top of page

Format Sejarah Cerdas Cermat

Lomba asah-otak layaknya cerdas cermat mulanya untuk para serdadu Perang Dunia II. Radio hingga televisi lantas mengadaptasinya untuk pelajar.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 1 jam yang lalu
  • 6 menit membaca

LOMBA Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026 di tingkat Provinsi Kalimantan Barat geger akibat penjuriannya kontroversial. Meski lomba cerdas cermatnya bakal digelar ulang, hingga tulisan ini diturunkan para pimpinan MPR yang mengeluarkan keputusannya belum memastikan kapan pelaksanaan lomba ulangnya.


Kontroversi penjurian yang viral terjadi di babak final lomba cerdas cermat di Pontianak, Kalimantan Barat pada Sabtu (9/5/2026). Di sesi pertanyaan rebutan, peserta dari Regu C (SMAN 1 Pontianak) lebih dulu memencet tombol lalu memberikan jawaban namun dianggap salah sehingga nilainya dikurangi. Kemudian Regu B (SMAN 1 Sambas) menjawab dengan jawaban yang kurang lebih sama dan dibenarkan dewan juri sehingga keluar sebagai pemenang untuk mewakili Kalimantan Barat ke tingkat nasional. Sontak, Regu C memprotes dan juri memberi alasan bahwa jawaban Regu C dianggap tidak menyebutkan penjelasan “pertimbangan dari DPD RI”.


Regu C keberatan karena mereka yakin sudah menyebut penjelasan itu. Namun dewan juri tetap menolak. Alasannya, artikulasi Regu C kurang jelas sehingga tetap memberikan minus lima pada poin yang sudah dikumpulkan Regu C.


Dalam tayangan ulang, terdengar jelas bahwa Regu C menjawab dengan tepat serta menyertakan penjelasan “pertimbangan dari Dewan Perwakilan Daerah RI”. Tak ayal, dewan juri pun jadi bulan-bulanan warganet. Maka selain meminta maaf dan memutuskan lomba akan diulang, pihak MPR RI menegur dan mengevaluasi dewan jurinya.


Josepha Alexandra, siswi peserta dari SMAN 1 Pontianak yang jawabannya dianggap salah oleh dewan juri (Youtube MPRGOID)
Josepha Alexandra, siswi peserta dari SMAN 1 Pontianak yang jawabannya dianggap salah oleh dewan juri (Youtube MPRGOID)

Ditiru Banyak Negara Termasuk Indonesia

Cerdas cermat alias lomba uji wawasan-pengetahuan dengan konsep tanya-jawab cepat awalnya bukan dimulai untuk para pelajar atau akademisi. Ia mulanya sebuah produk hiburan pop-culture sederhana untuk menjaga mental dan semangat juang tentara Amerika Serikat (AS) di Perang Dunia II (1939-1945). Pencetusnya adalah Donald David ‘Don’ Reid, musisi muda kelahiran Montréal, Kanada, pada 28 September 1911, yang hijrah ke AS.


Sewaktu Perang Dunia II, Donald tergabung di sebuah lembaga non-profit United Service Organizations (USO). Menurut sejarawan-advokat Walter Samuel Griggs Jr. dalam World War II Richmond Virginia, banyak lembaga non-profit yang bekerjasama dengan Departemen Perang AS menyediakan hiburan dan pembinaan mental untuk para serdadu AS agar diberi kesempatan cuti dari peperangan di Eropa dan Pasifik. Selain USO, terdapat Young Men’s Christian Association (YMCA), Red Cross, Jewish Army-Navy Group, dan The Army Mom’s Club dan Navy Mother’s Club.


“Untuk mendukung para prajurit lebih jauh, USO mengirim perwakilan-perwakilannya ke Richmond untuk mengajak dan melibatkan seluruh pihak di kota ke dalam program-programnya. Pada Desember (1941), USO mengambil-alih beban besar terkait kesejahteraan para prajurit, meski organisasi-organisasi lain juga terus menjalankan program-program lain,” ungkap Griggs Jr.


