top of page

Snouck Hurgronje in Jeddah and Mecca

Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Christiaan Snouck Hurgronje standing in the back wearing a white jacket and a fez, while Pieter van der Chijs smoking a water pipe. In the center of the table is Johan Kruyt; the photo was taken at the Dutch Consulate in Jeddah. (Reproduction by Philip Dröge, Pelgrim)

  • 4 Mei
  • 5 menit membaca

Snouck Hurgronje was a key figure in the development of Orientalism, a field of study that explores the ideas and worldviews of people in the East, including Asia, North Africa, and the Islamic world. In fact, within the history of Dutch colonialism in Indonesia, Snouck is often regarded as a pivotal figure in the Dutch victory in the Aceh War, which raged for years from the late 19th century into the early 20th century.


Snouck Hurgronje was born in Oosterhout, the Netherlands, on February 8, 1857. In 1874, he studied theology at the Faculty of Arts at Leiden University, then traveled to Mecca, and wrote a dissertation on the Mecca festival, titled Het Mekkaansche Feest.


Snouck’s fascination with the East, particularly Islam, cannot be separated from his family background. Journalist Philip Dröge notes in Pelgrim: Leven en Reizen van Christiaan Snouck Hurgronje Wetenschapper, Spion, Avonturier (Pilgrim: The Life and Travels of Christiaan Snouck Hurgronje – Scholar, Spy, Adventurer) that there was a compelling factor influencing the shift in Snouck’s perspective during his studies in Leiden, where he later studied Arabic with a focus on Islam. His interest relates to his maternal grandfather, Jan Scharp, who was one of the first Dutch people to conduct in-depth studies of Islam in the early 19th century.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Maria Ullfah berduka secara beruntun. Kehilangan orang dekat dalam waktu singkat.
bg-gray.jpg
Penyebaran pamflet provokatif oleh Front Pemuda Sunda bikin geger. Parlemen sampai memanggil perdana menteri. Ketidakadilan jadi pangkalnya.
bg-gray.jpg
Tubagus Angke asal Banten melanjutkan Fatahillah memimpin Jayakarta. Sebagai Pangeran Jayakarta II, dia membawa Pelabuhan Sunda Kelapa menandingi Pelabuhan Malaka.
bg-gray.jpg
Sjahrir-Amir Sjarifoeddin memburu para oposannya. Sukarno pinjamkan mobil dan beri sangu untuk menangkap Tan Malaka dan kawan-kawannya.
Upaya membentuk hubungan egaliter lelaki-perempuan sudah dilakukan sejak lama.
Upaya membentuk hubungan egaliter lelaki-perempuan sudah dilakukan sejak lama.
Keberagaman dalam Imlek menjadi semangat baru bagi bangsa Indonesia untuk bangkit melawan pandemi covid-19.
Keberagaman dalam Imlek menjadi semangat baru bagi bangsa Indonesia untuk bangkit melawan pandemi covid-19.
Produksi penulisan sejarah maupun penyebaran informasi kesejarahan harus merespons situasi zaman.
Produksi penulisan sejarah maupun penyebaran informasi kesejarahan harus merespons situasi zaman.
Budaya bahari bisa tumbuh bukan semata-mata karena infrastruktur fisik.
Budaya bahari bisa tumbuh bukan semata-mata karena infrastruktur fisik.
Fabio Quartararo dan Johann Zarco mengulang sejarah enam dekade MotoGP yang ditorehkan Pierre Monneret dan Jacques Collot. Siapa mereka?
Fabio Quartararo dan Johann Zarco mengulang sejarah enam dekade MotoGP yang ditorehkan Pierre Monneret dan Jacques Collot. Siapa mereka?
Perkumpulan Multatuli di Belanda menyerahkan artefak bersejarah kepada pemerintah Lebak.
Perkumpulan Multatuli di Belanda menyerahkan artefak bersejarah kepada pemerintah Lebak.
transparant.png
bottom of page