- 15 Mei
- 5 menit membaca
DARI kantor polisi, para mahasiswa yang berperan sebagai narapidana, dengan mata tertutup, dibawa ke penjara tiruan di rubanah Jordan Hall, Universitas Stanford. Mereka digeledah, ditelanjangi, dan disemprot gas antikuman, yang sebenarnya gas deodoran biasa.
Setiap tahanan menerima seragam jubah dengan nomor di dada dan dikenakan tanpa pakaian dalam. Mereka memakai kaus kaki nilon di kepala seolah-olah telah dicukur. Mereka juga dirantai di pergelangan kaki kanan siang dan malam.
Di hari pertama eksperimen, para tahanan dilarang menyebut atau dipanggil dengan nama. Identitas mereka hanyalah nomor. “Nomor identifikasi, seragam, dan topi konyol dari kaus kaki itu dimaksudkan untuk membuat para tahanan merasa tidak berdaya dan anonim,” tulis Thibault Le Texier dalam Investigating the Stanford Prison Experiment: History of a Lie.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















