- 1 jam yang lalu
- 4 menit membaca
KETIKA mantan Presiden Soeharto wafat pada 2008, redaksi majalah Tempo menyiapkan edisi khusus untuk mengulas kiprahnya. Edisi khusus ini dengan sampul cerita ikonik sekaligus kontroversial. Soeharto diilustrasikan duduk bersama keenam anaknya mirip peristiwa The Last Supper.
“Setelah dia pergi,” demikian judul utama (headline) Tempo edisi 4–10 Februari 2008 itu.
Salah satu wartawan Tempo, Leila S. Chudori kebagian menggarap tema pelanggaran HAM tahun 1998 di pengujung masa kekuasaan Soeharto. Leila juga membahas tentang aktivis mahasiswa yang menjadi korban rezim Orde Baru. Sebagian dari mereka mengalami penculikan, disiksa aparat, bahkan ada yang hilang atau tak diketahui keberadaannya.
Bertahun-tahun kemudian, setelah tak lagi menjadi jurnalis, Leila mengumpulkan kembali bahan reportasenya. Ia mewawancarai lagi para aktivis penyintas maupun keluarga korban. Hasilnya, jadilah novel monumental berjudul Laut Bercerita yang terbit pada 2017.
“Jadi, kalau kita mengikuti tokoh Biru Laut, kisahnya dibuka ketika dia sudah tidak ada. Dia sebetulnya sudah mati. Tapi, dia bercerita kepada pembaca bahwa bagaimana dia bernasib seperti itu,” kata Leila dalam diskusi publik “Re-Play 1998 melalui Representasi dalam Budaya Populer” di Kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat, 21 Mei 2026.
Biru Laut adalah karakter utama dalam Laut Bercerita. Seorang aktivis mahasiswa asal Yogyakarta yang mati ditenggelamkan di laut. Dalam jalinan fiksi, Leila menuliskan cerita tentang para aktivis yang diculik, kembali, dan tak kembali; tentang keluarga yang terus-menerus sampai sekarang mencari jawaban. Tak hanya merekonstruksi kembali sebuah peristiwa, Leila dalam novelnya juga menyelami seperti apa emosi dan psikologi para karakter dalam Laut Bercerita.
Setelah terbit, Laut Bercerita meraih berbagai penghargaan sastra dan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Sementara novelnya telah mencapai cetakan ke-102, kisah Laut Bercerita juga diadaptasi ke dalam film dengan judul yang sama. Selain itu, novel ini menjadi wahana alternatif untuk memahami sejarah peristiwa 1998.

Menurut Leila, dalam Laut Bercerita, dirinya tidak menciptakan sejarah. Dia menciptakan karakter yang mempunyai beban sejarah dalam dirinya. “Dengan sendirinya, kalau kita mengikuti alur hidupnya, kita juga seperti sedang menyusuri sejarah,” kata Leila.
Proses kreatif yang kurang lebih sama juga dialami Eka Annash, seniman yang lebih dikenal sebagai vokalis The Brandals, band rock asal Jakarta sejak awal 2000-an. Ketika peristiwa 1998, Eka adalah mahasiswa Universitas Trisakti yang ikut turun ke jalan menuntut turunnya rezim Soeharto.
“Saya sempat merasakan juga waktu di atas gedung DPR, alhamdulillah menyaksikan ketika Presiden Soeharto membacakan pengunduran dirinya. Kita ada di selasar dan kemudian saling berpelukan,” kenang Eka.
Dalam bermusik, Eka menciptakan lirik-lirik yang mengusung kritik sosial, misalnya tentang rakyat marjinal, korupsi, maupun ketimpangan sosial. Misalnya, lagu “Ode Pinggiran Jakarta” merepresentasikan hal tersebut. Ia mengaku terinspirasi dari lagu-lagu karya Iwan Fals yang sarat kritik terhadap pemerintah Orde Baru.
“Jadi musik yang aku bikin itu lahir dari pengalaman-pengalaman hidupku. Aku ramu. Aku paham kalau musik itu juga punya kekuatan dalam lirik-liriknya terutama bisa jadi subliminal tapi tidak terlalu ekspresif untuk disampaikan ke publik,” ungkap Eka. “Aku masih percaya dengan kekuatan musik ini, yang bisa membangun kekuatan kolektif untuk menjaga ingatan. Ingatan itu adalah senjata kita untuk melawan rezim.”
Sementara itu, sineas Yosep Anggi Noen, menyoroti begitu banyak titik buta yang tidak dapat diliput oleh media arus utama, narasi-narasi resmi pemerintah ataupun buku sejarahnya mengenai peristiwa 1998. Dari sejumlah kepingan sejarah tercecer itu, bahkan mungkin ada yang sengaja dihilangkan dan ditutupi. Itulah yang mendorongnya, sebagai sutradara untuk mengalihwahanakan babakan sejarah yang krusial itu ke dalam media film.
“Pendekatan personal saya adalah karena saya tidak pernah mengalaminya,” kata Anggi. “Jadi, saya merasa penting untuk menjadi bagian dari orang yang bukan saja mencatat, tapi juga menciptakan ketertarikan melalui hal-hal yang estetik. Kalau saya bisanya di film.”
Anggi dikenal sebagai sutradara yang melejit lewat karya Istirahatlah Kata-Kata. Film yang rilis pada 2016 ini berkisah tentang penyair Wiji Thukul yang vokal menentang rezim Orde Baru hingga akhirnya hilang tak tentu rimbanya sampai sekarang.
Lewat Istirahatlah Kata-Kata, Anggi masuk ke dalam karakter Wiji Thukul secara mendalam, sehingga yang dirasakan bukan sekedar informasi, melainkan impresi. “Saya meng-capture situasi Wiji Thukul dalam kondisi dia sedang berada dalam pelarian pasca Juli 1996. Kenapa saya menangkap itu? Karena itu yang paling tidak pernah diceritakan,” kata Anggi.
Anggi juga dipercaya untuk mengadaptasi Laut Bercerita ke layar sinema. “Laut Bercerita ini lebih komprehensif, lebih luas ceritanya. Ini adalah historical fiction, ekstraksi dari banyak orang yang pernah diwawancarai. Peristiwanya juga dikreasi kembali dalam suatu situasi yang kemudian tidak ada dalam kisah yang sesungguhnya. Tapi, memang hasil dari observasi peristiwa-peristiwa sesungguhnya,” ujar Anggi memberi sedikit bocoran filmnya yang akan rilis akhir tahun ini.
Menurut anggota Komnas HAM Abdul Haris Semendawai, banyak generasi muda saat ini yang tidak mengetahui peristiwa 1998, justru mendapatkan pemahaman dari budaya populer. Adanya karya kreatif seperti novel, lagu, dan film menunjukkan bahwa peristiwa 1998 tetap hidup di ruang publik melalui budaya populer. Ia sekaligus menjadi medium pembelajaran sosial tentang kekerasan negara, ketidakadilan, dan relasi negara dengan warga negara.
“Ingatan tentang pelanggaran HAM harus tetap menjadi bagian dari kesadaran publik. Ini tentunya menjadi tugas bersama, bagaimana kita terus menerus mengingat peristiwa masa lalu agar negara bertanggung jawab untuk menyelesaikannya,” pungkasnya.*



















Komentar