top of page

Eksperimen Penjara Berujung Malapetaka (Bagian II)

Eksperimen penjara Stanford dihentikan setelah banyak tahanan yang menunjukkan gangguan psikologis dan para penjaga berlaku sewenang-wenang.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Mahasiswa yang berperan sebagai tahanan dalam eksperimen penjara Stanford berbaris dalam apel di penjara tiruan di rubanah Jordan Hall, Universitas Stanford, Amerika Serikat, 1971. (Wikimedia Commons).

15 Mei
5 menit membaca

DARI kantor polisi, para mahasiswa yang berperan sebagai narapidana, dengan mata tertutup, dibawa ke penjara tiruan di rubanah Jordan Hall, Universitas Stanford. Mereka digeledah, ditelanjangi, dan disemprot gas antikuman, yang sebenarnya gas deodoran biasa.


Setiap tahanan menerima seragam jubah dengan nomor di dada dan dikenakan tanpa pakaian dalam. Mereka memakai kaus kaki nilon di kepala seolah-olah telah dicukur. Mereka juga dirantai di pergelangan kaki kanan siang dan malam.


Di hari pertama eksperimen, para tahanan dilarang menyebut atau dipanggil dengan nama. Identitas mereka hanyalah nomor. “Nomor identifikasi, seragam, dan topi konyol dari kaus kaki itu dimaksudkan untuk membuat para tahanan merasa tidak berdaya dan anonim,” tulis Thibault Le Texier dalam Investigating the Stanford Prison Experiment: History of a Lie.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Djalimin was sentenced to 15 years in prison for killing a Dutch man who was about to rape her. A question posed by a member of the Indonesian House of Representatives to the government led to her release.
bg-gray.jpg
Bersama Henk Sneevliet, Adolf Baars mempelopori komunisme di Indonesia. Takdir keduanya setali tiga uang, berakhir tragis di tangan Nazi.
bg-gray.jpg
Jauh di pedalaman hutan Papua yang terisolasi, sejumlah warga Lampung turut menjalani hidup sebagai tahanan politik. Salah satunya adalah Sjahmin Pandjinegara.
bg-gray.jpg
PKI memiliki tradisi intelektual yang kuat. Membawa gagasan ke tengah masyarakat melalui pendidikan dan pemberantasan buta huruf. Hasilnya menjadi salah satu partai terbesar.
Sejarawan Sri Margana menyoroti klaim-klaim kontradiktif hingga lemahnya kronologi dan paradigma. Prof. Asvi Warman Adam mempersoalkan upaya legitimasi terhadap Orde Baru.
Sejarawan Sri Margana menyoroti klaim-klaim kontradiktif hingga lemahnya kronologi dan paradigma. Prof. Asvi Warman Adam mempersoalkan upaya legitimasi terhadap Orde Baru.
Perkembangan zaman membuat tarian Jawa beradaptasi agar tetap bertahan.
Perkembangan zaman membuat tarian Jawa beradaptasi agar tetap bertahan.
Pahlawan sejatinya manusia biasa. Pengajaran sejarah mestinya bisa menghadirkan sosok humanisnya.
Pahlawan sejatinya manusia biasa. Pengajaran sejarah mestinya bisa menghadirkan sosok humanisnya.
Penelitian Belanda dan berbagai kasus gugatan pengadilan yang melibatkan mereka.
Penelitian Belanda dan berbagai kasus gugatan pengadilan yang melibatkan mereka.
Negeri-negeri yang bergulat dari masa transisi menuju demokrasi, kejahatan kemanusian di masa lalu acap menjadi beban di masa kini.
Negeri-negeri yang bergulat dari masa transisi menuju demokrasi, kejahatan kemanusian di masa lalu acap menjadi beban di masa kini.
Pemahaman secara mendalam dan berimbang terhadap peristiwa pada kurun 1959-1969 syarat menuju rekonsiliasi.
Pemahaman secara mendalam dan berimbang terhadap peristiwa pada kurun 1959-1969 syarat menuju rekonsiliasi.
transparant.png
bottom of page