- 16 jam yang lalu
- 3 menit membaca
INDONESIA memiliki berbagai museum seni rupa. Tersebar dari Sumatra hingga Papua. Namun, kebanyakan museum seni rupa di Indonesia terkonsentrasi di Jawa dan Bali. Ditilik dari statusnya, pada umumnya museum berada di bawah pengelolaan pemerintah. Namun, dewasa ini banyak juga museum milik kolektor maupun swasta.
“Kalau saya boleh berbicara jujur, perkembangan seri rupa Indonesia sampai hari ini sebagian besar bukan karena sistem negara yang kuat, tetapi karena sektor swasta, terutama para kolektor. Dan kalau kita melihat realitas secara objektif, sebagian besar kolektor yang menopang seni rupa Indonesia selama beberapa dekade terakhir, datang dari saudara-saudara kita warga keturunan Tionghoa,” kata seniman Teguh Osentris dalam diskusi publik “Ekosistem Museum Seni Rupa Indonesia: Terhubung atau Terfragmentasi” di Galeri Nasional, Jakarta, 19 Mei 2026.
Menurut Teguh, para kolektor swasta tak keberatan membeli karya seniman, membangun galeri, hingga mendukung pameran. Mereka juga menjaga seniman agar tetap bisa berkarya. Tanpa mereka, barangkali banyak seniman yang tenggelam. Sementara itu, negara sampai hari ini cara berpikirnya masih sangat kuat dalam administrasi dan material. Ini terlihat dari bagaimana museum-museum seni milik pemerintah dijalankan.
“Yang bisa dihitung adalah berapa kilo besinya, berapa meter platnya, berapa biaya tukang, berapa liter catnya. Tetapi, belum ada perangkat yang benar-benar matang untuk menilai gagasan, orisinalitas, pengalaman artistik, dan nilai kebudayaan. Padahal, inti karya seni justru berada di wilayah yang tidak kasat mata itu,” sentilnya.
Seni adalah alat pembentukan kualitas manusia. Seni membangun sensitivitas, empati, dan membangun kehalusan berpikir. Karena itulah, kehadiran museum yang menjadi etalase karya-kaya seni menjadi sangat penting. Ia bukan sekadar tempat menyimpan benda mati.
Bagi Teguh, museum menjadi ruang tempat sebuah bangsa belajar membaca dirinya sendiri. Selain itu, museum berfungsi sebagai ruang konservasi memori, ruang pendidikan visual, ruang kontemplasi, dan tempat masyarakat belajar memahami zaman. Tanpa museum yang sehat, seni rupa jatuh hanya menjadi komoditas pasar.
“Harga karya akhirnya ditentukan oleh spekulasi dan sejarah seni bisa dipelintir oleh kekuatan modal,” tandasnya.
Sri Kusumawati, kepala Unit Pengelola Museum Seni Jakarta, mengakui bahwa museum, khususnya museum seni rupa belum menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Dalam arti, pengunjung yang datang ke museum bukan sebagai bagian dari kebutuhan atau kebiasaan hidup berkala. Masyarakat yang berkunjung ke museum pada umumnya didominasi oleh rombongan-rombongan anak sekolah.
Di sisi lain, konservasi koleksi museum juga menjadi tantangan tersendiri. Di museum seni rupa di bawah pemerintah Provinsi DKI Jakarta terdapat lebih dari 19.000 koleksi. Kesulitan terjadi manakala koleksi museum yang rentan rusak, seperti lukisan atau patung, dihadapkan pada kondisi iklim, seperti lembap dan panas serta tempat yang kurang memadai.
Misalnya, Museum Seni Rupa Keramik di Jakarta Barat yang berada di bangunan cagar budaya dari masa kolonial merupakan gedung dewan kantor kehakiman sejak 1866. Karena bukan dirancang sebagai museum, maka ruangan kantor-kantor difungsikan sebagai ruang pameran koleksi. Selain tata ruang yang tidak ideal, tingkat kelembapan juga tinggi sehingga rentan terhadap koleksi. Jarak pandang yang terlalu dekat juga bisa menyebabkan kerusakan benda koleksi akibat bersentuhan dengan pengunjung.
“Jadi kondisi iklim, keterbatasan sumber daya manusia dan keterbatasan anggaran, ini menjadi tantangan buat kita. Kemudian yang menjadi masalah museum-museum di DKI Jakarta adalah kami belum punya storage museum yang ideal. Jadi kalau orang museum bilang, storage museum itu jantungnya sebuah museum. 80 persen koleksi itu ada di sana, paling yang dipamerkan 20-30 persen,” jelas Sri.
Sri berharap terjalinnya sinergi antarmuseum di Indonesia. Entah itu sesama museum di bawah pemerintah maupun swasta. Saat ini ekosistem antarmuseum masih terfragmentasi atau berjalan sendiri-sendiri. Jaringannya belum solid.
“Bayangkan kalau museum-museum seni rupa di Indonesia, ada satu jaringan kerja sama yang kuat, kita bikin program yang terbaik untuk dipersembahkan kepada masyarakat, dibanding kita kerja sendiri-sendiri,” simpulnya, “Jadi kita harus membangun kerja sama sehingga bukan saling bersaing, tapi justru saling menguatkan dalam rangka memperkuat ekosistem seni rupa di Indonesia.”*



















Komentar