- 2 jam yang lalu
- 2 menit membaca
NAMA Motinggo Boesje dikenal sebagai pengarang novel populer bernuansa erotis. Sepanjang dekade 1960–1970-an, karya-karyanya acapkali mengusung cerita panas percintaan, adegan ranjang, dan fantasi liar. Salah satunya adalah Tante Marjati, jilid pertama dari trilogi roman, yang mulanya cerita bersambung di majalah Varia pada 1967, kemudian diterbitkan Lokadjaja sebagai novel. Motinggo disebut pengarang novel yang mempopulerkan istilah tante girang.
“Motinggo mengajukan klaim bahwa istilah ‘tante girang’ yang begitu fenomenal pada 1960–1970-an berasal darinya. Istilah itu, bersama ‘oom senang’, merebak bersama menjamurnya klab malam, sebagai penanda Jakarta yang baru, bersama dengan terbukanya Indonesia bagi investasi modal asing pada Orde Baru,” kata sastrawan Seno Gumira Ajidarma dalam pengantar esai Motinggo Boesje di panajournal.
Tante girang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai wanita setengah baya yang suka bersenang-senang dengan pemuda. Seiring dengan kemuculan Tante Marjati karya Motinggo, fenomena tante girang mulai tren di Indonesia pada paruh kedua 1960. Istilah ini khususnya akrab bagi warga kota besar seperti Jakarta.
“Istilah Tante Girang konon mulanya lahir hanya dari suatu geng muda-mudi di Kebayoran Baru,” lansir Kompas, 5 April 1969. “Tante girang adalah seorang wanita muda, antara 30 sampai 40 tahun, bersuami, tapi suka bepergian dengan anak-anak muda teen-agers.”
Istilah “tante girang” kemudian disandingkan dengan “oom senang” yang punya makna sama untuk laki-laki, yaitu pria setengah baya yang suka bersenang-senang dengan wanita muda. Istilah oom senang dipopulerkan Abdullah Harahap –yang lebih dikenal sebagai penulis cerita horor– dalam novelnya berjudul Oom Senang. Baik istilah tante girang maupun om senang masih sering digunakan sampai sekarang untuk menggambarkan orientasi seksual seseorang.
“Oom senang mencari mangsa gadis-gadis ingusan, sedangkan tante girang menyeret remaja-remaja lelaki dalam kehidupan seksual,” sebut Bali Post, 18 Mei 1991.
Sebagai sebuah judul novel, pengarang Ali Shahab yang pertama kali memakainya untuk karyanya, Tante Girang: novel anak manusia. Novel ini terbit pada 1969. Ali Shahab masih belum dikenal sebagai penulis novel, sebab waktu itu masih menjadi pemimpin redaksi mingguan Indonesia Jaya. Novel Tante Girang laku keras di pasaran. Ali Shahab ikutan ketiban pulung.
“Dengan novel yang dicetak tiga kali itu saya berhasil liburan di Singapura selama dua bulan,” kenang Ali Shahab dalam Kompas, 24 Februari 1976, “dan di sana timbullah novel berikutnya.”
Kesuksesan Tante Girang menentukan langkah Ali Shahab dalam dunia kepengarangan. Dari satu novel itu, namanya dikenal sebagai penulis dan novelis. Pengakuan publik itu membuatnya kerasan untuk meneruskan karier sebagai penulis.
“Istilah-istilah ‘tante girang’ dan ‘om senang’ menjadi populer. Dan, memang saya yang mencetuskannya. Novel ini menceritakan kondisi sosial setelah peristiwa G30S-PKI. Waktu itu bermunculan bar, kasino, panti pijat, dan klub malam,” kata Ali Shahab dalam Femina, 25–31 Juli 1991, sebagaimana dikutip Bandung Mawardi dalam tulisannya di basabasi.co.
Ali Shahab kemudian lebih dikenal sebagai sutradara film dan perintis sinetron di Indonesia. Pada 1971, jebolan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta itu menyutradarai film Beranak Dalam Kubur yang dibintangi Suzzanna dan Dicky Suprapto. Sementara itu, Motinggo Boesje, kendati sempat merambah dunia sinema sebagai sutradara, citranya lebih kuat sebagai novelis.
Baik Ali Shahab maupun Motinggo Boesje di akhir masa kepengarangannya kembali ke jalur yang lurus. Pada 1990-an, Ali Shahab menggarap tema-tema nasionalisme, pendidikan, dan religius. Dia juga aktif menyantuni anak-anak yatim dan membangun masjid.
Sementara itu, Motinggo Boesje menuangkan pengalaman rohaninya dalam novel Purnama di atas Masjidil Haram setelah naik haji pada 1994. Motinggo wafat lebih dulu pada 18 Juni 1999 menyusul Ali Shahab pada 25 Desember 2018.*

















Komentar