- 57 menit yang lalu
- 2 menit membaca
SETELAH Pulau Madura diduduki tentara Belanda, sebuah negara federal dibentuk di sana pertengahan 1948 dengan nama Negara Madura. Negara Madura lalu menunjuk 10 orang yang berpengaruh untuk duduk di parlemen mereka pada Juni 1948.
Di antara yang duduk di parlemen itu terdapat pedagang, ahli hukum, dan pensiunan pegawai dan tentara. Koran De Locomotief tanggal 10 Juni 1948 menyebut, pensiunan tentara yang dimaksud adalah Mas Singoatmodjo, pensiunan mayor dari Korps Barisan Madoera.
Menurut Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi Tentara Nasional Angkatan Darat, Mayor Singoatmodjo merupakan komandan Barisan Madoera pada pakhir zaman Hindia Belanda. Pria kelahiran 1895 itu baru berpangkat letnan dua pada 1924. Sebelumnya, Singoatmodjo pernah berpangkat Fourier, yakni sersan yang mengurusi perbekalan.
Koran Bataviasche Niuewsblad edisi 4 April 1924 menyebut dia naik pangkat menjadi letnan dua bersama Ajudan Doella dan Sersan Mayor Sengotrono. Setelah 1934, seperti dikabarkan De Locomotief tanggal 26 Maret 1934, Singoatmodjo naik pangkat dari letnan satu ke kapten. Jadi dia hanya sekitar 4 tahun menjadi kapten sebelum akhirnya berpangkat mayor.
Letnan Satu Singoatmodjo termasuk penggemar sport. Pada 1929, seperti diberitakan Soerabaijasch Handelsblad tanggal 26 November 1929, ia dan Letnan Satu Singotrono ikut serta dalam kejuaraan floret (anggar) di Malang.
Korps Barisan Madoera berada di Bangkalan. Pasukan ini adalah pasukan bantuan (Hulptroepen) bagi tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Ketika tentara Jepang akan menduduki Indonesia, Barisan Madura disiagakan untuk mempertahankan Madura dan sekitarnya. Namun setelah KNIL kalah dan Hindia Belanda menyerah kepada Jepang, Barisan Madoera ikut bubar. Ratusan anggotannya bersama Singoatmodjo sebagai komandannya kehilangan pekerjaan.
Banyak bekas perwira Barisan Madoera kemudian menjadi petugas keamanan di Keresidenan Madura. Antara lain, seperti dicatat Kan Po nomor 32 tahun 2603 Showa (1943), bekas Letnan Tjitrokoesoemo yang menjadi Itto Keibuho alias pembantu polisi kelas satu; lalu bekas letnan Abdoel Hamid, Abdoel Moekni, Imbran, Abdoel Kaffar, Mohamat Imbran, dan Kartila yang menjadi Junsa Buco alias komandan polisi.
Abdoel Kaffar merupakan bekas anak buah Singoatmodjo yang menonjol di zaman pendudukan Jepang. Dia termasuk anggota awal Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang bersidang merumuskan konstitusi bagi Republik Indonesia.
Dalam Tokoh-tokoh Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia II, MPB Manus dkk. menyebut Kaffar adalah anggota tambahan BPUPKI. Dalam sidang BPUPKI, dia mendukung ide Yamin tentang wilayah Indonesia meliputi Timor Portugal, Serawak, dan juga Papua. Menurutnya, sebagian rakyat Madura menginginkan republik sebagai bentuk negara Indonesia.
Di zaman Jepang, ada pula anak buah Singoatmodjo yang masuk tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA). Seperti Raden Pandji Abdoel Azis, yang menurut Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit. De Indonesische officieren uit het KNIL 1900-1950, menjadi komandan kompi PETA antara 1942-1943. Setelah Indonesia merdeka, Abdoel Azis masuk ke Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan menjadi komandan batalyon di dalamnya, namun setelah 1947 dia berganti pihak.
Setelah Belanda kembali ke Madura, tradisi Korps Barisan Madura diteruskan dalam Korps Tjakra Madura. Di situ, Abdoel Azis bersama Abdoel Moehni dan Abdoerahman kembali menjadi perwira seperti sebelum 1942. Mereka berseberangan dengan orang-orang seperti Mohamat Imbran yang nyaman di TNI. Imbran pernah menjadi mayor TNI.
Singoatmodjo sendiri tak ikut Tjakra Madura. Usianya sudah terlalu tua untuk menjadi perwira di pasukan bantuan yang diambil dari orang Madura tersebut.*

















Komentar