top of page

Kisah Horor Tambang Batubara Loa Kulu

Seratusan pekerja tambang dibunuh dan dimasukkan ke lubang oleh Jepang. Sisanya hidup dalam kelaparan dan penyakit.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 1 jam yang lalu
  • 3 menit membaca

SETELAH tentara Jepang memasuki daerah sekitar Sungai Mahakam, arus lalu lintas kapal niaga berkurang. Setidaknya kapal-kapal pengangkut batubara tak lewat lagi. Sebelum 1942, arus kapal yang melintas lima kali lebih banyak dibanding pada zaman Jepang. Penguasa Jepang membatasi pelayaran di pesisir Kalimantan dan sekitarnya.

 

Ekonomi di sana memburuk setelah Maret 1942. Perdagangan antar-daerah menjadi sepi. Pertanian padi di sekitar Loa Kulu, hulu sungai Mahakam (sekarang Kabupaten Kutai Kartanegara) tidaklah bisa diharapkan untuk mencukupi semua perut warga daerah itu. Tanpa beras, rakyat Loa Kulu terancam kelaparan di zaman pendudukan Jepang.


Menurut Het Dagblad, 1 Oktober 1946, daerah tersebut bergantung pangan dari luar. Daerah ini sangat bergantung pada beras dari Sulawesi Utara maupun Sulawesi Selatan. Selain dengan uang, dulunya beras sering ditukar dengan rotan, damar, dan lilin lebah yang dikirim ke Jawa, ikan asin, kayu dan lain-lain.

 

Loa Kulu pada 1940-an telah diisi ribuan pekerja dari luar Kalimantan. Mereka menjadi kuli dari perusahaan batubara yang telah beroperasi di Loa Kulu pada 1888, Oost Borneo Maatschappij (OBM). Ketika tentara fasis Jepang menguasai daerah ini, lubang tambang batubara yang sebelumnya dikelola OBM tak disia-siakannya. Sebab, tidak sulit bagi militer Jepang untuk menemukan pekerja.

 

Ada lebih dari 2.000 kuli yang bisa dipekerjakan. Hanya perlu sedikit kekerasan untuk bisa memanfaatkannya. Maka, tulis Nieuwe Courant edisi 14 Maret 1946, “(Pekerja, red.) telah diseret dari rumah mereka oleh Jepang dan dipaksa bekerja di tambang.”

 

Batubara merupakan mineral penting bagi industri Jepang dan jalannya perang bagi militernya. Namun meski mendapatkan batubara dari Loa Kulu, setelah 1943 posisi militer Jepang mulai memburuk dalam Perang Pasifik.

 

Setelah kota Balikpapan diserang tentara Sekutu (Australia dan Amerika Serikat) pada Juli 1945, tentara Jepang di Loa Kulu panik. Mereka memperhitungkan bahwa dalam waktu yang tidak begitu lama tentara Sekutu akan bergerak juga ke Loa Kulu. Tentara Jepang di Loa Kulu pun bersiasat.

 

“Ketika Sekutu datang ke sini, mereka tidak akan menemukan satu jiwa pun yang hidup, tetapi hanya kayu,” kata tentara Jepang seperti diterangkan Dinas Penerangan Belanda Rijksvoorlichtingsdienst (RVD) pada 25 Mei 1946 dan dikutp Nieuwe Courant edisi 28 Mei 1946.

 

RVD menyebut, niatan awal siasat Jepang adalah untuk merugikan tentara Sekutu yang akan memasuki Loa Kulu. Jadi, banyak penduduk Loa Kulu dan Samarinda yang dihabisi.

 

Di sekitar tambang batubara Loa Kulu, setidaknya 140 orang terbunuh. Mereka tak hanya laki-laki, yang kebanyakan adalah pekerja tambang, tetapi juga perempuan dan anak-anak. Para laki-laki biasanya disuruh berlutut di sebuah lubang sedalam 50 centimeter dan kemudian dipenggal kepalanya. Setelahnya, jenazah akan dilempatkan ke dalam lubang tambang batubara. Sementara, perempuan dan anak-anak terbunuh karena ditusuki dengan bayonet.

 

Pembantaian itu memakan waktu tak lebih dari 24 jam. Setelah pembantaian, lubang tambang tempat membuang jenazah-jenazah tadi diisi dengan berbagai macam material pertambangan dan ditutup semen.

 

Mereka yang terbunuh itu adalah orang-orang Indonesia. Mayoritas  berasal dari etnis Manado dan Ambon. Militer Jepang kerap mencuriai orang Manado dan Ambon sebagai melakukan gerakan bawah tanah melawan tentara Jepang.

 

Kematian tak hanya menimpa mereka yang dimasukkan ke lubang pembantaian itu saja. Masih ada yang tak disembelih tentara Jepang tapi juga terbunuh. Biasanya mereka meninggal setelah lama sekarat karena kurang gizi dan perawatan medis. Setidaknya, dari pengakuan penyintas yang masih hidup setelah Juli 1945, diketahui tidak ada bahan makanan untuk bertahan hidup bagi mereka. Para kuli tambang batubara Loa Kulu itu adalah masyarakat semi urban dan tak sama dengan orang asli Kalimantan yang disebut Dayak yang menguasai cara bertahan hidup di dalam hutan.

