- 27 Mei
- 3 menit membaca
CHAIRIL ANWAR terkenal sebagai penyair yang suka keluyuran. Kebiasaan ini terjadi pula saat ia mengasuh majalah sastra Gema Suasana. Chairil menerbitkan majalah itu bersama sastrawan Asrul Sani dan Rivai Apin pada Januari 1948. Mereka berkantor di Jl. Gunung Sahari 84, Jakarta Pusat. Setahun kemudian, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Begitu pula Gema Suasana tak berumur panjang.
“Generasinya Chairil Anwar ini sebetulnya satu generasi sastrawan yang tidak punya majalah sastra,” kata kritikus sastra Zen Hae. “Pada saat itu, Indonesia baru merdeka dan belum ada majalah sastra yang muncul secara kuat.”
Sastrawan generasi Chairil Anwar disebut Angkatan 45. Selain Chairil, sastrawan Angkatan 45 antara lain Asrul Sani, Rivai Apin, H.B. Jassin, Pramoedya Ananta Toer, Sitor Situmorang, Mochtar Lubis, N.H. Dini, Ramadhan K.H, Ali Akbar Navis, Utuy Tatang Sontani, Achdiat Kartamihardja, dan lainnya. Meski sudah terpapar semangat nasionalisme, karya sastrawan Angkatan 45 masih merujuk ke Barat.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















