- Randy Wirayudha

- 2 jam yang lalu
- 5 menit membaca
GENAP tujuh dekade berlalu, Olimpiade Musim Dingin kembali dihelat di Cortina d’Ampezzo, Italia. Pegunungan indah di selatan Pegunungan Alpen itu pernah jadi host pada 1956. Pada edisi ke-25 yang digelar 6-22 Februari 2026 mendatang, akan banyak diramaikan partisipan debutan. Salah satunya negeri jiran, Singapura.
Faiz Basha, atlet ski putra Singapura, mencetak sejarah dengan jadi wakil pertama “Negeri Singa” ke Olimpiade Musim Dingin 2026 di Cortina d’Ampezzo. Ia memastikan diri setelah lolos kualifikasi kategori slalom di cabang ski Alpen, cabang yang lazimnya didominasi atlet-atlet Eropa.
“Dan di edisi olimpiade ini kualifikasinya paling sulit dalam sejarah. Maka keberhasilan pencapaian ini adalah hal yang sangat besar bagi saya. (Walaupun) Saya tidak terlalu merasakan tekanan karena saya menganggap (olimpiade) ini selayaknya kompetisi lain seperti yang saya ikuti di China, Turki, Swedia, dan Finlandia,” kata Faiz kepada CNA, 28 Januari 2026.
Pencapaian “saudara” dari negeri Jiran itu semestinya bisa jadi motivasi bagi negara-negara tropis di Asia Tenggara lain, termasuk Indonesia, untuk mengukir nama di “peta” olahraga musim dingin yang berpuncak di Olimpiade Musim Dingin. Sebab, negara tetangga lain, Filipina, juga tercatat jadi negara Asia Tenggara pertama yang langganan berpartisipasi sejak 1972 atau Timor-Leste yang sudah hadir sejak 2014.

Dari Meksiko hingga Timor-Leste
Olimpiade Musim Dingin baru hadir pada 1924 di Chamonix, Prancis. Edisi pertama itu dihelat 28 tahun setelah olimpiade musim panas pertama berlangsung. Inisiatifnya datang dari seorang jenderal veteran Swedia, Viktor Gustaf Balck, yang juga mempelopori ajang olahraga musim dingin pertama bernama Nordic Games pada 1901. Balck sendiri tak hanya anggota lama atau Komite Olimpiade Internasional (IOC) namun juga kawan dekat pelopor Olimpiade modern, Pierre de Coubertin.
“Jenderal Balck percaya olahraga-olahraga musim dingin patut mendapatkan momennya sendiri untuk bersinar meskipun mulanya banyak orang tak setuju dengannya. Nordic Games mungkin bukan ajang global tetapi itu adalah langkah berani pertama. Koneksi Balck dengan Coubertin memainkan peran besar olahraga-olahraga musim dingin mendapatkan pengakuan walau jalannya tidaklah mudah,” tulis James Bren dalam The History of the Winter Olympics.
Milestone pertamanya terjadi ketika cabang seluncur indah (figure skating) ditambahkan sebagai cabang resmi yang dipertandingkan di Olimpiade Musim Panas London 1908. Lalu, pada Olimpiade Musim Panas 1912 di Stockholm, anggota IOC dari Italia Eugenio Brunetta d’Usseaux mengusulkan pekan khusus olahraga musim dingin untuk memancing perhatian lebih besar. Pada Olimpiade Musim Panas 1920 di Antwerp, giliran dua cabang –yakni figure skating dan hoki es– ditambahkan.
“Pada 1921, IOC menggelar kongresnya. Salah satu keputusan besarnya untuk Olimpiade Musim Panas berikutnya di Prancis 1924, akan disertai event khusus untuk olahraga-olahraga musim dingin. Ajangnya akan disebut ‘International Winter Sports Week’ yang akan diampu langsung IOC. Kota Chamonix dipilih sebagai tuan rumah jang baru ini. Ya, meski saat itu belum disebut Olimpiade Musim Dingin, akan tetapi itulah yang jadi ajang pertama resminya. Diikuti 16 negara dengan total 258 atlet –11 di antaranya putri. Mereka bertanding di cabang figure skating, speed skating, curling (gelincir batu), bobsled/bobsleigh (kereta selusur), dan aneka kategori ski,” tambahnya.
Ajang di Chamonix itu sukses besar dan mengukir sejarah hingga kelak diakui sebagai Olimpiade Musim Dingin pertama. Maka setahun kemudian IOC memutuskan ajang-ajang olahraga musim dingin harus dipisahkan dari Olimpiade Musim Panas. Hasilnya, sejak 1928 Olimpiade Musim Dingin mendapatkan tempatnya sendiri sebagaimana impian Jenderal Balck.

