- 2 jam yang lalu
- 4 menit membaca
JENDERAL TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu meninggal dunia pada 31 Mei 2026. Ryamizard merupakan Menteri Pertahanan (Menhan) Kabinet Kerja (2014–2019) di periode pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo. Semasa menjabat Menhan, Ryamizard dikenal tegas, berani, dan suka bicara ceplas-ceplos.
Misalnya, Ryamizard pernah menolak wacana rekonsiliasi terhadap korban tragedi 1965. Menurutnya, rekonsiliasi tidak diperlukan sebab yang terjadi adalah peristiwa pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Bagi Ryamizard, penumpasan kader dan simpatisan PKI yang memakan banyak korban warga sipil sama seperti perang. Oleh karena itu, rekonsiliasi tak diperlukan apalagi permintaan maaf dari negara.
“Rekonsiliasi dengan siapa? Orang PKI? Sudah pada mati kok. Enggak usah lagi lah. Ini pemberontakan ditumpas, pantas-pantas saja mati,” kata Ryamizard dalam “Simposium Anti PKI” pada 2016 silam.
Kali lain, Ryamizard mengatakan, Indonesia sanggup berperang seribu tahun lamanya. Sebab, menurutnya, pertahanan militer Indonesia menganut Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta, sehingga siap untuk perang jangka panjang. Pernyataan ini dilontarkan menanggapi pidato Prabowo Subianto saat kampanye Pilpres 2019. Prabowo mengatakan, Angkatan Perang Indonesia hanya mampu bertempur tiga hari karena terbatasnya kesediaan peluru.
Di masa lalu, Prabowo dan Ryamizard adalah kawan seangkatan di Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri) Angkatan 1974. Kalau Prabowo anak dari ekonom Sumitro Djojohadikusumo, Ryamizard berayahkan Mayor Jenderal Musannif Ryacudu, perwira militer yang dekat dengan Presiden Sukarno pada 1960-an. Dia pernah menjabat Panglima Kodam XII/Tanjung Pura (1963–1967).
Ryamizard lahir pada 21 April 1950, ketika Musannif berpangkat kapten sebagai Komandan Operasi Keamanan TNI di Palembang. Musannif bersama istrinya, Juhariah, tinggal di rumah mungil di bilangan Bukit Kecil, Palembang.
“Di tempat inilah Juhariah melahirkan anak pertama yang diberi nama Ryamizard Ryacudu. Nama ini disematkan dengan harapan ke depan menjadi anak yang cerdas, pemberani dan membanggakan orang tuanya. Kelak, di darah Ryamizard sifat dan semangat Musannif Ryacudu menitis,” catat Sudarmono dalam biografi Mayjen M. Ryacudu: Prajurit Perang dari Mesir Ilir.
Selain gen militer yang menitis dari sang ayah, gaya saklek dan tanpa tedeng aling-aling Ryamizard ditempa dari pengalamannya sebagai prajurit tempur di lapangan. Ryamizard termasuk perwira militer yang kenyang asam garam operasi militer dan medan pertempuran. Sebagai prajurit infantri, dia mengawali tugasnya sebagai komandan peleton pada 1976.
Ryamizard kemudian bertugas dalam Operasi Kala (1981), Operasi Seroja (1983), dan Operasi PBB di Kamboja (1992). Bahkan, dia tiga kali terjun dalam Operasi Seroja di Timor Timur pada 1983-1984, 1986-1988, dan 1994-1995. Selain itu, dia juga pernah mendapat penugasan luar negeri di Malaysia, Australia, Kamboja, dan Hawaii.
Tidak hanya berstatus anak jenderal, Ryamizard juga beristrikan seorang putri jenderal. Pada 1988, Ryamizard menikahi Nora Tristyana, putri Jenderal TNI Try Sutrisno. Mereka ketemu di Dili, Timor Timur, ketika Ryamizard bertugas sebagai wakil komandan Batalion Linud 305 Kostrad. Sementara Nora bertugas di tempat yang sama sebagai dokter PTT. Try Sutrisno sendiri dikenal sebagai Panglima ABRI (1988–1993) kemudian Wakil Presiden (1993–1998).
