top of page

Wisata Berburu Manusia di Sarajevo

Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, milisi Serbia memandu orang-orang kaya untuk “Sarajevo Safari”. Ibu hamil jadi yang termahal untuk diburu via senapan.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 1 jam yang lalu
  • 6 menit membaca

DARI singa hingga rusa. Hewan-hewan itu lazimnya jadi “trofi” paling prestis dalam olahraga-rekreasi berburu kalangan elite sejak dahulu. Namun seiring perjalanan waktu, muncul fenomena memuakkan, yakni orang-orang kaya dari Eropa Barat mencari tantangan baru berupa “wisata” berburu anak-anak, perempuan, hingga ibu hamil di Sarajevo ketika ibukota Bosnia dan Herzegovina itu sedang terkepung tiga dekade silam.


Begitulah yang diungkap riset terakhir jurnalis investigasi Kroasia Domagoj Margetić yang dibukukan dengan tajuk Plati I Pucaj! Tajne Sarajevskih Ijudskih Safarija (Pay and Shoot! Secrets of Sarajevo’s Human Safaris) dan dirilis awal 2026. Bukunya turut dibedah dalam Pameran Buku Internasional Sarjevo, 22-27 April 2026.


Sejatinya, buku itu bukan upaya pertama dalam menguak fenomena “Sarajevo Safari”. Isunya pertamakali jadi perhatian global sejak kemunculan dokumenter Sarajevo Safari (2022) garapan sutradara asal Slovenia, Miran Zupanić.


Namun, sebagaimana dilansir Daily Mail, Rabu (6/5/2026), Margetić –yang meriset fenomena itu kurun 1996-2026– menyertakan wawancara dari berbagai pihak, baik militer Bosnia dan personel Amerika Serikat (AS) yang bertugas dalam NATO maupun para bekas pasukan Serbia. Sang jurnalis turut menyertakan arsip-arsip terbaru yang ia klaim didapat dari mantan perwira Bosnia, Nedžad Ugljen, sebelum perwira itu dibunuh pada 28 September 1996.


Berkas-berkas arsip itu menguak bahwa sebuah unit pasukan Serbia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan pada pengepungan. Mereka menawarkan jasa “wisata” berburu manusia pada kalangan elite dari AS, Kanada, Inggris, Rusia, Jerman, Spanyol, dan Italia. Bahkan, ada beberapa dari mereka yang kabarnya anggota kerajaan negara tertentu.


Para “turis” itu kemudian dipandu ke area-area terbatas untuk bisa bebas membidikkan senapan berburu mereka ke para warga Sarajevo. Jasa untuk mengantar dan memandu bidikan mereka pun bermacam-macam tarifnya, mulai dari 80 ribu marks (mata uang Jerman sebelum euro). Berkas-berkas itu juga mengungkapkan, untuk bidikan gadis cilik tarifnya 95 ribu marks dan yang paling mahal adalah ibu hamil yang dibanderol 110 ribu marks.


“Menurut Margetić dalam bukunya, ‘Ugljen (dalam berkasnya, red.) juga menuliskan bahwa orang-orang asing itu saling bersaing untuk melihat siapa yang mampu menembak perempuan paling cantik,’” ungkap Daily Mail.


Cuplikan dokumenter Sarajevo Safari menggambarkan warga berlarian mencari perlindungan dari tembakan sniper (IMDb)
Cuplikan dokumenter Sarajevo Safari menggambarkan warga berlarian mencari perlindungan dari tembakan sniper (IMDb)

Upaya Menguak Fenomenanya

Kawasan Balkan membara diterpa Perang Yugoslavia (1991-2001) yang memicu banyak perang di dalamnya, termasuk Perang Bosnia (1992-1995). Meski pada 1994 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara alias NATO ikut campur, agresi Serbia terhadap Bosnia terus berlangsung.


Salah satunya dalam Pengepungan Sarajevo (5 April 1992-29 Februari 1996). Pengepungan itu tercatat dalam sejarah modern sebagai pengepungan terlama terhadap sebuah ibukota. Dari sekitar 400 ribu penduduknya, sekira 11.500 meregang nyawa akibat pengepungan tersebut.


Di Sarajevo yang seluas 141,5 kilometer persegi itu, terdapat sekitar 300-400 ribu warga sipil dan sekira 70 ribu personel Tentara Republik Bosnia dan Herzegovina (ARBiH). Sementara di segenap pinggiran kota, sekitar 18 ribu pasukan VRS melakukan pengepungan.


