- 1 jam yang lalu
- 5 menit membaca
KAPAL Miri, demikian namanya (beberapa sumber menyebut Meri), sungguh besar. Tak hanya mampu membawa 700 penumpang, kapal dagang itu juga mengangkut komoditas perdagangan dan harta benda dari Makkah dan Jeddah untuk dibawa ke Calicut (kini Kozhikode).
“Kapalnya begitu besar dan aman (dikawal sekitar 200 prajurit, red.), banyak orang Muslim yang berperjalanan menuju ibadahnya ke Makkah dan kembali dengan para jamaah dan juga kargo yang sangat berharga,” tulis sejarawan Portugis João de Barros dalam Décadas da Ásia: Dos feitos, que os Portuguezes fizeram no descubrimento, e conquista, dos mares, e terras do Oriente.
Pemilik Miri adalah Al-Fanqi, saudagar kaya dari Kerajaan Calicut. Ia masih kerabat dari Khoja Kasim, pelaut dan pedagang yang juga penasihat berpengaruh bagi Sharafat Makkah –yang masih di bawah naungan Kesultanan Mamluk– dan punya hubungan dagang dengan Kerajaan Calicut.
Tak hanya dari Calicut, pesisir barat Arab kala itu juga didatangi kapal-kapal dari Eropa. Termasuk kapal-kapal Armada India Portugis ke-4 di bawah Vasco da Gama. Kehadiran kapal-kapal Portugis di Laut Merah dan pesisir Malabar itu tak hanya untuk berdagang dan menyiarkan Kekristenan, namun namun juga untuk membalas dendam terhadap para pedagang Arab dan Kerajaan Calicut.
Semua berawal dari konflik soal perdagangan rempah-rempah antara Portugis dengan para saudagar Arab di Calicut pada Desember 1500. Kala itu, Armada India Portugis ke-2 pimpinan Pedro Álvares Cabral berniat merebut monopoli perdagangan. Para pedagang Arab yang marah dibantu sejumlah prajurit Kerajaan Calicut lalu menyerang orang-orang Portugis hingga menewaskan sekitar 53 orang. Pos-pos dagang dan gudang-gudang Portugis kemudian disita Kerajaan Calicut.
Mendengar kabar itu, Raja Portugis Manuel I langsung mengirim Armada India Portugis ke-3 pimpinan João da Nova. Armada berangkat medio 1501 untuk keperluan dagang semata. Lalu, dikirim pula Armada India Portugis ke-4 di bawah komando Vasco da Gama dengan misi ganda, niaga dan militer. Armada berangkat dari Lisbon Februari 1502.
Ini jadi perjalanan kedua da Gama ke India. Ia merupakan pembuka jalur negerinya ke India pada 1497-1499 atas titah Raja Manuel I. Dengan armada itu, da Gama membawa 20 kapal, sekitar 800 kru dan serdadu yang dibagi jadi tiga skadron. Sang laksamana sendiri memimpin skadron pertama dengan 10 kapal, lalu skadron kedua dipimpin Vicente Sodré dengan 5 kapal, dan skadron ketiga dikomando Estêváo da Gama –sepupu Vasco da Gama– dengan 5 kapal sisanya. Vasco da Gama memimpin dari geladak kapal utama São Jerónimo
“Raja Dom Manuel sendiri yang melepas keberangkatannya. Ia yang menentukan bahwa Samuthiri (titel raja) Calicut harus diberi pelajaran dan diperlukan sebuah armada yang lebih besar dan dilengkapi dengan daya tembak serta artileri sebagai ekspedisi balas dendam. Dom Manuel juga punya motivasi lain karena ekspedisi itu akan jadi kesempatan meluaskan pesan-pesan Kristus ke Malabar yang belum jadi wilayah Kristen,” ungkap K.D. Madan dalam Life and Travels of Vasco Da Gama.

Kapalnya Dijarah, Ratusan Jamaah Haji Dibakar Hidup-Hidup
Armada Vasco da Gama itu tiba di perairan India, tepatnya Pulau Anjadip di wilayah Kerajaan Karnataka, pada 20 Agustus 1502. Da Gama lalu memerintahkan serangan dan penjarahan di pelabuhan-pelabuhan di pesisir wilayah kerajaan Hindu itu.
Pada 29 September 1502, armada itu bergerak dari Bhatkal dan berlabuh di pesisir Ezhimala. Di sana, Da Gama hendak menambah misi ke Kannur karena penguasa wilayah itu juga dikabarkan menentang kedatangan Armada India Portugis ke-3 pimpinan Da Nova.
“Ketika (armada) ekspedisi itu tiba di Ezhimala, kapal mereka dihantam badai yang mematahkan tiang layar dan untuk memperbaikinya, mereka harus berlabuh lagi di Marahi, wilayah Kolatiri. Saat mereka memperbaiki tiang layar, mereka mendeteksi sebuah kapal Meri milik saudara dari Khoja Kasim (Al-Fanqi, red). Kapalnya berlayar untuk kembali dari musim haji,” tulis Leena More dalam History of Kannur: Kolatiri, Arakkal and Mysore Sultans.