Kendati pada edisi-edisi berikutnya hingga sekarang lazim dihelat di negara-negara Eropa, Amerika Utara, atau negara-negara Asia dengan empat musim seperti Korea dan China, pesta olahraga itu tergolong inklusif. Banyak negara non-empat musim atau tak punya musim dingin pun ikut serta.
Meksiko sebagai negara sub-tropis sudah berpartisipasi sejak Olimpiade Musim Dingin 1928 di St. Moritz, Swiss. Mereka tampil hanya dengan lima atlet di cabang bobsled, di mana hasilnya masih sekadar finis ke-11 dari 23 kontingen. Kelak, Meksiko baru ikut lagi di Olimpiade Musim Panas 1984 di Sarajevo.
Bolivia jadi negara Amerika Selatan pertama yang tampil di Olimpiade Musim Dingin 1956. Pada edisi berikutnya tahun 1960 giliran Afrika Selatan yang jadi negara Afrika pertama yang berpartisipasi dengan mengirim empat atlet figure skating-nya.
“Sepanjang 1960-an angka partisipannya kian bertambah, terlepas dari kondisi iklim, topografi, dan sejarah olahraga musim dinginnya. Meskipun eksistensi para atlet yang mewakilinya pada awalnya datang dari jalan-jalan yang tak biasa. Semisal wakil peratma India, Jeremy Bujakowski aslinya orang Polandia yang orangtuanya menetap di Kalkuta,” sebut David Goldblatt dalam The Games: A Global History of the Olympics.
Atau seperti kasus atlet ski Alpin asal Filipina, Ben Nanasca dan sepupunya, Juan Cipriano. Goldblatt mencatat keduanya adalah pencari suaka dan kemudian diadopsi keluarga asal Selandia Baru yang kemudian tinggal di Pegunungan Andorra. Maka Nanasca dan Cipriano jadi dua wakil Filipina pertama yang berpartisipasi di Olimpiade Musim Dingin Sapporo 1972.
“Dalam empat Olimpiade Musim Dingin berikutnya, Filipina mengirimkan lima wakilnya – tiga di ski Alpine dan masing-masing satu lainnya di figure skating dan luge (kereta salju). Hasil terbaik mereka diraih pada 1992 ketika atlet ski Alpine Michael Teruel finis di urutan ke-49 dari 119 peserta di event slalom putra,” catat John Grasso, Bill Mallon, dan Jeroen Heimans dalam Historical Dictionary of the Olympic Movement.

Kendati begitu para peserta dari negara-negara non-musim dingin itu tampil bukan sekadar “makan angin”. Tak sedikit yang kemudian punya prestasi meski hingga kini belum satupun yang pulang dengan medali di tengah masih dominannya kontingen-kontingen Eropa dan Amerika Utara.
Setidaknya kehadiran mereka membuktikan bahwa negara-negara tropis pun mampu bersaing. Termasuk negara-negara kawasan Asia Tenggara. Setelah Filipina, giliran Thailand pertamakali ikut Olimpiade Musim Dingin 2002 di Salt Lake City, Amerika Serikat atas nama atlet ski cross-country, Prawat Nagvajara.
Negara tetangga, Malaysia, pun sudah tampil sejak Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeongchang, Korea Selatan. Dua atlet yang mewakilinya adalah Julian Yee (figure skating) dan Jeffrey Webb (ski Alpine). Malah negara yang masih muda seperti Timor-Leste sudah menjalani debutnya pada Olimpiade Musim Dingin 2022 di Beijing, meski hanya mengirim satu atlet ski Alpine, Yohan Goutt Gonçalves.
Bagaimana dengan Indonesia?
Di Indonesia sendiri perkembangan olahraga-olahraga musim dingin terbilang lambat. Baru tahun lalu Indonesia debut di Asian Winter Games 2025 di Harbin, China. Pun pada Juni 2025 Indonesia juga baru mendaftarkan diri di ISF atau Federasi Snowboard Internasional untuk cabang snowboarding lewat atletnya, Zazi Betari Landman.
“Keanggotaan ini bagian dari strategi besar Indonesia untuk memperluas partisipasi cabang olahraga musim dingin. Kami akan menjadikan ajang olahraga musim dingin sebagai bagian dari strategi pengembangan olahraga nasional. Ini adalah awal dari perjalanan panjang menuju panggung Olimpiade Musim Dingin dan sebagai negara tropis yang mampu berpartisipasi di multievent musim dingin,” kata Harry Warganegara, anggota komite eksekutif Komite Olimpiade Indonesia, dilansir RRI, 21 Juni 2025.













Komentar