perdana Menteri Sutan Sjahrir dalam Perundingan Linggarjati karya Henk Ngantung. (Munasprok/Koleksi Museum Seni Rupa Keramik).
Sketsa potret Perdana Menteri Sutan Sjahrir dalam Perundingan Linggarjati karya Henk Ngantung. (Munasprok/Koleksi Museum Seni Rupa Keramik).

Sebagai peninjau, Henk tak ikut berunding, tetapi merekam jalannya perundingan lewat sketsa. “Peristiwa itu diabadikan Henk Ngantung melalui sketsa,” ujar Fajar.

Dalam sketsanya, Henk melukiskan berbagai kejadian selama Perundingan Linggarjati pada November 1946. Henk memvisualisasikan tempat perundingan Hotel Linggarjati, pertemuan Sukarno dengan Lord Killearn, mediator perundingan asal Inggris, hingga Wakil Presiden Bung Hatta bercengkerama dengan van Mook. 

Di luar para pemuka diplomat, Henk juga merekam kegiatan para ibu yang menyiapkan hidangan untuk para delegasi, wartawan asing yang sibuk meliput jalannya perundingan, hingga rakyat jelata yang menyaksikan perundingan dari pinggir jalan.

“Dalam sketsa-sketsanya Henk Ngantung dengan tajam mencatat berbagai peristiwa dan tokoh-tokoh yang ternama atau tidak, sebagai komponen perekaan sejarah, yang tak terkira nilai dokumentasinya,” kata sastrawan Sitor Situmorang dalam testimoninya untuk buku Sketsa-Sketsa Henk Ngantung dari Masa ke Masa.



Kedekatan Henk dengan Sukarno berlangsung selama periode kepresidenannya. Henk selalu menjadi seniman pilihan Sukarno dalam panitia kegiatan kenegaraan sejak 1957. Sukarno menunjuk Henk untuk memimpin Seksi Dekorasi dalam Panitia Negara Penerimaan Kepala-kepala Negara Asing. Henk semakin dikenal setelah menjadi anggota Dewan Nasional, yang kemudian lebih dikenal dengan Dewan Pertimbangan Agung. 

“Keterlibatan Henk Ngantung tidak berhenti pada Dewan Nasional, namun namanya terus merangkak ketika dia ditunjuk menjadi panitia dan anggota juri Sayembara Tugu Nasional, kemudian anggota parlemen (MPRS), anggota Front Nasional, dan sebagainya,” catat Obed Bima Wicandra dalam biografi Henk Ngantung: Saya Bukan Gubernurnya PKI.

Penunjukan Henk sebagai wakil gubernur Jakarta pada 1961 membuktikan kepercayaan Sukarno kepadanya amat besar. Waktu itu Jakarta tengah berbenah sebagai ibu kota negara sekaligus kota metropolitan. Untuk mendampingi Gubenur Soemarmo, Sukarno membutuhkan visi artistik Henk agar memberikan sentuhan seni dan budaya pada Jakarta. Tugu Selamat Datang di bundaran Hotel Indonesia dan air mancur Bank Indonesia, serta Monumen Pembebasan Irian Barat adalah karya rancangan Henk Ngantung, yang masih dapat disaksikan hingga kini.


Henk Ngantung melukis sketsa di atas Kapal USS Renville sebagai peninjau dalam perundingan Renville, 1948. (Dok. Keluarga Henk Ngantung).
Henk Ngantung melukis sketsa di atas Kapal USS Renville sebagai peninjau dalam perundingan Renville, 1948. (Dok. Keluarga Henk Ngantung).

Henk Ngantung kemudian menjabat gubernur Jakarta pada 1964–1965. Namun, dia tak lama menjabat lantaran terjadi peralihan rezim dari Sukarno ke Jenderal Soeharto. Setelahnya, Henk dikucilkan. Meski tak ditahan, dia mengalami pemenjaraan secara sosial dan stigmatisasi yang turut menyengsarakan istri dan anak-anaknya.   

“Saat itu di keluarga kami, Bapak tidak menerima pensiun. Selama 15 tahun, Bapak tidak digaji, tidak dibayarkan pensiunnya. Jadi, kalau saya bilang ya, itu karena pengaruh stigma PKI,” kata Geni yang menampik keterlibatan ayahnya dalam Lekra.  

