top of page

Pengarang Tante Girang

Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Novel Tante Girang karya Ali Shahab. (IG @tuku.buku).

  • 26 Apr
  • 2 menit membaca

NAMA Motinggo Boesje dikenal sebagai pengarang novel populer bernuansa erotis. Sepanjang dekade 1960–1970-an, karya-karyanya acapkali mengusung cerita panas percintaan, adegan ranjang, dan fantasi liar. Salah satunya adalah Tante Marjati, jilid pertama dari trilogi roman, yang mulanya cerita bersambung di majalah Varia pada 1967, kemudian diterbitkan Lokadjaja sebagai novel. Motinggo disebut pengarang novel yang mempopulerkan istilah tante girang.


“Motinggo mengajukan klaim bahwa istilah ‘tante girang’ yang begitu fenomenal pada 1960–1970-an berasal darinya. Istilah itu, bersama ‘oom senang’, merebak bersama menjamurnya klab malam, sebagai penanda Jakarta yang baru, bersama dengan terbukanya Indonesia bagi investasi modal asing pada Orde Baru,” kata sastrawan Seno Gumira Ajidarma dalam pengantar esai Motinggo Boesje di panajournal.


Tante girang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai wanita setengah baya yang suka bersenang-senang dengan pemuda. Seiring dengan kemuculan Tante Marjati karya Motinggo, fenomena tante girang mulai tren di Indonesia pada paruh kedua 1960. Istilah ini khususnya akrab bagi warga kota besar seperti Jakarta.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
bg-gray.jpg
Captain Drury, a veteran of the Java Invasion, is the only British person buried in the old Dutch cemetery at the Bogor Botanical Gardens.
transparant.png
bottom of page