top of page

Eksperimen Penjara Berujung Malapetaka (Bagian II)

Eksperimen penjara Stanford dihentikan setelah banyak tahanan yang menunjukkan gangguan psikologis dan para penjaga berlaku sewenang-wenang.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 9 menit yang lalu
  • 5 menit membaca

DARI kantor polisi, para mahasiswa yang berperan sebagai narapidana, dengan mata tertutup, dibawa ke penjara tiruan di rubanah Jordan Hall, Universitas Stanford. Mereka digeledah, ditelanjangi, dan disemprot gas antikuman, yang sebenarnya gas deodoran biasa.


Setiap tahanan menerima seragam jubah dengan nomor di dada dan dikenakan tanpa pakaian dalam. Mereka memakai kaus kaki nilon di kepala seolah-olah telah dicukur. Mereka juga dirantai di pergelangan kaki kanan siang dan malam.


Di hari pertama eksperimen, para tahanan dilarang menyebut atau dipanggil dengan nama. Identitas mereka hanyalah nomor. “Nomor identifikasi, seragam, dan topi konyol dari kaus kaki itu dimaksudkan untuk membuat para tahanan merasa tidak berdaya dan anonim,” tulis Thibault Le Texier dalam Investigating the Stanford Prison Experiment: History of a Lie.


Para mahasiswa yang bertugas sebagai penjaga penjara juga mulai memainkan peran mereka. Sipir-sipir tiruan itu dibagi menjadi beberapa kelompok kecil berjumlah tiga orang dalam tiga shift. Petugas pertama berjaga dari pukul 10 pagi hingga 6 sore; petugas kedua dari pukul 6 sore hingga 2 pagi; dan petugas ketiga dari pukul 2 pagi hingga 10 pagi.


Mahasiswa yang bertugas sebagai sipir penjara dalam eksperimen penjara Stanford. (Wikimedia Commons).
Mahasiswa yang bertugas sebagai sipir penjara dalam eksperimen penjara Stanford. (Wikimedia Commons).

Para petugas penjara memakai seragam militer berwarna khaki, membawa tongkat dan peluit, serta memakai kacamata hitam tak tembus pandang dari luar untuk menyembunyikan mata dan emosi serta menghindari kontak dengan narapidana.


Pemimpin ekserimen, Philip Zimbardo berperan sebagai direktur penjara, sedangkan tim peneliti lain, David Jaffe sebagai kepala penjaga dan dua mahasiswa doktoral, Curt Banks dan Craig Haney sebagai konselor psikologis, tetapi bertindak sebagai tangan kanan Zimbardo dan Jaffe.


“Para penjaga tidak diberi instruksi atau pelatihan khusus tentang cara menjadi penjaga. Mereka bebas, dalam batas-batas tertentu, melakukan apa pun yang mereka anggap perlu guna menjaga ketertiban di penjara dan mendapatkan rasa hormat dari narapidana. Para penjaga membuat aturan sendiri yang mereka terapkan di bawah pengawasan kepala penjara David Jaffe,” tulis Le Texier.


Pada hari pertama eksperimen, para narapidana kehilangan identitas pribadi dan kesewenang-wenang kepada mereka mengakibatkan sindrom pasivitas (menerima saja), ketergantungan, dan perubahan kondisi mental dan psikologis yang memicu putus asa dan depresi. Di lain pihak, para penjaga mengalami peningkatan signifikan dalam kekuasaan sosial, status, dan identifikasi kelompok, yang membuat mereka merasa puas dalam memainkan perannya.


Dampak penelitian tak terduga kembali muncul di hari-hari berikutnya. Pada hari kedua, sikap otoriter petugas penjara memicu perlawanan para narapidana. Setelah dipaksa apel pada pukul 2.30 pagi, beberapa tahanan memberontak.


Pemberontakan itu tidak hanya mengejutkan para peneliti tetapi juga petugas penjara. Para tahanan melepas kaus kaki di kepala mereka, merobek nomor identitas, dan membarikade diri di dalam sel. Kondisi ini membuat tiga penjaga yang sedang libur dipanggil untuk membantu menangani keadaan. Sementara itu, petugas shift malam secara sukarela tetap bertugas untuk membantu meredam kerusuhan. Untuk mengendalikan keadaan, petugas penjara menyemprotkan pemadam api lalu memberikan hukuman.


