- 1 jam yang lalu
- 3 menit membaca
CHAIRIL ANWAR terkenal sebagai penyair yang suka keluyuran. Kebiasaan ini terjadi pula saat ia mengasuh majalah sastra Gema Suasana. Chairil menerbitkan majalah itu bersama sastrawan Asrul Sani dan Rivai Apin pada Januari 1948. Mereka berkantor di Jl. Gunung Sahari 84, Jakarta Pusat. Setahun kemudian, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Begitu pula Gema Suasana tak berumur panjang.
“Generasinya Chairil Anwar ini sebetulnya satu generasi sastrawan yang tidak punya majalah sastra,” kata kritikus sastra Zen Hae. “Pada saat itu, Indonesia baru merdeka dan belum ada majalah sastra yang muncul secara kuat.”
Sastrawan generasi Chairil Anwar disebut Angkatan 45. Selain Chairil, sastrawan Angkatan 45 antara lain Asrul Sani, Rivai Apin, H.B. Jassin, Pramoedya Ananta Toer, Sitor Situmorang, Mochtar Lubis, N.H. Dini, Ramadhan K.H, Ali Akbar Navis, Utuy Tatang Sontani, Achdiat Kartamihardja, dan lainnya. Meski sudah terpapar semangat nasionalisme, karya sastrawan Angkatan 45 masih merujuk ke Barat.
“Orientasi kepengarangan Angkatan 1945 itu adalah sebuah jangkauan dunia yang luas. Mereka juga menghargai warisan leluhur di tanah air, tetapi tidak mau memoles-moles yang lama sehingga seperti barang candi atau barang museum,” terang Zen.
Kiblat kepengarangan Angkatan 45 tampak jelas dalam karya-karya yang dimuat Gema Suasana. Tunggul Tauladan dalam bunga rampai Seabad Pers Kebangsaan, menyebut majalah ini mencoba membangun citra perlawanan berbingkai sastra kritik. Di sini, sastra menjelma jadi medium untuk mengkritik segala macam situasi, mulai dari keadaan ekonomi hingga sosial.
Secara umum, Gema Suasana mengandalkan pada sajian yang warna-warni. Karya-karya terjemahan novel menjadi sajian khas tiap edisi, sementara karya-karya anak negeri berupa cerita pendek, gambar atau tulisan anekdot tak dilupakan. Strategi itu pada awal terbitnya mendapat kritik dari redaksi di beberapa majalah umum. Ia dianggap menjiplak majalah Amerika, The Reader Diggest atau majalah London, Internationale Echo. Tapi, Chairil dan kawan-kawan maju terus menerjang kritik.
Sepeninggal Chairil, Gema Suasana bersalin nama menjadi Gema. “Majalah ini terkesan seperti sebuah majalah yang berjejal-jejal novel-novel luar negeri saja. Hanya kata-kata mutiara saja yang tampaknya bisa dianggap mengandung aura nasionalisme yang kuat, walau tak sekuat Gema Suasana,” ulas Tunggul dalam artikelnya “Gema Suasana: Eksodus Sastra Kritik”.
Selain Gema Suasana, karya sastra Angkatan 45 juga banyak dimuat dalam majalah-majalah umum yang punya sisipan rubrik sastra dan budaya seperti Panca Raya, Pembangunan, dan Mimbar Indonesia. Sosok Chairil sendiri punya peran signifikan terhadap eksistensi Angkatan 45. Di kalangan sastrawan pada masanya, Chairi bagaikan “imam” bagi Angkatan 45.
Menurut peneliti sejarah sastra Dipa Nugraha, mayoritas sastrawan Angkatan 45 berada dalam lingkar majalah Gema Suasana dan mingguan Siasat. Chairil semasa hidupnya pernah terlibat di dapur redaksi dua terbitan ini. Selain menjadi redaktur di Gema Suasana, Chairil juga menjadi redaktur ruang kebudayaan Gelanggang, suplemen dari kalawarta Siasat, bersama Asrul Sani, Rivai Apin, dan Ida Nasution.
“Hilangnya Ida Nasution, seorang esai dan kritikus sastra yang berbakat, pada Maret 1948 kemudian disusul dengan meninggalnya Chairil, yang merupakan motor utama dari kelompok ini, mengakibatkan Angkatan 45 menjadi hilang suara di panggung sastra pada 1950-an,” catat Dipa Nugraha dalam Chairil Anwar: Rabun Sastra, Hayat, & Stilistika.
Memasuki 1950-an, penerbitan majalah sastra menggeliat begitu pesat. Masa ini disebut pula sebagai periode sastra majalah. Berbagai majalah bergenre sastra bermunculan. Begitu pula aktivitas kesusastraan banyak dituangkan ke dalam majalah-majalah sastra. Beberapa majalah sastra yang cukup punya nama antara lain Kisah, Siasat, Zenit, Zaman Baru, Pesat, Indonesia, Liberty, Pantjawarna, Drama, Budaya, Star Weekly, Seni, Semi, dan sebagainya.
Irisan-irisan ideologis turut mempengaruhi kesusastraan periode 1950-an. Lembaga-lembaga kebudayaan mulai berafiliasi dengan partai politik. Mereka punya terbitan masing-masing untuk mempublikasikan gagasan dalam kebudayaan, seni, dan sastra.
Para sastrawan kiri yang mengusung doktrin realisme sosialis terhimpun dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Karya-karya mereka diterbitkan majalah sehaluan seperti Zaman Baru atau rubrik seni budaya pada Harian Rakjat dan “Lentera” sisipan suratkabar Bintang Timur.
Partai Nasional Indonesia (PNI) berafiliasi dengan Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN). Sementara itu, partai bercorak Islam mempunyai Lembaga Seni Budaya Nasional (Lesbumi). Di luar itu, masih banyak seniman dan sastrawan yang bebas dari ikatan politik.
“Generasi ini kemudian pecah menjadi dua. Antara yang membawa semangat humanisme universal dengan yang mengusung komitmen kepada rakyat. Orang-orang Lekra mengambil alih basis penciptaan seni yang sangat mengutamakan peran rakyat dan itu masif sekali,” tutur Zen.
Konflik sastrawan Lekra dengan sastrawan pengusung humanisme universal begitu menegangkan dalam perbedaan cara memandang sastra dan kebudayaan. Polemik mencapai puncaknya pada 1963 ketika kelompok humanisme universal mendeklarasikan Manifest Kebudayaan (Manikebu).
Yang menarik, menurut Zen, sastrawan di periode 1950-an pada umumnya menjunjung Chairil Anwar dengan penuh takzim. Semua penyair generasi itu ingin seperti Chairil Anwar. Di kalangan seniman-seniman kiri sekalipun, Chairil sangat dihormati. Padahal, manifesto Surat Kepercayaan Gelanggang yang menjadi cikal bakal Angkatan 45 disebut-sebut sebagai ibu kandung Manifesto Kebudayaan.
“Generasi tahun 1950-an ingin seperti Chairil Anwar atau bahkan melampaui Chairil. Jadi makom kepenyairan Chairil Anwar kuat sekali. Baik yang humanisme universal maupun yang Marxis sama-sama mengidolakan orang yang satu, Chairil Anwar,” tutup Zen Hae. *



















Komentar