Maka, Di Richmond, AS, konsep awal cerdas cermat bermula. Tugas untuk merancang sebuah hiburan dan aktivitas rekreasi yang inovatif jatuh kepada anggota USO bernama Don Reid.


“Saat penghibur Don Reid ditugaskan membuat sebuah format hiburan baru untuk para prajurit yang bertempur di Perang Dunia II, ia memutuskan untuk menguji mereka dengan pengetahuan umum, sebagaimana yang pernah para prajurit alami saat rekrutmen mereka. Namun kali ini ia akan menempatkan mereka di atas panggung,” tulis jurnalis Inggris Alan Connor dalam The Joy of Quiz.


Pasca-Perang Dunia II, konsep itu mulai dikembangkan dan diperluas ke kalangan pelajar. Reid lalu menawarkan format baru konsep “cerdas cermat” didaptasi ke sebuah program radio.


“Reid yang di masa kuliah merupakan seorang bintang basket, merefleksikan ide itu dan berpikir mengapa anak-anak muda yang belajar di kampus-kampus Amerika tidak punya sebuah forum untuk bisa diakui. Ia mengatakan, ‘Harus ada sebuah cara untuk bersenang-senang dengan olah pikiran.’ Ide besarnya tak lain metafora olahraga: jump ball danfree-throws – atau dalam istilah kuis, permulaan dan bonus-bonus. Dalam format ini, beberapa pertanyaan menguji kecepatan pikiran dan pendekatan yang rasional,” tambahnya.


Dalam otobiografinya yang dituliskan bersama Bud Rukeyser, Tinker in Television: From General Sarnoff to General Electric, bos stasiun radio dan televisi NBC Grant Tinker menyebut, ide Reid itu kemudian didiskusikan dengan salah satu produser radio John Moses. Hasil diskusinya lantas diteruskan ke Tinker yang juga masih jadi produser salah satu program NBC.


“Suatu hari John memperlihatkan berkas-berkas ide yang sketchy untuk program radio yang diberikan kepadanya beberapa tahun sebelumnya oleh Don Reid. Idenya tak lebih dari kerangka usulan sebuah kompetisi kuis antarkampus. Saat John minta pendapat, saya katakan bahwa itu bisa saja jadi sebuah program acara dan ada seseorang yang mungkin bisa membawakannya, yakni Allen Ludden yang ketika itu rangkap jabatan sebagai seorang eksekutif program dan penyiar untuk (radio) WTIC yang masih terafiliasi NBC di Hartford,” tulis Tinker.


Tinker pun lantas menemui Allen di Hartford, Connecticut. Allen, sebut Tinker, juga antusias untuk mewujudkannya. Maka saat itu juga keduanya merancang program acara cerdas cermat dengan lebih detail. Hasilnya, lahir program acara bernama College Quiz Bowl.


“Allen menciptakan acaranya yang kemudian menjadi College Quiz Bowl: format umum, dua kampus, dijalankan secara remote, pertanyaan-pertanyaan rebutan, pertanyaan-pertanyaan bonus. Kontribusi saya sendiri lebih kepada duduk di sana saat ia membuat outline program radionya dan sekadar bertanya, apakah ia mau terlibat dalam programnya. Ia bukan hanya mau terlibat, namun ia juga sampai mundur dari pekerjaan lamanya dan membawa serta istri dan ketiga anaknya ke Dobbs Ferry dan mulai bekerja dengan kami di Manhattan,” tambahnya.


Tinker pun membawa ide-ide yang sudah final itu ke direktur program NBC Radio, Jack Cleary, yang kemudian juga menyetujuinya. Maka, program pilot College Quiz Bowl pertama pun mulai dilakukan dengan cara taping dan bekerjasama dengan radio-radio lokal di tempat kampus-kampus itu berada.


