top of page

Catatan Digoelis Perempuan dari Tanah Pembuangan

Soekaesih menulis brosur tentang pengalaman pahit sebagai tahanan politik di Boven Digoel. Dia berkeliling kota di Belanda untuk membagikan pengalamannya. Menuntut penutupan kamp konsentrasi itu dan pembebasan para tapol.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi Soekaesih. (M.A. Yusuf/Historia.ID).

24 Apr
9 menit membaca

Diperbarui: 7 Mei

DI ATAS kapal yang berisi ratusan orang-orang yang sengaja disingkirkan ini aku memulai kisahku sebagai orang buangan. Kami, ratusan orang yang terombang-ambing di tengah laut menuju wilayah timur Nusantara, akan dibawa ke tempat tinggal baru, yaitu Boven Digoel. Tempat buangan bagi orang-orang yang dianggap pemerintah kolonial Hindia Belanda sebagai pengganggu ketertiban dan keamanan di tengah masyarakat. Kami dibuang karena dianggap ikut ambil bagian dalam pecahnya pemberontakan 1926/1927 yang terjadi di wilayah Jawa dan Sumatra.


Tidak, kami tidak melakukan tindakan keji seperti apa yang dilakukan para penjajah itu di negeri kami. Kami hanya menuntut hak yang sudah sepatutnya didapatkan oleh seorang tuan rumah yang wilayahnya dieksploitasi secara besar-besaran oleh pihak lain, yang menganggap wilayah itu sebagai milik mereka tanpa memikirkan nasib para penduduk lokal yang terdampak besar atas perlakuan sewenang-wenang yang mereka lakukan.


Namun, bagi pemerintah kolonial, perlawanan kami yang meminta kembali hak-hak untuk mengelola wilayah kami sendiri justru dianggap sebagai sebuah kejahatan berat. Oleh sebab itu, hukuman yang diberikan harus lebih kejam dari dinginnya jeruji penjara. Dibuang dan diasingkan dari lingkungan tempat tinggal kami menjadi pilihan. Mereka ingin kami jera dan tidak lagi membangkang.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Selepas meninggalkan militer, Gatot Soebroto ikut mendirikan IPKI dan lolos ke parlemen. Namun, dia mengundurkan diri karena diangkat sebagai wakil KSAD.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto nyentrik dan eksentrik dalam penampilan, perkataan, dan keyakinan. Jenderal humoris dan dekat dengan anak buah. Penyayang anak-anak dan pelindung umat Buddha.
bg-gray.jpg
Terlantar di negeri orang. Eks romusha bersama buruh Indonesia melakukan aksi propaganda, boikot, hingga pemogokan di Singapura.
bg-gray.jpg
Pengalaman dan usianya membuat Gatot Soebroto acap jadi tempat mengadu para perwira. Namanya tetap abadi di banyak tempat, mulai jalan-jalan protokol hingga RSPAD.
Inilah muasal syal, kipas bagi penguasa, jas untuk acara resmi, dan fungsi dasi.
Inilah muasal syal, kipas bagi penguasa, jas untuk acara resmi, dan fungsi dasi.
Tiada yang mustahil dalam sepakbola, termasuk ketika berpuasa. Toh, Rasulullah Saw. bersabda, “berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.”
Tiada yang mustahil dalam sepakbola, termasuk ketika berpuasa. Toh, Rasulullah Saw. bersabda, “berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.”
Mengunjungi Gereja Sacrè-Coeur di Paris. Sebuah monumen peringatan untuk dua peristiwa yang memukul kaum Katolik Prancis.
Mengunjungi Gereja Sacrè-Coeur di Paris. Sebuah monumen peringatan untuk dua peristiwa yang memukul kaum Katolik Prancis.
Trauma itu tak pernah hilang. Namun Kroasia tetap menatap ke depan hingga bisa berbangga dengan prestasi di Piala Dunia.
Trauma itu tak pernah hilang. Namun Kroasia tetap menatap ke depan hingga bisa berbangga dengan prestasi di Piala Dunia.
Mewarisi ambisi JFK mendaratkan manusia di bulan 50 tahun lalu, Donald Trump terobsesi memasang bendera di Mars.
Mewarisi ambisi JFK mendaratkan manusia di bulan 50 tahun lalu, Donald Trump terobsesi memasang bendera di Mars.
Penggunaannya untuk komunikasi telah ada sejak ribuan tahun silam. Di masa modern, merpati tetap jadi pilihan.
Penggunaannya untuk komunikasi telah ada sejak ribuan tahun silam. Di masa modern, merpati tetap jadi pilihan.
transparant.png
bottom of page