top of page

Cara Orang Madura Naik Kasta

Rakyat jelata bisa punya gelar Raden jika berprestasi di militer. Di Barisan Madura, banyak perwira tidak berdarah biru.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Seorang mayor dalam Barisan Bangkalan, Madura. (Wereldmuseum Amsterdam/Wikimedia Commons).

28 Agu 2025
3 menit membaca

GELAR, entah itu gelar militer, kebangsawanan, ataupun keagamaan, dulu adalah hal penting di banyak daerah di Indonesia. Raden, Ksatria, Haji, Kiai dan gelar-gelar lain menjadi pembeda seseorang dengan masyarakat di lingkungannya sehingga pemiliknya akan dipandang lebih tinggi.

 

Hal itu terlihat antara lain di Madura dulu, zaman Hindia Belanda. Kiai di sana bukan hanya gelar untuk seorang guru agama yang mengelola pesantren. Di kemiliteran pun gelar Kiai ada.

 

Tersebutlah seorang perwira dari Korps Barisan Madura, Letnan Satu Kaij Djaeng Logo. Barisan adalah salah satu pasukan bantuan (hulptroepen) tentara kolonial Hindia Belanda Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL). Sementara “Kaij” adalah penulisan untuk “Kiai” di era 1800-an.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
transparant.png
bottom of page