 

Setelah kota Balikpapan dikuasai pada Juli 1945, tentara Sekutu bergerak masuk ke pedalaman hulu Mahakam. Mereka hendak melucuti tentara Jepang. Berbulan-bulan kemudian tentara Australia menemukan banyak lubang pembantaian oleh tentara Jepang, termasuk lubang berisi 140-an orang di Loa Kulu tadi.

 

Militer Australia lalu mengadakan penyelidikan dan berhasil mengamankan 45 tentara Jepang yang dianggap terlibat dalam pembantaian itu. Setelah menyerah, terdapat 120 orang tentara Jepang yang ditawan di sebuah kamp Sekutu di daerah Loa Buah, Sungai Kunjang, Samarinda, di seberang Loa Janan. Kamp itu jaraknya beberapa jam dari hilir Sungai Mahakam. Pelaku pembantaian itu kemudian ditahan dan diadili di Balikpapan. Setidaknya ada tiga orang yang dihukum mati pada 1948.

 

Di antara militer Jepang itu, terdapat seorang dokter yang berasal dari Korea yang dipekerjakan untuk militer Jepang. Pada 1945 dia berada di Loa Kulu. Dia memastikan kesehatan tentara Jepang di sana, dan di daerah yang sama dia melihat kesengsaraan orang Indonesia. Dia tak bisa berbuat banyak. Namun setelah Jepang kalah, dia memberi keterangan terkait pembantaian di Loa Kulu.

 

Para korban pembantaian Loa Kulu kemudian dikeluarkan dari lubang pembantaian. Mereka diangkut dengan kapal Belanda Generaal Michaels dan kemudian dimakamkan dengan layak. Setelah pemakaman itu, tambang batubara Loa Kulu ditambang lagi oleh OBM. Kejayaan OBM baru berakhir pada 1958 dengan diambil-alihnya tambang-tambang itu oleh Republik Indonesia. Daerah Loa Kulu dan sekitarnya masih dikenal dengan batubaranya. Kapal-kapal pengangkut batubara masih menjadi pemandangan bagi Sungai Mahakam.*

bg-gray.jpg
The term “tante girang”, which means cougar, gained popularity in the 1970s, though the phenomenon had already been emerging for two decades prior. Popular literature captured it as a social portrait in Indonesia.
bg-gray.jpg
KH Chalimi pernah memimpin gerakan mahasiswa Surabaya menolak Soeharto menjadi presiden lagi. Ditangkap lalu disekap di penjara angker Kalisosok.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah satu indekos dengan Siti Soendari, adik bungsu dr. Soetomo. Berbeda kepribadian tetapi saling mengisi.
bg-gray.jpg
Setiati Surasto memperjuangkan hak-hak buruh perempuan. Dia juga berkiprah dalam gerakan buruh internasional. Berakhir sebagai eksil.
Seratusan pekerja tambang dibunuh dan dimasukkan ke lubang oleh Jepang. Sisanya hidup dalam kelaparan dan penyakit.
Seratusan pekerja tambang dibunuh dan dimasukkan ke lubang oleh Jepang. Sisanya hidup dalam kelaparan dan penyakit.
Jusuf Randy dijuluki “raja komputer” yang sukses membangun bisnis kursus komputer di Indonesia. Namun, dia ditangkap polisi karena kasus penipuan.
Jusuf Randy dijuluki “raja komputer” yang sukses membangun bisnis kursus komputer di Indonesia. Namun, dia ditangkap polisi karena kasus penipuan.
Armada Vasco da Gama memblokade Laut Merah. Sebuah kapal dagang yang membawa ratusan rombongan haji dicegat, dijarah, dan dibantai.
Armada Vasco da Gama memblokade Laut Merah. Sebuah kapal dagang yang membawa ratusan rombongan haji dicegat, dijarah, dan dibantai.
Pria kembar Belanda yang mengalami pendudukan Nazi nyaris kehilangan nyawa di Surabaya. Keduanya bagian dari Brigade Marinir Belanda yang terkenal kejam.
Pria kembar Belanda yang mengalami pendudukan Nazi nyaris kehilangan nyawa di Surabaya. Keduanya bagian dari Brigade Marinir Belanda yang terkenal kejam.
Upayanya untuk membuat hukuman mati lebih manusiawi justru menjadikan namanya sinonim dengan mesin jagal yang menjadi ikon salah satu periode paling berdarah dalam sejarah Prancis.
Upayanya untuk membuat hukuman mati lebih manusiawi justru menjadikan namanya sinonim dengan mesin jagal yang menjadi ikon salah satu periode paling berdarah dalam sejarah Prancis.
Chairil Anwar dan kawan-kawan membangun majalah sastra di tengah revolusi kemerdekaan. Setelah itu, penerbitan majalah sastra menggeliat dan beririsan dengan konflik ideologis.
Chairil Anwar dan kawan-kawan membangun majalah sastra di tengah revolusi kemerdekaan. Setelah itu, penerbitan majalah sastra menggeliat dan beririsan dengan konflik ideologis.
transparant.png
bottom of page