- 1 jam yang lalu
- 5 menit membaca
KETIKA itu, Senin, 24 April 1911, sekitar setengah enam pagi, seorang bayi lahir di Kampung Ledokratmakan, kini terletak di Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Yogyakarta. Menurut perhitungan almanak Jawa, bertepatan dengan 23 Bakdamulud 1841 tahun Wawu, Senen Paing, wuku Wukir. Primbon Jawa menerangkan, anak yang lahir dengan wuku tersebut memiliki watak yang berhati besar, tak dapat diungguli, rupanya bagus, perkataannya sedap, pekerjaanya terpakai, dan disayang oleh tuannya.
Kehadiran bayi itu disambut gembira oleh keluarga, terutama kakek dan neneknya karena cucu pertama. Sebab, kurang lebih setahun sebelumnya, Ibu Hardjodisastro mengalami ketragan atau keguguran. Oleh karena itu, ketika mengandung lagi, dia pindah dari Klaten, tempat suaminya R. Hardjodisastro bekerja sebagai hoofdlaborant atau kepala laboratorium pabrik gula, ke Ledokratmakan. Maksudnya agar ibu dan bayinya mendapat pengawasan lebih baik.
“Bayi yang baru lahir, setelah diterima dengan upacara kejawen, dimandikan dengan banyu gege (air yang dipanaskan dengan sinar matahari) dengan harapan agar dapat segera menjadi besar, lalu diberi nama oleh kakeknya: Sudiro,” tulis Soebagijo I.N dalam biografi Sudiro Pejuang Tanpa Henti. Kakeknya, Kyai Soemodimedjo memberi nama Sudiro dengan harapan kelak menjadi seorang laki-laki pemberani sesuai arti dari namanya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.















