top of page

Cara Farid Hardja Bikin Lagu

Penyanyi nyentrik asal Sukabumi ini sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik "Ngak Ngik Ngok" ini sudah bermusik.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 57 menit yang lalu
  • 3 menit membaca

GITARIS band Gigi Dewa Budjana punya kenangan pahit maupun manis dengan penyanyi legendaris Farid Hardja. Suatu kali, Budjana muda hendak mendatangi penyanyi unik yang dandanan sewaktu mudanya mirip Elton John itu. Berbekal sebuah surat, Budjana pun mendekat Denny Sabrie yang menjadi manager band Bani Adam yang didirikan Farid.

 

“Farid lagi sibuk, jadi nggak bisa ketemu,” kata Denny Sabrie kepada Budjana, yang hanya bisa melihat Farid Hardja dari kejauhan, dikutip Adib Hidayat dalam Gigi: Peace, Love & Respect.

 

Budjana pun pulang dengan kecewa. Bagi Budjana, itu adalah pengalaman pahit. Tak jadi bertemu bintang idola.

 

Namun, Budjana tak pernah putus asa. Pada 1988, dirinya sudah berada di Jakarta jadi gitaris dan akrab dengan industri musik Indonesia. Pada tahun-tahun itu, laki-laki kelahiran Agustus 1963 itu jadi session player yang kerap mengiringi banyak penyanyi dalam rekaman. Termasuk Farid Hardja. Bedanya, kini Farid sudah paham kemampuan Budjana.

 

Budjana pernah indekos di daerah Pondok Karya. Farid pernah menghampirinya di sana. Budjana semula tidak yakin bahwa Farid yang datang bertamu. Baru setelah melihat Farid keluar dari taksi, Budjana yakin itu adalah Farid.

 

“Ayo rekaman, Budj,” kata Farid mengajak sang gitaris.

 

Farid, yang kelahiran Sukabumi pada 7 September 1950, sudah jadi penyanyi sohor di awal era 1990-an itu. Lagu-lagunya seperti “Asmara”, “Karmila”, “Romantika Di Amor”, “Ini Rindu” kerap muncul di televisi dan mengalun radio hingga disukai banyak pendengar musik Indonesia. Musik pop Farid diperkaya dengan rap dan reggae.

 

Capaian itu jelas tak setahun-dua diupayakan Farid. Setidaknya Farid sudah terjun ke dunia musik sejak usia belasan tahun, sekitar 1966. Dia terbiasa dengan lagu-lagu berbahasa Inggris macam karya-karya The Beatles maupun lagu-lagu pop Indonesia hasil karya Koes Bersaudara dan lain-lain. Waktu musik rock n’roll yang dicap Sukarno sebagai “Ngak Ngik Ngok” dilarang –termasuk oleh stasiun milik negara Radio Republik Indonesia (RRI), Farid malah menikmatinya.

 

“Saya hanya bisa dengar dari Radio Malaya, waktu itu. Namanya memang Malaya, bukan Malaysia. Atau Radio Singapura, atau Radio Australia. Jam-jam tertentu, kapan ada jam acara musik saya tahu. Sehingga saya punya jadwal dengar lagu, seperti punya piringan hitam sendiri,” kenang Farid Hardja kepada Mutiara edisi 24-30 Januari 1995.

 

Selain di radio, kala itu musik bisa didengarkan lewat kaset pita dan piringan hitam.

 

“Saya bisa menghafal lewat radio-radio. Meskipun bahasanya kacau,” aku Farid.

 

Meski begitu, teman-teman Farid terus mendorong Farid yang bersemangat. Mereka pun menasehati Farid. “Farid kamu kalau nyanyi lagu Inggris, di-inggris-kan lagi ya,” kata mereka.

 

Entah kenapa, Farid belakangan justru lebih sering menyanyikan lagu-lagu berbahasa Indonesia. Mungkin dia insyaf pasarnya adalah orang Indonesia yang saat itu mayoritas masih belum “melek” Inggris.

 

Meskipun begitu, Farid sadar akan penampilan. Setidaknya itu mungkin bisa dijual meskipun lagu-lagunya “melempem”, terbukti dari tidak berkibarnya nama Farid meski sudah bikin album berisi lagu-lagu berbahasa Indonesia di Bandung. Maka, dandanan Farid di era 1970-an sengaja dibuat mirip Elton John dan itu konsisten dia tampilkan.

 

Keunikan itu agaknya yang menjadi nilai plus bagi Farid. Suatu kali di pertengahan 1970-an, Denny Sabrie sebagai salah seorang pencari bakat musik, bertemu dengannya. Farid kala itu sudah punya band bernama Bani Adam. Denny pun melihat keunikan Farid yang bisa “dijual”.

 

“Waktu itu Denny Sabrie mengenalkan saya dengan Jackson Records,” aku Farid.

 

Jackson Records merupakan label milik Jackson Arief (1949-1994) yang berada di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Senang membuat gebrakan dengan menawarkan hal baru, label yang awalnya produsen film tersebut melahirkan nama-nama beken seperti Vina Panduwinata, Franky and Jane, dan Ebiet G. Ade.

 

Jackson Records yang senang menggebrak sesuatu yang konvensionil, kepincut pada Farid. Menawarkan hal baru pada pecinta musik tanah air saat itu yang masih didominasi lagu-lagu sendu kemungkinan jadi alasan di balik kerjasama Jackson Records dan Farid.

 

“Buktinya, sesudah meninggalkan bisnis elektronika, Jackson (awal 1978) menggaet Farid Bani Adam (Farid Hardja) –penyanyi asal Sukabumi, bertubuh gempal dan botak – ke studio rekamanannya. Saat itu udara musik pop masih dikuasai warna sendu nyanyian Koes Ploes dan Kelompok Favourite,” kata buku Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1983-1984.

 

Kerjasama Farid dan Jackson Records pun sukses melahirkan album Karmila. Dalam album itu, Farid diiringi rekan-rekannya di band bernama Bani Adam –dinamakan demikian karena Farid yakin kita semua adalah keturunan Nabi Adam.  

 

Album Karmila dengan hits berjudul sama, “Karmila”, menjadi album sukses pertama Farid. Lagu “Karmila” sendiri termasuk salah satu lagu Farid yang terkenal dan diingat banyak pendengarnya. Karmila melejitkan nama Farid. Meski kemudian dirinya berganti label, nama Farid sudah menjadi jaminan bagi album-albumnya berikutnya.

 

Tak hanya menyanyi, Farid pernah jadi pemain bass ketika main band semasa muda. Farid juga pandai membuat lagu. Dalam mengarang lagu, biasanya setelah nada-nada tersusun di kepala, Farid akan mengeluarkannya dengan menyanyikannya dengan bantuan iringan gitar. Setelah itu, barulah lagu akan ditata dengan bantuan penata musik. Dia tidak tergantung pada alat musik tertentu untuk menuliskan lagu.

 

“Saya nggak pernah terikat sebab saya jalan kaki juga terus mengarang di otak. Kepala saya terus membuat lagu. Apakah itu sedang di mobil, jalan kaki dan di mana saja. Saya tidak pernah terikat pada alat musik,” ujar Farid yang tutup usia di Jakarta pada 28 Desember 1998.

 

 

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi ini sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik "Ngak Ngik Ngok" ini sudah bermusik.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi ini sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik "Ngak Ngik Ngok" ini sudah bermusik.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
transparant.png
bottom of page