“Acaranya dimulai dari sebuah studio NBC kecil di 30 Rock (Gedung Rockefeller Plaza 30, red.), di mana kru kami sendiri sangat kecil yang terdiri dari pembawa acara, seorang sutradara dan teknisi di ruang kontrol,” terang Tinker.


Cerdas cermat College Quiz Bowl edisi perdana itu diputar di radio NBC pada 10 Oktober 1953. Pesertanya berasal dari dua tim kampus yang masing-masing terdiri dari empat mahasiwa. Dua kompetitor perdana yang berlomba itu adalah para mahasiswa dari Northwestern University melawan tim mahasiswa Columbia College.


Menariknya, program itu masih dilakoni secara remote. Pembawa acara Allen Ludden membacakan soal-soalnya dari studio NBC di New York, sedangkan tim Columbia College menjawab pertanyaan-pertanyaan dari studio radio WNBC dan tim Northwestern University menjawabnya dari studio radio WMAQ di Chicago.


“Tim berisi empat orang yang diketuai Howard Falberg, akan mewakili Columbia pada seri pertama acara kuis antarkampus bertajuk ‘College Quiz Bowl’ pada Sabtu, 10 Oktober pukul 8 malam di WNBC. Bill May, Bill Scales dan Joe Wishy adalah tiga orang anggota lainnya yang akan bertemu tim serupa dari Northwestern University dalam siarannya. Jika tim Columbia menang, mereka akn bertemu Wesleyan University pada pekan berikutnya,” tulis suratkabar Columbia Spectator edisi 2 Oktober 1953 dalam “Columbia Quiszters Set To Meet Northwestern”.


Peserta dari tim University of Manchester saat mengikuti "University Challenge" tahun 1962 (blanchflower.org)
Peserta dari tim University of Manchester saat mengikuti "University Challenge" tahun 1962 (blanchflower.org)

Untuk episode perdana di season pertama itu, tim Northwestern University menang telak dengan skor 135-60. Bonus bagi tim pemenang berupa hadiah uang 500 dolar AS dan tim yang kalah diberikan hadiah apresiasi berupa arloji merk Longines Wittnauer.


Program cerdas cermat itu dihelat radio NBC sepekan sekali hingga 1955. Setelah vakum, pada 1959 program acaranya diperbarui oleh stasiun televisi CBS -bekerjasama dengan General Electric sebagai sponsor utama– dengan tajuk GE College Bowl.


“Namun program acaranya dihentikan pada 1970. Selain terdapat masalah sengketa terkait kepemilikan format acara, General Electric juga tidak nyaman terhadap kalangan mahasiswa karena banyak dari mereka yang mulai protes terhadap peran perusahaan itu dalam Perang Vietnam (1955-1975). Saat itu sudah ada 1.500 institusi (kampus) dalam waiting list untuk tampil di seri 1970-1971 yang kemudian dibatalkan,” sambung Connor.


Meski begitu, program acaranya tetap “eksis” karena perlahan namun pasti, kampus-kampus mengadakan sendiri agendanya secara off-air. Bahkan, sekolah-sekolah tingkat SMA mulai mengikutinya. Di negara lain juga bermunculan versi-versi internasionalnya yang ditayangkan televisi. Seperti program acara “University Challenge” di Inggris yang sudah mengikutinya sejak 1962, atau versi-versi lain seperti di Selandia Baru, Australia, India, Belanda, Belgia, hingga Irlandia (“Challenging Times”).


Di Indonesia, konsep cerdas cermat mulai diikuti pada paruh kedua 1970-an sebagai bagian dalam rangka Pemasyarakatan P4 (Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila). Ia dijadikan program pemerintahan Orde Baru melalui TAP MPR No. II Tahun 1978.


