top of page

Republic Day Mengukir Persaudaraan India-Indonesia

Presiden Jokowi menjadi tamu kehormatan Republic Day India. Mengikuti jejak SBY dan Sukarno.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Presiden Sukarno dan Fatmawati duduk di pojok kiri saat pembacaan teks proklamasi Republik India dan pelantikan presiden pertamanya, Rajendra Prasad. Momen pertama Republic Day, 26 Januari 1950/Foto: Twitter (mantan Presiden) Pranab Mukherjee @POI13

27 Jan 2018
3 menit membaca

UNTUK ke-68 kalinya India menggelar upacara peringatan Republic Day, Jumat (26/1/2018) lalu. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi salah satu tamu kehormatan dalam perayaan yang dilangsungkan di Rajpath, New Delhi itu. Momen itu juga pertamakali India mengundang lebih dari satu kepala negara jadi tamu kehormatan (10 kepala negara ASEAN) lantaran bersamaan dengan ASEAN-India Commemorative Summit 2018.


Sebelumnya, India hanya mengundang satu kepala negara sahabat di setiap perayaan Republic Day. Perayaan ini dihelat untuk memperingati berlakunya Konstitusi India, 26 Januari 1950, sebagai penanda lahirnya India yang berbentuk republik berdasarkan demokrasi sekaligus pelantikan Presiden India pertama Rajendra Prasad.


Menjadi kehormatan besar buat Indonesia, pasalnya tamu kehormatan pertama yang diundang pada 1950 adalah Presiden Sukarno beserta Ibu Negara Fatmawati. Terlepas dari tautan kedua bangsa yang sudah terjalin berabad-abad lampau, India menjadi satu dari sedikit negara yang mengakui serta mendukung kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.


Dipenuhinya undangan Republic Day, 26 Januari 1950, menjadi bab baru dalam persaudaraan India-Indonesia. Sukarno menjadi saksi perubahan India menjadi republik sekaligus pelantikan Prasad sebagai presiden. Sukarno dan Fatmawati duduk di kursi kehormatan di Rashtrapati Bhavan, kala Gubernur-Jenderal India yang terakhir, Chakravarti Rajagopalachari, membacakan teks proklamasi Republik Demokratik India pada pukul 10.18 pagi.


“Seluruh dunia menyadari dalamnya makna kemerdekaan India. Namun saya kira tiada negara lain di dunia ini yang menyadari makna itu dengan lebih mendalam selain Indonesia,” cetus Sukarno dalam pidatonya di perayaan itu sebagaimana dikutip dari dokumen Kementerian Luar Negeri India, India’s Foreign Relations: Volume 2.


Atmosfer keakraban itu terus dilestarikan Sukarno sepulangnya dari India. Dalam surat-menyuratnya dengan Nehru, Sukarno menyatakan rasa terimakasihnya atas persaudaraan yang sangat terasa, tidak hanya dengan pemerintah, namun juga dengan rakyat India selama kunjungannya di India.


“…Saya bisa lebih meyakini bahwa tiada kepalsuan terkait hubungan persaudaraan antara negara kita karena saya dan Padma (Fatmawati) selalu bertemu saudara di mana pun kami pergi saat di India…Kami dan seluruh rakyat Indonesia menantikan kunjungan balasan Anda. Jai Hind, Soekarno,” demikian bunyi potongan surat Sukarno kepada Nehru tanggal 14 Februari 1950 yang termuat dalam biografi Nehru Civilizing a Savage World karya Nayantara Sahgal.


Sukarno sengaja menambahkan kosa kata “Jai Hind” atau “Jayalah India” –menjadi seruan populer dalam gerakan kemerdekaan India– sebagai pengingat pidatonya dan pidato Nehru kala menggelar pertemuan di Delhi University. Pertemuan itu bagian dari rangkaian lawatan Sukarno di India untuk menghadiri Republic Day. Nehru membalas surat itu pada 28 Februari dengan turut membubuhi kata, “Merdeka”.


“…Sudah lama saya memikirkan bahwa sepanjang sejarah di masa lalu, telah menyatukan bangsa kita. Arah sejarah yang membantu bangsa kita untuk saling mengenal dan berhubungan. Duta besar kami, Dr Subbarayan akan segera ke Indonesia dan semoga saya bisa menitipkan sepasang field glasses pertama buatan India. Saya juga akan mencoba mencarikan (mainan) kereta api listrik untuk anak-anak Anda. Saya akan coba minta mencarikannya kepada Perwakilan Tinggiu kami di London. Merdeka. Jawaharlal Nehru,” demikian bunyi potongan surat balasan Nehru.


Pada Maret 1952, kedua negara resmi menjalin hubungan diplomatik dengan saling mendirikan kedutaannya baik di Delhi maupun Jakarta. Empat tahun berselang, Nehru membalas kunjungan Sukarno dengan menghadiri Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung.


Indonesia kembali mendapat kehormatan dalam perayaan Republic Day 2011. Mengikuti jejak Sukarno, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi tamu kehormatan dalam perayaan itu. Dalam pidatonya, Presiden India Pratibha Patil turut mengungkit kenangan Sukarno sebagai tamu kehormatan pertama.


“Pada 26 Januari 1950 di momen proklamasi Republik India, kami merasa terhormat dengan kehadiran Presiden pertama Anda, Dr Sukarno dan Nyonya Fatmawati, sebagai tamu negara kehormatan. Hari ini, kami merasa bahagia dan terhormat pula bisa mengundang Anda sebagai tamu kehormatan pada Perayaan Republic Day ke-62. Kehadiran Anda di sini menjadi simbol semangat solidaritas bersama…,” kata Patil dalam petikan pidato itu, dikutip dari pratibhapatil.nic.in.


Kini, tujuh tahun berselang, Presiden Jokowi menjadi kepala negara Indonesia ketiga yang hadir sekaligus jadi tamu kehormatan perayaan itu. Sembilan kepala negara ASEAN lain yang juga jadi tamu kehormatan: Raja Brunei Darussalam, Sultan Hassanal Bolkiah; PM Kamboja, Hun Sen; PM Laos, Thonglun Sisoulith; PM Malaysia, Najib Razak, Kanselir Myanmar, Aung San Suu Kyi; PM Singapura, Lee Hsien Loong; PM Thailand, Prayuth Chan-ocha; PM Vietnam, Nguyen Xuan Phuc; serta Presiden Filipina, Rodrigo Duterte.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
Peringatan Presiden Soeharto akan menggebuk politisi sampai jenderal tercetus dari atas pesawat. Bikin geger begitu mendarat.
Peringatan Presiden Soeharto akan menggebuk politisi sampai jenderal tercetus dari atas pesawat. Bikin geger begitu mendarat.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Drama persaingan sekaligus persahabatan dua pembalap flamboyan legendaris yang memicu adrenalin.
Drama persaingan sekaligus persahabatan dua pembalap flamboyan legendaris yang memicu adrenalin.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
 Sejak dini, Sandiaga terobsesi beragam olahraga. Menurun dari orangtuanya
Sejak dini, Sandiaga terobsesi beragam olahraga. Menurun dari orangtuanya
Tuan rumah terhindar dari malu di Indonesia Open 2019 berkat kegemilangan ganda putra. Sektor yang dulunya dipandang sebelah mata.
Tuan rumah terhindar dari malu di Indonesia Open 2019 berkat kegemilangan ganda putra. Sektor yang dulunya dipandang sebelah mata.
transparant.png
bottom of page