- 25 Des 2022
- 18 menit membaca
Diperbarui: 20 Apr
AKU masuk tentara sebagai operator radio pada 22 Desember 1940. Setelah mendapatkan pelatihan di Cimahi, aku bergabung dengan Skuadron Kavaleri 2 di Bandung ketika perang pecah. Setelah kejatuhan Jawa, aku ditawan bersama ribuan orang lainnya di Bandung.
Setelah enam bulan, aku mendaftar sebagai tentara pembantu Jepang (Heiho) agar bisa keluar dari kamp tawanan dan bisa bertemu kerabat. Jepang telah menyatakan jika kami mau bekerja di luar memperbaiki jembatan dekat Bandung, kami akan dibayar 30 sen per hari.
Tapi kami malah dibawa dengan pengawalan ke Cirebon dan kemudian Tanjung Priok. Kami dikirim ke luar negeri tanpa tahu tujuan. Akhirnya kami tiba di Rabaul, New Britain, sekira September 1942. Selama di sana aku ditugaskan sebagai penerjemah. Kami tinggal selama hampir tujuh bulan dan kemudian dibawa lagi ke Filipina.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