Reto U. Schneider mencatat dalam The Mad Science Book, tahanan yang dianggap sebagai pemimpin pemberontakan dikurung di “The Hole”, kotak gelap di ujung koridor yang dirombak menjadi sel isolasi. Sedangkan narapidana yang tidak terlibat pemberontakan diberi perlakuan istimewa di sel khusus dan mendapat makanan lebih baik.


Tak lama setelah itu, tanpa peringatan atau penjelasan, penjaga penjara memasukkan kedua kelompok narapidana ke dalam sel yang sama. Hal ini membingungkan para narapidana dan membuat mereka saling curiga. Mereka tidak pernah lagi memberontak sebagai kelompok.


Para mahasiswa yang berperan sebagai narapidana dalam eksperimen penjara Stanford. (Wikimedia Commons).
Para mahasiswa yang berperan sebagai narapidana dalam eksperimen penjara Stanford. (Wikimedia Commons).

Penjaga penjara kemudian memberlakukan aturan-aturan yang tidak masuk akal, mendisiplinkan para narapidana secara sewenang-wenang, dan memberikan tugas-tugas yang tidak berguna.


“Mereka dipaksa memindahkan peti dari satu ruangan ke ruangan lain lalu kembali lagi, membersihkan toilet dengan tangan kosong, atau mencabut duri dari selimut mereka selama berjam-jam, setelah para penjaga menyeret selimut-selimut itu ke area semak berduri. Mereka juga diperintahkan untuk mengejek sesama narapidana atau melecehkan mereka,” tulis Schneider.


Petugas penjara juga memaksa tahanan melakukan push-up sembari tahanan lain duduk di atasnya. Hak tidur para tahanan dicabut. Mereka kerap dibangunkan pukul 2.30 pagi untuk apel. Mereka juga dipaksa menggunakan ember plastik sebagai toilet di malam hari ketika kamar mandi tidak boleh diakses setelah melewati jam yang telah ditentukan.


Batas antara eksperimen dan kenyataan mulai kabur, baik bagi narapidana maupun penjaga penjara. Semakin lama eksperimen berlangsung, semakin sering penjaga penjara diingatkan bahwa kekerasan fisik dilarang. Kekuasaan yang diberikan mengubah mahasiswa yang semula anti-kekerasan atau pasifis, menjadi penjaga penjara yang sadis. Termasuk Zimbardo yang tanpa disadarinya semakin terbawa perannya sebagai direktur penjara.


Ketika sejumlah tahanan berencana kabur, Zimbardo menghubungi kepolisian Palo Alto untuk meminta bantuan. Ia ingin memindahkan narapidana ke penjara kota lama tetapi ditolak. Dia marah besar dan menganggap kepolisian tidak dapat diajak bekerjasama dalam pengendalian narapidana.


Mahasiswa yang berperan sebagai narapidana dalam eksperimen penjara Stanford berbicara dengan Philip Zimbardo yang berperan sebagai direktur penjara. (Wikimedia Commons).
Mahasiswa yang berperan sebagai narapidana dalam eksperimen penjara Stanford berbicara dengan Philip Zimbardo yang berperan sebagai direktur penjara. (Wikimedia Commons).

Menurut F. Neil Brady dan Jeanne M. Logsdon dalam “Zimbardo’s ‘Stanford Prison Experiment’ and the Relevance of Social Psychology for Teaching Business Ethics,” termuat di Journal of Business Ethics, Vol. 7, No. 9 (September, 1988), apa yang terjadi di penjara tiruan itu selama eksperimen berlangsung sangat dramatis dan tak terduga oleh para peneliti. Dalam waktu kurang dari 36 jam, salah satu narapidana menunjukkan tanda-tanda gangguan psikosomatik yang parah dan harus dibebaskan lebih awal.


Beberapa hari berikutnya empat narapidana lain mengalami gejala psikologis parah juga dibebaskan lebih awal. Sementara para penjaga bersikap agresif, kasar, dan menikmati penggunaan kekuasaan, seringkali mengambil tugas tambahan tanpa bayaran ekstra.


Kondisi tak terduga itu dirasakan para orang tua mahasiswa ketika mengunjungi mereka di penjara. Beberapa orang tua terkejut melihat kondisi para narapidana yang lesu, sehingga meminta kepala penjara untuk memberikan kondisi yang lebih baik bagi anak-anak mereka.


Pada hari keempat, Zimbardo membentuk dewan pembebasan bersyarat agar para tahanan dapat mengajukan permohonan pembebasan dini. Hampir semua tahanan bersedia mengabaikan imbalan $15 per hari agar dibebaskan. Namun, para tahanan dikembalikan ke sel masing-masing untuk mempertimbangkan permohonan mereka. Meskipun mereka bisa menghentikan partisipasinya, mereka tak melakukannya karena persepsi mereka soal realitas telah berubah, dan mereka tak lagi memandang penahanan sebagai eksperimen.


