- 1 jam yang lalu
- 3 menit membaca
BAGI Kusdaryanto alias Tinton Soeprapto, menyalurkan hobi bukanlah hal sulit. Sedari muda, putra Mayor Jenderal Haji Drs. Soejatmo itu sudah tajir melintir. Dia punya penggilingan beras di Sukabumi, pabrik anyaman bambu di Tasikmalaya, penyewaan truk yang melintasi Jawa-Bali, dan bengkel kendaraan bermotor. Dia juga mengambil rumput laut dari daerah Jampang Kulon, Sukabumi dan mengekspornya ke Jepang.
“Dunia” Tinton boleh dikata “sebatas” hobinya. Selain bisnis, hidupnya tak jauh dari balapan dan percintaan.
Namun, belakangan Tinton punya hobi lain. Setelah melihat musik pop digemari banyak orang, terpikir oleh Tinton untuk membangun sebuah grup band. Maka tak sulit bagi Tinton untuk mewujudkannya. Selain punya banyak uang, Tinton punya kawan yang amat mungkin diajak kerjasama untuk mewujudkan keinginannya itu. Namanya Muhammad Ali Imron, yang berprofesi sebagai gitaris. Imron pernah bermain di band Deselina, band tempat drumer pertama God Bless Fuad Hassan (1942-1974) juga pernah jadi drumer.
Imron mau menerima ajakan Tinton. Tapi dia memberi syarat: harus punya target manggung di luar Indonesia.
“Saya setuju saja. Lahirlah The Steps, yakni tadi singkatan dari Semua Tinton Punya, pada 1967,” kenang Tinton dalam Tinton Soeprapto-Ananda Mikola Dari Balap ke Balap yang disusun AR Loebis.
Warna musik The Steps mirip dengan musik The Shadows asal Inggris. Musik pop instrumentalnya cukup digemari kalangan muda era baby boomers.
Selain Tinton sebagai leader, formasi The Steps diisi Imron yang berposisi sebagai gitaris. Lalu ada Didi Abdulkadir Hadju sebagai pemain keyboard, Ferly pada drum dan May Sumarna pada bass. Adik Imron, Ismet Januar, pun ikut membangun band ini.
Pada tahun kelahirannya, 1967, The Steps sudah merilis lagu-lagu instrumental. Mulai dari “Keagungan Tuhan” hingga “Kitjir-kitjir”, “Rasa Sajang”, dan “Kelap-kelip”.
Nama The Steps pun mulai dikenal luas. The Steps menjadi band pengiring beberapa penyanyi top Indonesia era akhir 1960-an seperti Sandra Sanger, Annie Rae, Aida Mustafa, dan KRA Soemarini Soerjosoemarno atau yang beken dipanggil Marini, yang menjadi istri Tinton setelah dinikahi pada 1965.
Entah lantaran popularitasnya atau jejaring bisnis Tinton, benar saja The Steps kemudian bisa pentas di mancanegara. Negeri pertama yang disambanginya adalah Singapura. The Steps Bahkan sempat diundang label Polydor Singapura untuk rekaman. Selain Singapura, The Steps juga pernah manggung di night club Hongkong dan Latin Quarter Tokyo.
Capaian The Steps membuat fokus Tinton pada musik kian kuat. Terpikir olehnya kemudian untuk membangun perusahaan rekaman sendiri. Hasilnya, dia mendirikan Tonsco Top Recording.
The Steps terus eksis dan bermain di luar negeri hingga akhir 1970-an. Setelah itu, Tinton lebih menekuni dunia balap hingga namanya lebih dikenal sebagai pembalap. Tinton merupakan pembalap Indonesia pertama yang ikut rally Paris-Dakar. Belakangan, dia ikut membidani kelahiran Sirkuit Internasional Sentul, Bogor.
Meski sudah beda “dunia”, persahabatan Tinton dengan Imron terus terjalin. Imron masih menjadi kawan kepercayaan Tinton. Imron sempat menetap di Hongkong dan menemukan jodohnya di sana. Bakat Imron main gitar menurun pada anaknya, Ibrahim Imran alias Baim, yang ikut mendirikan –sekaligus menjadi gitaris– Ada Band dan kemudian The Dance Company.
Berbeda dari kesuksesannya di dunia balap, kesuksesan Tinton bersama The Steps harus “dibayar mahal” olehnya. Baru setahun band itu berjalan, perkawinan Tinton dan Marini yang membuahkan satu anak bernama Rama malah bubar.
“Kami tidak sesuai,” kata Marini, dikutip buku Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982.
Tinton dan Marini lalu jalan masing-masing. Bila Tinton tetap bermusik lalu balapan –merupakan hal yang tak disukai Marini dari Tinton– dan berbisnis, Marini tetap bernyanyi. Sebelum menikah dengan Tinton, putri dari Mayor Jenderal Soetarjo Soerjosoemarno itu sudah jadi penyanyi dari pesta-pesta ke pesta di rumah-rumah orang kaya Jakarta era 1960-an.
Namun, karier Marini justru lebih sukses di dunia akting setelah dia terjun ke dalamnya. Lewat perannya sebagai Sarah dalam film Cinta garapan Wim Umboh, nama Marini kemudian lebih dikenal sebagai bintang film ketimbang penyanyi. Ia bahkan meraih penghargaan Asia-Pacific Film Festival 1975 untuk kategori Best Actrees.
Selepas dari Tinton, Marini mendapatkan jodoh yang “tak jauh”. Adalah Didi Hadju, kibordis The Steps, yang menikahinya pada 1972.
“Cinta kami justru mulai ketika kami sampai tanah air,” aku Marini.
Didi menikahi Marini setelah melakukan pendekatan terhadap Rama. Kendati akhirnya pernikahan itu gagal, pasangan Didi-Marini dianugerahi anak Shelomita dan Reuben Elishama. Didi terus bermain musik dan sempat jadi manager band Karimata. Anak-anak Didi dan Marini, Reuben dan Shelomita juga menjadi penyanyi. Sementara, Marini terus berakting di layar lebar maupun layar kaca hingga 2025.



















Komentar