top of page

Wiji Thukul di Mana Rimbanya?

Jangan menyerahkan diri kepada ketakutan, kita akan terus bergulat, pesan aktivis Wiji Thukul lewat puisinya untuk adiknya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Aktivis Wiji 'Thukul' Widodo yang statusnya masih hilang sampai saat ini (Ilustrasi: M. A. Yusuf/Historia)

28 Agu 2023
4 menit membaca

Diperbarui: 18 Mar

WAHYU Susilo berdiri tegak di muka panggung. Melipat tangan kirinya ke punggung tetapi mantap memegang sebuah catatan di tangan kanannya. Dengan ekspresi tegar ia pun melantangkan sebuah puisi di depan mikrofon.


Apakah nasib kita akan terus seperti sepeda rongsokan karatan itu?

Oh, tidak, dik!

Kita akan terus melawan.

Waktu yang bijak bestari kan sudah mengajari kita.


Bagaimana bertahan menghadapi derita.

Kitalah yang akan memberi senyum kepada masa depan.

Jangan menyerahkan diri kepada ketakutan.

Kita akan terus bergulat.


Apakah nasib kita akan terus seperti sepeda rongsokan karatan itu?

Oh, tidak, dik!

Kita harus membaca lagi.

Agar bisa menuliskan isi kepala dan memahami dunia.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page