Brady dan Logsdon menulis, para peneliti menyimpulkan bahwa eksperimen penjara menunjukkan individu-individu normal atau rata-rata dengan cepat menyesuaikan diri dengan peran-peran yang didasarkan pada perbedaan ekstrem dalam kekuasaan dan ketergantungan, serta menunjukkan perilaku patologis dan antisosial yang mendukung hipotesis situasional.


Pada hari kelima eksperimen, psikolog Christina Maslach, kekasih Zimbardo, mengunjungi penjara. Ia setuju mewawancarai para narapidana keesokan harinya. Namun, ketika dia datang ke tempat para peneliti memantau keadaan di penjara melalui kamera, dia menyaksikan peristiwa yang membuatnya mual dan marah besar kepada Zimbardo yang kelak menjadi suaminya. Perdebatan terjadi hingga akhirnya Zimbardo menyadari bahwa semua orang yang terlibat dalam eksperimen telah menyerap aspek-aspek merusak dari kehidupan penjara.


“Dirancang untuk dua minggu, eksperimen dihentikan di hari keenam. Sebagian besar petugas penjara kecewa, sementara narapidana yang tersisa gembira...Hanya enam hari penjara tiruan ditutup karena bagi sebagian besar peserta, batas antara kenyataan dan peran yang mereka mainkan sudah tak jelas lagi...Terjadi perubahan dramatis pada perilaku, pemikiran, dan perasaan mereka. Dalam waktu kurang dari seminggu, pengalaman di penjara itu menghapus pembelajaran seumur hidup; nilai-nilai kemanusiaan ditangguhkan, konsep diri ditantang, dan sisi paling buruk, serta patologis, dari sifat manusia muncul ke permukaan,” tulis Brady dan Logsdon.*


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Banyumas is one of Central Java’s rice-producing regions. However, floods and malaria caused famine in the area. This issue caught the attention of a member of the House of Representatives.
bg-gray.jpg
Percobaan bom nuklir-hidrogen oleh Amerika Serikat di Kepualaun Eniwetok di Pasifik merisaukan seorang anggota DPR. Mendorong pemerintah galang sikap penolakan di pentas internasional.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
Eksperimen penjara Stanford dihentikan setelah banyak tahanan yang menunjukkan gangguan psikologis dan para penjaga berlaku sewenang-wenang.
Eksperimen penjara Stanford dihentikan setelah banyak tahanan yang menunjukkan gangguan psikologis dan para penjaga berlaku sewenang-wenang.
Lomba asah-otak layaknya cerdas cermat mulanya untuk para serdadu Perang Dunia II. Radio hingga televisi lantas mengadaptasinya untuk pelajar.
Lomba asah-otak layaknya cerdas cermat mulanya untuk para serdadu Perang Dunia II. Radio hingga televisi lantas mengadaptasinya untuk pelajar.
Pernah mendirikan band The Steps yang sohor di akhir 1960-an, Tinton Soeprapto justru meninggalkan dunia musik dan kembali ke dunia otomotif.
Pernah mendirikan band The Steps yang sohor di akhir 1960-an, Tinton Soeprapto justru meninggalkan dunia musik dan kembali ke dunia otomotif.
Peristiwa ini berawal dari ketegangan yang dipicu oleh kecemburuan sosial dan tekanan ekonomi. Aksi kekerasan, penjarahan, dan pembakaran meninggalkan luka sosial yang mendalam.
Peristiwa ini berawal dari ketegangan yang dipicu oleh kecemburuan sosial dan tekanan ekonomi. Aksi kekerasan, penjarahan, dan pembakaran meninggalkan luka sosial yang mendalam.
Horison lahir dari stabilitas politik rezim Orde Baru. Majalah sastra berpengaruh ini bertahan selama enam dekade.
Horison lahir dari stabilitas politik rezim Orde Baru. Majalah sastra berpengaruh ini bertahan selama enam dekade.
Dari tuntutan jam kerja hingga perlindungan pekerja. Perjuangan buruh mengalami perubahan, namun tujuannya tetap satu: keadilan.
Dari tuntutan jam kerja hingga perlindungan pekerja. Perjuangan buruh mengalami perubahan, namun tujuannya tetap satu: keadilan.
transparant.png
bottom of page