top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Kisah Wanita Paling Mematikan di Italia

Produk kecantikan yang digandrungi perempuan Italia ini ternyata racun yang diramu oleh perempuan paling mematikan.

31 Jan 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Manna of St. Nicholas atau Aqua Tofana, racun yang mematikan. (Wikimedia Commons).

  • 31 Jan
  • 4 menit membaca

BANGUNAN di Italia itu tampak biasa jika dilihat secara kasat mata. Namun, bagi para perempuan muda yang menjadi korban kekerasan rumah tangga oleh suami mereka, atau orang-orang yang ingin menguasai harta kekayaan pasangannya, bangunan tersebut menjadi tujuan yang tepat untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Yakni, Aqua Tofana, sebuah racun yang dikemas seperti produk kecantikan yang memiliki efek mematikan pada abad ke-17.


Menurut sejarawan Mike Dash dalam “Aqua Tofana”, termuat di Toxicology in the Middle Ages and Renaissance, Aqua Tofana adalah nama yang diberikan kepada racun yang, menurut catatan kontemporer, pertama kali diciptakan di Sisilia sekitar tahun 1630 dan digunakan secara luas di Roma pada pertengahan abad ke-17.


“Racun ini dibuat dan didistribusikan oleh sekelompok ‘wanita bijak’ kepada klien yang hampir seluruhnya perempuan, dan digunakan terutama untuk membunuh suami yang kejam atau tidak diinginkan.... Racun Aqua Tofana merupakan larutan yang mengandung arsenik dan timbal, dan mungkin juga ditambahkan corrosive sublimate yang merupakan istilah kontemporer untuk klorida merkuri,” tulis Dash.

Catatan pertama tentang Aqua Tofana berasal dari tahun 1632-1633, ketika itu dua persidangan pembunuhan dengan racun berlangsung di Palermo, Sisilia. Dalam persidangan pertama pada 1632, seorang wanita bernama Francesca la Sarda dieksekusi karena menggunakan racun untuk membunuh korbannya dalam waktu tiga hari. Sedangkan pada Juli 1633, wanita lain, Teofania di Adamo, dihukum mati karena kejahatan serupa.


Informasi mengenai pembuat racun yang bereaksi secara lambat tapi mematikan itu cukup beragam. Andrew Bisset menulis dalam Essay on Historical Truth, Tofana atau Tofania merupakan otak di balik terciptanya Aqua Tofana. Ia penduduk Sisilia yang pernah tinggal di Palermo lalu Naples. “Kapan dia mulai menjalankan profesinya tidak pernah dicatat; tetapi pasti pada usia yang sangat muda, dan sebelum tahun 1659,” tulis Bisset.


Sementara itu, James C. Whorton mencatat dalam The Arsenic Century, Toffania, Tophana, atau Tophania menjual Aqua Toffana yang mengandung arsenik dengan kedok sebagai losion kosmetik. Senyawa arsenik memiliki sifat tertentu jika dikonsumsi dalam dosis yang tepat, tetapi klien Tofana tampaknya lebih berminat menggunakan senyawa tersebut untuk melenyapkan pasangan mereka daripada memanfaatkannya untuk menghilangkan noda di kulit.


Aqua Tofana bekerja sangat lambat, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan. Inilah yang membuat produk tersebut menjadi primadona bagi mereka yang “membutuhkannya”. Jika diberikan sesuai dengan instruksi yang diberikan, Aqua Tofana dapat menyebabkan kematian pada hari yang telah ditentukan. Seorang dokter dari abad ke-18 memeriksa pasien yang mengonsumsi Aqua Tofana dalam kurun waktu tertentu akan sulit mengidentifikasi bahwa ia telah diracuni.


“Seorang dokter di abad itu bisa saja menyatakan seseorang yang mengonsumsi racun tersebut mengalami ‘penurunan bertahap pada vitalitas hidupnya tanpa gejala yang parah; perasaan sakit yang tak terdefinisikan, kehilangan tenaga, demam ringan, kurang tidur, nafsu makan dan minum yang menurun, serta perasaan kehilangan semangat serta kenikmatan hidup lainnya’, setelah sejumlah hal itu terjadi, tinggal menunggu waktu hingga hidup sang korban benar-benar berakhir,” jelas Whorton.

Melalui kerahasiaan yang ketat, perubahan alamat, dan penyamaran yang rutin dilakukan, Tofana berhasil menghindari deteksi selama puluhan tahun....Diperkirakan 600 orang telah tewas akibat produk racikannya, “termasuk rumor, dua orang paus turut menjadi korban. Jadi, bukan hanya suami yang harus takut pada Tofana, tetapi orang-orang yang memiliki kekuasaan juga rentan. Pejabat Naples bahkan melaporkan bahwa Aqua Tofana ‘menjadi momok bagi setiap keluarga bangsawan di kota itu’,” tambah Whorton.


