top of page

Sudiro, Anak yang Didambakan

Kelahirannya disambut gembira oleh kakeknya sebagai cucu pertama. Diberinya nama Sudiro yang berarti berani. Selamat dari wabah Flu Spanyol.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sudiro (duduk depan kanan) ketika menjadi murid HIS. (Repro Sudiro Pejuang Tanpa Henti).

8 Jun
5 menit membaca

KETIKA itu, Senin, 24 April 1911, sekitar setengah enam pagi, seorang bayi lahir di Kampung Ledokratmakan, kini terletak di Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Yogyakarta. Menurut perhitungan almanak Jawa, bertepatan dengan 23 Bakdamulud 1841 tahun Wawu, Senen Paing, wuku Wukir. Primbon Jawa menerangkan, anak yang lahir dengan wuku tersebut memiliki watak yang berhati besar, tak dapat diungguli, rupanya bagus, perkataannya sedap, pekerjaanya terpakai, dan disayang oleh tuannya.


Kehadiran bayi itu disambut gembira oleh keluarga, terutama kakek dan neneknya karena cucu pertama. Sebab, kurang lebih setahun sebelumnya, Ibu Hardjodisastro mengalami ketragan atau keguguran. Oleh karena itu, ketika mengandung lagi, dia pindah dari Klaten, tempat suaminya R. Hardjodisastro bekerja sebagai hoofdlaborant atau kepala laboratorium pabrik gula, ke Ledokratmakan. Maksudnya agar ibu dan bayinya mendapat pengawasan lebih baik.


“Bayi yang baru lahir, setelah diterima dengan upacara kejawen, dimandikan dengan banyu gege (air yang dipanaskan dengan sinar matahari) dengan harapan agar dapat segera menjadi besar, lalu diberi nama oleh kakeknya: Sudiro,” tulis Soebagijo I.N dalam biografi Sudiro Pejuang Tanpa Henti. Kakeknya, Kyai Soemodimedjo memberi nama Sudiro dengan harapan kelak menjadi seorang laki-laki pemberani sesuai arti dari namanya.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page