“Komandan Kontingen Garuda XII B Letkol Inf. Ryamizard RC, seorang perwira tamatan Akmil tahun 1974 yang berhasil mempesunting putri sulung Pangab Try Sutrisno,” lansir majalah Dharmasena, No. 6, Juni 1992.
Setelah menjabat Komandan Korem 044/Palembang (1995), Ryamizard menapaki jenjang perwira tinggi sebagai Kepala Staf Divisi II Kostrad (1996). Ryamizard kemudian menduduki jabatan Kepala Staf Kodam II/Sriwijaya (1997), Panglima Divisi II Kostrad (1998), Panglima Kodam V/Brawijaya (1999), Panglima Kodam Jaya (1999), dan Panglima Kostrad (2000). Puncak karier militernya dicapai saat menjadi orang nomor satu Angkatan Darat sebagai KSAD periode 2002–2005.
Ketika Ryamizard menjabat KSAD, TNI sedang disibukkan menghadapi Gerakan Aceh Merdeka (GAM), sehingga daerah itu dikenai status Daerah Operasi Militer (DOM). Meski sudah jenderal bintang empat, Ryamizard sering turun langsung ke daerah operasi di Aceh. Dia meninjau pasukan dan menjalin kedekatan dengan masyarakat setempat.
“Saya tahu apa yang terjadi di Aceh Tengah, tentang adanya pemerkosaan, pembantaian, intimidasi, dan pembakaran. Bila perlu saya akan menambah pasukan di Aceh Tengah untuk mengusir para pengacau itu, seru Ryamizard dalam suatu dialog di depan rakyat Takengon,” dikutip Analisa, 28 Maret 2003.
Dalam situasi mencekam di Aceh, Ryamizard dikenal beringas menumpas pejuang GAM, namun persuasif terhadap warga sipil. Slogan “babader” atau “baik-baik dengan rakyat” adalah slogan yang dicetuskan oleh Ryamizard. Namun, Ryamizard termasuk tokoh yang menolak berunding dengan GAM. Menurutnya, pemberontak tak perlu dikasih ruang negosiasi karena akan membangkitkan pemberontakan di daerah yang lain.
“Kenapa kita harus bargaining dengan GAM. Dengan pemberontak kok bargaining. Kita jangan biasakan berunding-berunding dengan pemberontak. Nantinya semua akan memberontak setelah diajak berunding. Tak bagus itu,” tegas Ryamizard dikutip Analisa, 24 November 2003. “Jika mereka masih berontak juga, maka mereka berontak terus. Kita tidak ada urusan karena kalau selama dia memberontak tetap akan kita hancurkan, kecuali dia sudah mau menyerah, itu lain urusannya.”
Ryamizard memang perwira militer sarat pengalaman tempur. Namun, menurut sejumlah perwira purnawirawan, alasan penunjukan Ryamizard sebagai KSAD oleh Presiden Megawati Soekarnoputri karena berasal dari Palembang, kota kelahiran Taufik Kiemas, suami Megawati.
Sementara itu, pakar politik militer Salim Said menilai, penunjukan Ryamizard karena faktor masa lalu ayahnya, Musannif Ryacudu pendukung setia Sukarno, ayah Megawati.
“Menjelang berakhirnya masa kepresidenannya, Megawati mencoba lagi mempromosikan Ryamizard menjadi Panglima TNI. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang waktu itu baru saja terpilih, menolak Ryamizard menduduki jabatan Panglima,” catat Salim Said dalam Ini Bukan Kudeta: Reformasi Militer Indonesia, Mesir, Thailand, dan Korea Selatan.
Karena faktor politik, Ryamizard tak sampai menjadi panglima TNI meskipun dia calon tunggal. Kendati demikian, karier militer Ryamizard yang mencapai jenderal bintang empat jauh melampaui ayahnya, Musannif Ryacudu. Walau tak sebeken ayah mertuanya, Try Sutrisno, Ryamizard punya pengalaman lebih banyak bersama pasukan. Tak salah rasanya menyebut Ryamizard sebagai jenderal tempur Indonesia di era modern.
Selamat beristirahat, Jenderal Ryamizard.*



















Komentar