top of page

Pekik Merdeka Shamsiah Fakeh (Bagian III)

Pernah dicampakkan dan ditipu intel Jepang, Shamsiah Fakeh lantang menyuarakan emansipasi perempuan. Dituduh bunuh anak sendiri saat gerilya di hutan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Shamsiah Fakeh bersama Ibrahim Mohamad dan ketiga putranya di Beijing tahun 1964. (Repro Dari AWAS ke Rejimen Ke-10).

16 Mei
12 menit membaca

JAM sudah menunjukkan pukul 6.15 petang ketika dua mobil sedan diikuti satu minibus tiba dan parkir di sebuah rumah di Gombak, Kuala Lumpur, Malaysia pada 22 Juli 1994. Sesosok perempuan lalu turun dari salah satu mobil yang sontak disambut sanak keluarga yang menanti di pekarangan.


Hari itu untuk kali pertama Shamsiah Fakeh, perempuan tadi, bersua kembali dengan keluarga besarnya. Haji Ramli, sang pemilik rumah sekaligus sang adik, adalah yang paling pertama menyambut perempuan yang hampir berusia 70 tahun itu dengan pelukan diikuti pertanyaan keadaan.


“Sihat,” kata Shamsiah menjawab pertanyaan adiknya sebagaimana dikisahkan artikel “Bekas ketua komunis wanita pulang ke sisi keluarga” di Berita Harian edisi 23 Juli 1994.


Mengenakan blouse sederhana dipadu kerudung putih dan kain batik sebagai bawahan, Shamsiah masuk dengan didampingi suaminya, Ibrahim Mohamad. Anak-anak dan para cucunya yang lebih dulu tiba sudah menanti di dalam rumah.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page