“Mereka yang merasakan jadi pelajar di masa Orde Baru tentu tidak asing dengan P4. Penghayatan Pancasila menurut Orde Baru tidak cukup dengan pendidikan di kelas sehingga dibuatlah program cerdas cermat P4 yang diadakan untuk berbagai tingkatan pendidikan, mulai dari SD sampai SMA. Layaknya turnamen olahraga, cerdas cermat P4 digelar dalam kompetisi berjenjang dari tingkat sekolah, kecamatan, kota, provinsi, sampai akhirnya ke tingkat nasional,” urai Dhianita Kusuma Pertiwi dalam Mengenal Orde Baru.


Para pesertanya baru ditayangkan di siaran TVRI setelah memasuki perlombaan tingkat nasional. Belakangan, pesertanya tidak hanya para pelajar karena kalangan petani dan nelayan, terutama yang di bawah naungan Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa), juga diikutsertakan.


“Jika soal-soal yang ditanyakan dalam cerdas cermat P4 berkisar tentang Pancasila, peserta yang ikut dalam Kelompencapir harus berhadapan dengan pertanyaan tentang jenis pupuk, tanaman, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pertanian serta teknik mencari ikan bagi nelayan. Namun jangan dibayangkan penayangan cerdas cermat pada masa Orde Baru di TVRI sama dengan yang ada baru-baru ini. Lomba tersebut berlangsung dengan tertib, serius, dan tidak seinteraktif cerdas cermat bagi pelajar seperti sekarang,” tandasnya.







bg-gray.jpg
Banyumas is one of Central Java’s rice-producing regions. However, floods and malaria caused famine in the area. This issue caught the attention of a member of the House of Representatives.
bg-gray.jpg
Percobaan bom nuklir-hidrogen oleh Amerika Serikat di Kepualaun Eniwetok di Pasifik merisaukan seorang anggota DPR. Mendorong pemerintah galang sikap penolakan di pentas internasional.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
Lomba asah-otak layaknya cerdas cermat mulanya untuk para serdadu Perang Dunia II. Radio hingga televisi lantas mengadaptasinya untuk pelajar.
Lomba asah-otak layaknya cerdas cermat mulanya untuk para serdadu Perang Dunia II. Radio hingga televisi lantas mengadaptasinya untuk pelajar.
Pernah mendirikan band The Steps yang sohor di akhir 1960-an, Tinton Soeprapto justru meninggalkan dunia musik dan kembali ke dunia otomotif.
Pernah mendirikan band The Steps yang sohor di akhir 1960-an, Tinton Soeprapto justru meninggalkan dunia musik dan kembali ke dunia otomotif.
Peristiwa ini berawal dari ketegangan yang dipicu oleh kecemburuan sosial dan tekanan ekonomi. Aksi kekerasan, penjarahan, dan pembakaran meninggalkan luka sosial yang mendalam.
Peristiwa ini berawal dari ketegangan yang dipicu oleh kecemburuan sosial dan tekanan ekonomi. Aksi kekerasan, penjarahan, dan pembakaran meninggalkan luka sosial yang mendalam.
Horison lahir dari stabilitas politik rezim Orde Baru. Majalah sastra berpengaruh ini bertahan selama enam dekade.
Horison lahir dari stabilitas politik rezim Orde Baru. Majalah sastra berpengaruh ini bertahan selama enam dekade.
Dari tuntutan jam kerja hingga perlindungan pekerja. Perjuangan buruh mengalami perubahan, namun tujuannya tetap satu: keadilan.
Dari tuntutan jam kerja hingga perlindungan pekerja. Perjuangan buruh mengalami perubahan, namun tujuannya tetap satu: keadilan.
Berawal dari ahli psikologi ingin mengamati kehidupan narapidana di penjara. Eksperimen ini menjadi eksperimen paling terkenal dan kontroversial.
Berawal dari ahli psikologi ingin mengamati kehidupan narapidana di penjara. Eksperimen ini menjadi eksperimen paling terkenal dan kontroversial.
transparant.png
bottom of page