Meski kalah jumlah, Serbia unggul dalam persenjataan berupa artileri berat dan tank-tank tempur. Itu membuat ARBiH kesulitan menembus blokade Serbia. PBB dan NATO pun hanya memberikan bantuan-bantuan logistik buat warga sipil via udara.


Pada situasi kacau itulah sebuah unit paramiliter di bawah VRS memanfaatkannya untuk mencari cuan lewat wisata “Sarajevo Safari”. Menurut riset dan hasil investigasi Margetić, ide itu sebetulnya tak bermula di Sarajevo. Margetić menyebut pada mulanya ada keterlibatan mantan perwira intelijen Yugoslavia asal Kroasia, Zvonko Horvatincic, dalam pengorganisirannya.


“Pasukan Kroasia dan Serbia sebenarnya saling berperan namun para perwira intelijen kedua pihak masih terus berkolaborasi untuk mendatangkan para sniper (penembak runduk) ke Sarajevo. Mereka juga menyelundupkan minyak, rokok, kopi, yang jaringannya terus dibuka seiring pertukaran tawanan,” kata Margetić kepada The Times, Selasa (5/6/2026).


Peran Horvatincic adalah jadi perantara antara para “turis” kaya dari Italia yang hobi berburu dengan pasukan paramiliter Serbia di Sarajevo. Melalui jalur-jalur penyelundupan barang tadi, para pemburu itu masuk ke Sarajevo via pelabuhan-pelabuhan di Zadar dan Split (Kroasia). Mereka kemudian diantarkan ke sebuah kota kecil Knin (Serbia) lalu “diserah-terimakan” kepada paramiliter Serbia yang memandu ke Sarajevo. Info tersebut didapat Margetić dalam wawancaranya dengan mantan Perdana Menteri Kroasia (1990-1991) dan Ketua Parlemen Kroasia (1993-1994), Josip Manolić, sebelum wafatnya pada 2024.


“Manolić bilang pada saya bahwa ia juga pernah mendapat laporan-laporan pertemuan orang-orang asing di sebuah hotel di Jastrebarsko dekat Zagreb sebelum berangkat ke Sarajevo. Manolić mengatakan presiden Kroasia saat itu, Franjo Tuđman (1990-1999), akan senang melihat Sarajevo terus dikepung karena ia yakin itu justru akan melemahkan Serbia,” lanjutnya.


Lambat-laun, “turis asing” tak hanya dari Italia. Jutawan-jutawan dari AS, Kanada, Jerman, Spanyol, bahkan Rusia pun ikut berdatangan. Di wilayah yang diduduki Serbia, mereka biasanya dilayani dengan moda transportasi helikopter dan bermalam di Vogošća, sekitar 10 kilometer sebelah barat laut pusat kota Sarajevo, sebelum dan sesudah berburu warga sipil Sarajevo.


Diduga kuat, unit paramiliter di bawah VRS yang melayani para turis asing itu merupakan pasukan di bawah pimpinan Slavko Aleksić. Pasukannya menguasai sebuah kompleks permakaman tua Yahudi di pinggir Pegunungan Trebević, sebelah utara perbatasan kota Sarajevo.


Ke tempat itulah para turis kaya tadi dibawa dan dipandu untuk membidik siapapun warga sipil kota yang mereka kehendaki. Bisa dengan senapan mesin maupun senapan-senapan berburu. Pasukan paramiliter Serbia akan membimbing ke masing-masing sasaran sesuai tarif yang ditentukan: pria dan perempuan paruh baya rata-rata tarifnya 80 ribu marks, gadis cilik sekitar 85 ribu marks, dan ibu hamil 110 ribu marks.


Bau busuk praktik biadab itu akhirnya tercium. Rumor tentang fenomena “Sarajevo Safari” sudah bermunculan sejak 1992, melalui media massa Italia hingga film dokumenter Serbian Epics (1992) garapan sineas Polandia Paweł Pawlikowski. Namun sayangnya, saaat itu belum mendapat perhatian besar. Di film itu, Pawlikowski turut menampilkan cuplikan penyair dan politikus sayap kanan Rusia Eduard Limonov.


Limonov datang atas undangan Presiden Serbia (1992-1996) Radovan Karadžić. Limonov menembakkan senapan mesinnya yang berteropong ke arah kota Sarajevo dari sebuah bukit. Hal itu juga dikonfirmasi jurnalis dan fotografer Kroasia, Zoran Filipović, dalam artikelnya di Jurnal Index on Censorship, Vol. 23, No. 6, tahun 1994, “Sarajevo: With friends like these”.


