top of page

Mengalihwahanakan Peristiwa 1998

Peristiwa 1998 tetap hidup di ruang publik melalui novel, lagu, dan film. Karya kreatif ini menjadi medium pembelajaran tentang kekerasan negara terhadap warganya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Mahasiswa menceburkan diri ke kolam gedung DPR RI untuk merayakan kemenangan setelah Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran diri. (Bali Post, 22 Mei 1998).

24 Mei
4 menit membaca

KETIKA mantan Presiden Soeharto wafat pada 2008, redaksi majalah Tempo menyiapkan edisi khusus untuk mengulas kiprahnya. Edisi khusus ini dengan sampul cerita ikonik sekaligus kontroversial. Soeharto diilustrasikan duduk bersama keenam anaknya mirip peristiwa The Last Supper.


“Setelah dia pergi,” demikian judul utama (headline) Tempo edisi 4–10 Februari 2008 itu.


Salah satu wartawan Tempo, Leila S. Chudori kebagian menggarap tema pelanggaran HAM tahun 1998 di pengujung masa kekuasaan Soeharto. Leila juga membahas tentang aktivis mahasiswa yang menjadi korban rezim Orde Baru. Sebagian dari mereka mengalami penculikan, disiksa aparat, bahkan ada yang hilang atau tak diketahui keberadaannya.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page