Tak jelas apa kesalahan Henk. Kemungkinan karena sempat bergiat dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Namun, sebagian kalangan menilai karena Henk seorang Sukarnois. Tak hanya merusak reputasi Henk, perkara politik ini bahkan merampas pengakuan terhadap karya dan kontribusinya untuk Jakarta. 

Di masa tuanya, kehidupan Henk menyedihkan. Di tengah keterkucilan dan mata yang nyaris buta akibat glukoma, Henk terus melukis untuk menghidupi keluarganya. 

Hingga wafat pada 12 Desember 1991, Henk Ngantung menjalani akhir hidup memprihatinkan. Sebelah matanya buta total, stigma masih melekat, dan tiada rehabilitasi dari negara untuk membersihkan namanya. Yang lebih memilukan, sebagian karyanya tidak diakui dan dilupakan begitu saja.*



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Henk Ngantung menjadi satu-satunya gubernur Jakarta yang berasal dari kalangan seniman. Namun, kehidupannya tak seindah guratan pada lukisan dan sketsanya.
bg-gray.jpg
In addition to the epigraphs found on the seven inscriptions, historical sources regarding Tarumanagara also come from statues and temples at two archaeological sites.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah lahir dari keluarga menak terpandang. Memilih jalan perjuangan.
bg-gray.jpg
Pernah dicampakkan dan ditipu intel Jepang, Shamsiah Fakeh lantang menyuarakan emansipasi perempuan. Dituduh bunuh anak sendiri saat gerilya di hutan.
Fenomena Lipstick Effect muncul ketika krisis ekonomi. Perempuan membeli kosmetik untuk memanjakan diri sebagai mekanisme psikologis mengatasi tekanan.
Fenomena Lipstick Effect muncul ketika krisis ekonomi. Perempuan membeli kosmetik untuk memanjakan diri sebagai mekanisme psikologis mengatasi tekanan.
Beragam faktor, terutama perubahan birokrasi dan pertanian paksa, menyengsarakan rakyat sejak era kolonial hingga Jepang. Memicu konflik antara penduduk dengan penguasa. Kebanyakan dipimpin tokoh agama.
Beragam faktor, terutama perubahan birokrasi dan pertanian paksa, menyengsarakan rakyat sejak era kolonial hingga Jepang. Memicu konflik antara penduduk dengan penguasa. Kebanyakan dipimpin tokoh agama.
Demi jaga hak, sejarah, asal-usul, dan adat-istiadat suku Muyu bagi generasi-generasi penerusnya, kepala adat marga Kimko di suku Muyu gelar tradisi pesta babi sebagai bentuk perlawanan.
Demi jaga hak, sejarah, asal-usul, dan adat-istiadat suku Muyu bagi generasi-generasi penerusnya, kepala adat marga Kimko di suku Muyu gelar tradisi pesta babi sebagai bentuk perlawanan.
Pernah ada masalah dengan pejuang seberang, Soeharto lama tidak memberi tempat orang-orang Sulawesi dalam posisi kunci militer. Jenderal M. Jusuf pengecualian.
Pernah ada masalah dengan pejuang seberang, Soeharto lama tidak memberi tempat orang-orang Sulawesi dalam posisi kunci militer. Jenderal M. Jusuf pengecualian.
Majalah sastra di Indonesia merepresentasikan suasana zamannya. Sastrawan generasi pertama belum menemukan formatnya hingga sastrawan Pujangga Baru menjadi pionir.
Majalah sastra di Indonesia merepresentasikan suasana zamannya. Sastrawan generasi pertama belum menemukan formatnya hingga sastrawan Pujangga Baru menjadi pionir.
Eksperimen penjara Stanford dihentikan setelah banyak tahanan yang menunjukkan gangguan psikologis dan para penjaga berlaku sewenang-wenang.
Eksperimen penjara Stanford dihentikan setelah banyak tahanan yang menunjukkan gangguan psikologis dan para penjaga berlaku sewenang-wenang.
transparant.png
bottom of page