“Pihak Serbia yang mengorganisirnya jadi semacam hiburan. Siapapun yang ingin menembak di Sarajevo namun tak berani datang, kemudian bisa datang tanpa takut diinterogasi. Mereka menjadikannya hiburan bagi orang-orang dari seluruh dunia. Bahkan penyair Eduard Limonov, datang dari Rusia. Ia bersenang-senang menyemburkan Sarajevo dengan peluru-peluru senapan mesin yang direkam dengan kamera,” tulis Filipović.


Kesaksian lain muncul dari pengakuan John Jordan, veteran Marinir AS, pada 2007. Dalam kapasitasnya sebagai saksi dalam persidangan terdakwa Jenderal Serbia Dragomir Milošević di pengadilan International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY) di Den Haag, Belanda, Jordan mengaku saat Pengepungan Sarajevo berada di dalam kota sebagai sukarelawan pemadam kebakaran asing. Jordan sendiri pernah dua kali tertembak di bagian dadanya saat hendak menjawab panggilan darurat kebakaran dekat area Grbavica, salah satu kota satelit Sarajevo, pada November 1994.


“Memang saya tak pernah melihat satupun dari para turis itu ketika menembak. Saya hanya melihat mereka (dengan binokular) dipandu untuk mendapatkan posisi-posisi menembak. Sangat jelas dari cara berpakaian dan senjata-senjata yang mereka bawa membuat saya meyakini mereka turis penembak,” ungkap Jordan, dikutip LADBible, Selasa (5/5/2026).


Meski sempat meredup, isu tentang “Sarajevo Safari” kembali jadi perhatian setelah muncul dokumenter Sarajevo Safari (2022). Kegilaan itu membuat walikota Sarajevo bernama Benjamina Karić (2021-2024) mengajukan pembukaan kasusnya ke Kejaksaan Bosnia dan Herzegovina meskipun hingga kini kasusnya buntu karena terkendala akses terhadap arsip militer maupun pemanggilan para saksi.


Fenomena itu kemudian jadi penelitian jurnalis investigasi asal Italia, Ezio Gavazzeni. Ia juga turut mengajukan pembukaan kasusnya ke Kejaksaan Kota Milan pada 28 Januari 2025. Kasus yang difokuskan terhadap para calon tersangka asal Italia baru mulai dibuka pada musim panas 2025. Pemanggilan para saksi mulai dilakukan pada November 2025. Beberapa hasil investigasi Gavazzeni pada Maret 2026 juga dibukukan dengan tajuk I checcini del weekend: L’inchiesta sui saari umani a Sarajevo.


Baik nama komandan paramiliter VRS, Slavko Aleksić, maupun permakaman tua Yahudi dekat Sarajevo yang jadi tempat langganan untuk berburu nyawa manusia oleh para turis kaya juga terkonfirmasi dari keterangan saksi bernama Aleksander Licanin. Saksi yang didatangkan Jaksa kota Milan Alessandro Gobbis itu adalah eks-serdadu paramiliter Serbia.


“Aleksić menguasai sebuah area terbatas di permakaman itu yang jaraknya 200 meter dari (pos) kami, di mana saya bisa melihat dengan jelas. Mereka (para turis kaya) mengenakan jaket-jaket kulit mahal dan saya diberitahu bahwa mereka orang Italia, Jerman, dan Inggris. Mereka dibantu untuk dicarikan target-target, dan menembak dari permakaman. Anda bisa menembak dengan leluasa. Orang-orang asing yang datang ke Sarajevo itu otaknya sudah gila. Saya yakin mereka takkan bermimpi buruk setelahnya,” tukas Licanin dalam kesaksiannya di persidangan, dilansir The Sun, 13 Februari 2026.


Kendati begitu, tak satupun upaya hukum di atas membuahkan hasil. Sementara, para pejabat tinggi Serbia terus membantah fenomena itu. Kecuali Licanin, para veteran Serbia yang terlibat di Sarajevo turut mengecam film Sarajevo Safari (2022), yang juga dilarang untuk ditayangkan di Serbia.



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, milisi Serbia memandu orang-orang kaya untuk “Sarajevo Safari”. Ibu hamil jadi yang termahal untuk diburu via senapan.
Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, milisi Serbia memandu orang-orang kaya untuk “Sarajevo Safari”. Ibu hamil jadi yang termahal untuk diburu via senapan.
Sejak masa kolonial, tembakau dan produk turunannya dikenai cukai. Dianggap menguntungkan dan bertahan kala krisis global.
Sejak masa kolonial, tembakau dan produk turunannya dikenai cukai. Dianggap menguntungkan dan bertahan kala krisis global.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik “Ngak Ngik Ngok” ini sudah bermusik.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik “Ngak Ngik Ngok” ini sudah bermusik.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
transparant.png
bottom of page