top of page

Gowa Masuk Islam

Islamisasi di Gowa dan Makassar makan waktu panjang meskipun raja-raja di sana sangat terbuka.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Istana raja Gowa. (Wereldmuseum Amsterdam/Wikimedia Commons)

  • 16 Feb
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 14 Mei

PERMUSUHAN antara Gowa dengan Bone sudah ada ketika Gowa dipimpin oleh Karaeng Tunipalangga dan Karaeng Tunibatta. Kedua raja Gowa itu bersaudara. Beberapa kali Tunipalangga menyerang Bone dan berkali-kali itu pula Bone gagal dihancurkan.

 

Setelah gagal berperang di Bone, Tunipalangga pulang dan meninggal dunia. Saudaranya, Karaeng Tunibatta, lalu menggantikannya sebagai raja. Tunibatta, raja Gowa ke-11, namun hanya sekitar 40 hari berkuasa karena gugur dalam perang di Gowa.

 

Kajao Laliddong, penasehat dari Raja Bone La Tenrirawe Bongkannge, menyarankan agar jenazah Raja Tunibatta dikembalikan ke ibukota Gowa dengan upacara penuh kebesaran. Raja Bone pun berkenan melaksanakan nasihat mulia itu. Maka diutusnya pembesar Bone macam Arung Teko, Arung Berru, Arung Lamoncong, dan Arung Sanrego untuk mengantar jenazah Karaeng Tunibatta ke Gowa.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page