Vasco da Gama pun memerintahkan pengejaran. Satu dari 10 kapal di skadron pertama yang akhirnya mampu mencegat Miri adalah kapal São Gabriel yang dinakhodai Kapten Gil Matoso. Di Miri sendiri ada lebih dari 300 –beberapa sumber lain menyebut 700– kru dan penumpang rombongan jamaah haji.
“Di perairan Kannur, kru armada Vasco da Gama mengintai sebuah kapal Arab dari Calicut yang kembali dari Jeddah membawa rombongan haji, termasuk perempuan dan anak-anak. Kapal yang dikenal sebagai Miri itu turut membawa kargo berharga, di antaranya peti-peti emas. Pemilik kapal tak memberi perlawanan dan berharap kargo Miri yang penting itu bisa dijadikan imbalan untuk para penyerang jika para penumpangnya diancam. Pemiliknya sendiri adalah Al-Fanqi, saudagar Arab kaya yang juga jadi penghubung Sultan Makkah di Calicut,” sambung Madan.
Kapten Matoso langsung menyandera Miri yang diperintahkan merapat ke kapal São Jerónimo. Menurut kesaksian juru tulis armada, Thomé Lopes, Al-Fanqi si pemilik Miri lalu bernegosiasi dengan Vasdo da Gama. Tak hanya soal harta benda yang dibawa namun juga menjanjikan penyediaan rempah-rempah untuk kapal-kapal Portugis.
“Dendam Da Gama lebih dari sekadar harta. Yang terjadi berikutnya takkan pernah saya lupakan seumur hidup,” kenang Lopes dalam catatan harian yang dibukukannya, Navegação as Indias Orientaes, escrita em Portuguez por Thomé Lopes.
Vasco da Gama pun enggan bernegosiasi. Ia memerintahkan para serdadu Portugis melucuti senjata-senjata pengawal kapal dan menjarah semua harta benda yang ada di dalam perut kapal Miri.
“Saat itu kami menyita sebuah kapal Makkah, ditumpangi sekitar 380 laki-laki dan banyak perempuan serta anak-anak, dan kami mengambil dari mereka setidaknya 12 ribu ducat dan harta benda yang bernilai lebih dari 10 ribu ducat,” ujar seorang kru asal Belanda yang tak disebutkan namanya, dikutip Jean Philibert Berjeau dalam Calcoen: A Dutch Narrative of the Second Voyage of Vasco da Gama to Calicut.
Perintah selanjutnya Vasco da Gama kepada para krunya adalah pembantaian. Ia memerintahkannya sendiri langsung saat masih beraudiensi dengan Al-Fanqi.
“Anda akan dibakar hidup-hidup karena Anda bersiasat dengan Raja Calicut untuk membunuh dan menjarah para saudagar dan orang Portugis. Saya akan memberikan Anda 100 kematian kalaupun saya bisa secara cuma-cuma,” kata Vasco da Gama, dikutip Ian Anderson dalam The History and Natural History of Spices: The 5000-Year Search for Flavour.
Setelah dua hari menyandera, pada 1 Oktober 1502 serdadu-serdadu Portugis melancarkan aksinya. Meski puluhan penumpang Miri sempat memberi perlawanan tanpa senjata, akhirnya sia-sia. Alhasil, sekitar 300 jamaah haji dan penumpang lain Miri, termasuk anak-anak dan perempuan, dikurung di lambung kapal. Kemudian, kapalnya dibakar dan ditembaki meriam. Mereka yang berusaha menyelamatkan diri dengan terjun ke laut, langsung disambar tombak-tombak serdadu Portugis.
Hanya kapten kapal Miri dan 20 anak-anak yang disandera yang tak dibantai. Sang kapten diampuni karena masih dibutuhkan untuk eksplorasi wilayah perairan lokal. Mereka ditahan dan dibawa ketika armada Portugis kembali ke Lisbon, tempat 20 anak-anak itu dibaptis. Setelah pembantaian itu, armada Vasco da Gama berlayar lagi ke Calicut untuk melakukan pengeboman.
“Pada 25 Oktober, armada itu berlayar ke Calicut dan tiba pada 29 Oktober. Terlepas dari usaha pendekatan dari samuthiri, da Gama menuntut barang-barang yang dijarah dari gudang-gudang Portugis pada peristiwa 1500 dikembalikan dan semua populasi Muslim diusir dari Calicut. Karena tidak ada respons positif, armada itu melancarkan pemboman ibukota pada 1 November hingga dua hari kemudian. Dalam serangan darat, para utusan Brahmana Kerajaan Calicut yang datang kemudian, justru dibunuh dan dimutilasi,” tandas Anderson.



















Komentar