top of page

Perang Sepakbola dan Kemerdekaan Kroasia

Kroasia merebut kemerdekaannya dengan pengaruh sepakbola. Dipicu “perang” di stadion dengan ultras Serbia.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 16 Jul 2018
  • 3 menit membaca

BEGITU wasit asal Argentina Néstor Pitana membunyikan peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan final Piala Dunia 2018, Luka Modric langsung lunglai. Para pemain Kroasia lain nampak pasrah kala para pemain Prancis berhamburan merayakan kemenangan.


Presiden Kroasia Kolinda Grabar-Kitarovic yang hadir dan turut memberikan medali, memeluk satu per satu patriotnya di lapangan hijau seraya menenangkan dan mengapresiasi mereka. Toh, mereka berhak berbangga diri. Bukan perkara receh mereka bisa memijak laga puncak.



Pencapaian baru itu patut dipuja dan dicontoh lantaran mereka berhasil melewati pencapaian timnas Kroasia di Piala Dunia 1998 yang –juga terhenti oleh Prancis di semifinal– hanya menjadi juara tiga. Pencapaian di Rusia juga mengagumkan mengingat Kroasia belum lama merdeka. Kroasia merdeka pada 25 Juni 1991 dan berhasil bangkit dari kehancuran pasca-Perang Kemerdekaan melawan Serbia (1991-1995).


Kerusuhan Suporter Pemicu Perang


Stadion Maksimir, kandang tim Dinamo Zagreb, menjadi saksi bisu pertama terjadinya konflik fisik antara bangsa Kroasia dan Serbia kala menjadi arena pertandingan Dinamo Zagreb kontra Red Star Belgrade di Liga Utama Yugoslavia, 13 Mei 1990. Kala itu, tensi di Balkan mulai bergolak. Dua pekan sebelumnya, Kroasia menggulirkan pemilihan legislatif dengan hasil kemenangan Partai Uni Demokratik Kroasia yang dipimpin pejuang ultranasionalis Franjo Tuđman.


Naiknya Tuđman mengungkit kembali memori pahit dan dendam Perang Dunia II. “Tuđman membangkitkan semangat nasionalis rakyat yang telah lama tertidur. Memakai ikon-ikon Ustaša, yaitu simbol-simbol fasis Kroasia yang berkolaborasi dengan Nazi dalam membantai ratusan ribu orang Serbia,” sebut Franklin Foer dalam How Soccer Explains the World: The Unlikely Theory of Globalization.


Alhasil, luka lama kembali menganga. Etnis Serbia yang kekeuh mempertahankan kesatuan Yugoslavia dengan Liga Komunisnya yang mulai pecah, perlahan mendapat tekanan dari bangkitnya sayap kanan Kroasia itu. Tuđman yang juga menggunakan sepakbola sebagai alat politiknya, didukung penuh oleh Bad Blue Boys (BBB) yang merupakan suporter garis keras Dinamo Zagreb.


“Mereka (BBB) menyadari identitas mereka dan cukup berani mengekspresikan kemerdekaan Kroasia saat yang lain masih takut mengutarakannya,” cetus aktivis dan sineas Kroasia Sasa Podgorelec, dikutip Alex J. Bellamy dalam The Formation of Croatian National Identity: A Centuries-old Dream.


Konflik Balkan itu lalu tiba pada klimaksnya di Stadion Maksimir, kala Dinamo menjamu Red Star. Red Star yang bertandang ke situ dikawal sekira 3000 suporter fanatiknya, Delije. Meski beberapa tindakan kekerasan sudah muncul di luar stadion sebelum laga, “perang” sebenarnya terjadi di stadion.


Saat laga berlangsung, kedua suporter saling mengejek dan menghina. Timpukan batu jadi pelecut kerusuhan kemudian. Foer, yang kala itu meriset gangster dan hooliganisme Serbia, memaparkan bahwa Delije terpaksa mencopot papan-papan reklame sebagai tameng dari serangan lemparan batu massa BBB. Kerusuhan lalu meluas ke lapangan.


“Kejadian itu merupakan yang pertama kalinya dalam kurun waktu 50 tahun, di mana Yugoslavia melihat kelompok-kelompok etnisnya bertarung secara terbuka satu sama lain,” sambung Foer.



Para pemain pun dievakuasi. Tim Red Star diungsikan dengan helikopter, sementara para pemain Dinamo dikawal BBB sampai ke ruang ganti meski beberapa lainnya, seperti Zvonimir Boban, masih tercerai-berai. Kapten Dinamo itu lalu dijadikan pahlawan setelah berusaha melindungi beberapa anggota BBB yang dipukuli polisi dengan melancarkan tendangan kungfu.


Kendati mendapat sanksi enam bulan larangan bertanding dan dakwaan hukum dari Induk Sepakbola Yugoslavia, Boban tak menyesal. “Inilah saya, wajah publik yang siap mengorbankan nyawa, karier, dan segala hal yang membuat tenar. Semua karena satu gagasan, satu cita-cita: Cita-Cita Kroasia,” ujar Boban lantang, dilansir CNN, 13 Januari 2011.


Kerusuhan itu menimbulkan ratusan korban dengan beragam luka, mulai dari luka lemparan batu hingga luka oleh tembakan senjata api. Kerusuhan baru reda setelah polisi mendatangkan kendaraan lapis baja dan water cannon.


Kurang dari setahun berselang, Perang Kemerdekaan Kroasia pecah (31 Maret 1991-12 November 1995) sebagai bagian dari Perang Yugoslavia. Lantaran aktivitas sepakbola terhenti, basis-basis fans, terutama BBB, meleburkan diri menjadi kelompok paramiliter yang menjadi inti HV (Angkatan Darat Kroasia). “Karena saat itu AD Kroasia belum punya emblem, para serdadunya menempelkan emblem (klub) Dinamo ke seragam mereka,” sambung Bellamy.



Mereka berhadapan dengan militer Serbia yang juga diperkuat kelompok paramiliter SDG (Garda Sukarela Serbia) pimpinan Zeljko ‘Arkan’ Raznatovic yang notabene  dedengkot Delije. Anak buah Arkan para anggota Delije. Data Institute for War and Peace Reporting (IWPR) menyebutkan, Perang Kroasia itu menewaskan sekira 15 ribu orang di pihak Kroasia dan lebih dari enam ribu lainnya di pihak Serbia sampai berakhirnya perang yang dimenangi Kroasia. Pada 25 Juni, Kroasia atau Republika Hrvatska memproklamirkan kemerdekaan.



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
transparant.png
bottom of page