Tofana meracik ramuan racun dengan teliti dan berhati-hati, sehingga sulit mengidentifikasi apakah produk kecantikan di meja rias para wanita Italia benar-benar untuk bersolek atau alat untuk merenggut nyawa seseorang. Racun Tofana digambarkan sebagai cairan jernih tak berasa. Empat atau enam tetes dianggap dosis yang cukup. Namun, pendapat umum menyatakan cairan itu dapat disesuaikan atau diatur sedemikian rupa sehingga dapat membunuh dalam waktu tertentu, mulai dari beberapa hari hingga setahun atau lebih.


Meskipun mampu menutupi praktiknya selama kurun waktu tertentu, Tofana atau Teofania di Adamo dan Francesca la Sarda, yang berperan sebagai asisten Tofana, akhirnya terbongkar. “Hukuman yang sangat berat dijatuhkan kepada di Adamo menunjukkan bahwa kejahatannya dianggap tindakan yang sangat kejam; ada sejumlah catatan yang menyampaikan bahwa ia dihukum gantung, dipotong menjadi empat bagian, atau dibungkus dan diikat hidup-hidup dalam sebuah kantong....[dan] dilemparkan dari atap istana uskup ke jalan di hadapan rakyat,” jelas Dash.


Rekan-rekan Tofana yang selamat dari penangkapan massal di Palermo melarikan diri ke Roma. Mereka terus memproduksi dan menjual Aqua Tofana. Kelompok ini dipimpin oleh Giulia Tofana, putri Tofana, yang memelajari cara membuat ramuan racun itu dari ibunya. Ia didampingi oleh Girolama Spara dan merekrut beberapa orang di Roma yang memiliki pengetahuan tentang kota dan penduduknya. Menurut penyelidikan pada akhir 1650-an, kelompok Tofana memeroleh arsenik melalui seorang pemuka agama di Roma, dari saudaranya seorang apoteker yang memiliki akses ke senyawa beracun tersebut.

Dash mencatat, setelah Guilia Tofana meninggal sekitar tahun 1651, Spara mengambil alih pimpinan jaringan rahasia tersebut. Spara merupakan janda bangsawan Florentine dan memiliki koneksi yang cukup kuat ke kalangan aristokrat. Sementara rekan kerjanya, Giovanna de Grandis, menangani klien dari kelas sosial yang lebih rendah. Penyelidikan menyatakan, kedua wanita itu mendapatkan arsenik dari seorang pemuka agama dan menyamarkannya dengan mengubahnya menjadi cairan dalam botol kaca yang disebut “Manna of St. Nicholas”, sebuah produk yang dipromosikan sebagai minyak penyembuh populer dan dijual sebagai ramuan untuk menghilangkan noda di wajah.


Jaringan yang dipimpin Spara akhirnya menarik perhatian otoritas Romawi pada 1658. Dalam biografi tentang Paus Alexander VII disebutkan bahwa kabar tentang racun pertama kali bocor di ruang pengakuan dosa. Sementara itu, catatan pengadilan menceritakan kisah pernikahan yang tidak bahagia dan menawarkan jumlah besar untuk racun yang akan membunuh suaminya.


“Sidang terhadap anggota jaringan Aqua Tofana yang tersisa mendengarkan bukti tentang 46 pembunuhan. Lima pemimpin jaringan, termasuk Spara dan de Grandis, digantung di hadapan kerumunan orang dan lebih dari 40 pelanggan kelas bawah jaringan tersebut diadili bersamaan, kebanyakan di antaranya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup....[tahun] 1838 sejarawan Alessandro Ademollo menemukan bukti yang menunjukkan bahwa nama-nama beberapa korban yang lebih terkemuka secara sosial sengaja dihilangkan dari persidangan atas perintah Paus. Yang paling terkenal di antaranya adalah Duke of Ceri, bangsawan Roma yang dikabarkan diracuni oleh istrinya yang jauh lebih muda. Duchess tersebut lolos dari hukuman, tetapi diperintahkan untuk menikah lagi,” catat Dash.*



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Ahem Erningpraja Salah Satu Pejuang THR

Ahem Erningpraja Salah Satu Pejuang THR

Ahem Erningpraja getol ikut memperjuangkan agar buruh bisa berlebaran dengan ceria seperti sekarang.
Kebrutalan Paman Sam dalam Pembantaian My Lai

Kebrutalan Paman Sam dalam Pembantaian My Lai

Serangan AS ke sekolah Iran akibat kesalahan data intelijen. Hal fatal serupa pernah terjadi di Vietnam yang berujung pembantaian.
When Telenovela Stars Visited Indonesia

When Telenovela Stars Visited Indonesia

Several telenovela lead actors made a visit to Indonesia. They were welcomed by thousands of fans and left with unforgettable memories.
Snouck Hurgronje di Jeddah dan Makkah

Snouck Hurgronje di Jeddah dan Makkah

Snouck Hurgronje pergi ke Jeddah dan Makkah untuk mengamati dan menggali informasi mengenai umat Islam dari Hindia Belanda.
The Bitter Life of Sutan Sjahrir

The Bitter Life of Sutan Sjahrir

Towards the end of his life, Sutan Sjahrir lived as a prisoner under medical care. As bitter as it was, that period was the only time his daughter ever experienced life as part of a complete family.
bottom of page