top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Gowa Masuk Islam

Islamisasi di Gowa dan Makassar makan waktu panjang meskipun raja-raja di sana sangat terbuka.

16 Feb 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Istana raja Gowa. (Wereldmuseum Amsterdam/Wikimedia Commons)

  • 16 Feb
  • 3 menit membaca

PERMUSUHAN antara Gowa dengan Bone sudah ada ketika Gowa dipimpin oleh Karaeng Tunipalangga dan Karaeng Tunibatta. Kedua raja Gowa itu bersaudara. Beberapa kali Tunipalangga menyerang Bone dan berkali-kali itu pula Bone gagal dihancurkan.

 

Setelah gagal berperang di Bone, Tunipalangga pulang dan meninggal dunia. Saudaranya, Karaeng Tunibatta, lalu menggantikannya sebagai raja. Tunibatta, raja Gowa ke-11, namun hanya sekitar 40 hari berkuasa karena gugur dalam perang di Gowa.

 

Kajao Laliddong, penasehat dari Raja Bone La Tenrirawe Bongkannge, menyarankan agar jenazah Raja Tunibatta dikembalikan ke ibukota Gowa dengan upacara penuh kebesaran. Raja Bone pun berkenan melaksanakan nasihat mulia itu. Maka diutusnya pembesar Bone macam Arung Teko, Arung Berru, Arung Lamoncong, dan Arung Sanrego untuk mengantar jenazah Karaeng Tunibatta ke Gowa.



“Almarhum baginda raja Gowa ke-11, jenazahnya disambut dengan penuh kebesaran pula oleh orang Gowa. Maka kagumlah para pembesar Kerajaan Gowa tentang ketulusan hati Raja Bone menghormati musuhnya,” catat Mattulada dalam Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah, 1510-1700.


Mangkatnya Tunibatta membuat putra Tunibatta yang bernama Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo naik takhta. Padahal usianya dianggap terlalu muda untuk naik takhta. Namun itu ketetapannya. Maka setelah bertakhta, Daeng Mammeta jadi raja Gowa ke-12.

 

“Daeng Mammeta menaiki tahta kerajaan Gowa dalam usia dua puluh,” catat Abdurrazak Daeng Patunru dalam Sedjarah Gowa.

 

Sebelum naik takhta, Daeng Mammeta telah menikahi sepupunya sendiri, putri Karaeng Tunipalangga. Sang putri pun permaisuri dari Daeng Mammeta.

 

Daeng Mammeta berkuasa dari 1565 hingga 1590. Di masa kekuasaannya, kejadian penting terjadi di Gowa. Pada 1580, Makassar kedatangan seorang raja dari timur, Sultan Baabullah dari Ternate. Sultan Baabullah, yang baru saja mengalahkan Banggai, Buton, dan Selayar, disambut sebagai sahabat di Istana Somba Opu. Sebagai tanda persahabatan mereka, Daeng Mammeta memberikan Selayar kepada Sultan Baabullah.



Sultan Baabullah ketika itu sudah memeluk Islam dan dia hendak menyebarkan keislaman kepada Gowa yang menjadi sahabatnya itu. Tapi Sultan Baabullah sadar, prosesnya tidaklah cepat. Daeng Mammeta adalah raja Gowa yang terbuka bagi bangsa mana pun. Seperti raja sebelumnya, penganut agama apa saja yang datang dibiarkan hidup nyaman di Makassar yang menjadi pelabuhan dagang oleh Raja Mammeta. Meski Daeng Mammeta belum Islam, orang-orang Islam sudah banyak di pelabuhan yang dikuasainya itu.

 

“Raja Gowa memperkenankan untuk mendirikan masjid kepada orang Melayu, persisinya di utara Benteng Somba Opu, kawasan Mangellekanna,” tulis Nasaruddin Koro dalam Ayam Jantan Dari Tanah Daeng.

 

Selain itu, Raja Mammeta tidak melarang orang Islam pergi naik haji. Para pedagang dan raja-raja Islam tentu menghormatinya dan Gowa terus menjadi kawan.

 

Pada akhir abad ke-16, semasa kekuasaan I Mangarangi Daeng Manrabia yang merupakan putra Tunijallo, tiga ulama Minangkabau yang dikirim sultan Johor tiba di Gowa untuk berdagang. Mereka adalah Khatib Tunggal Abdul Makmur, Khatib Sulaiman, dan Khatib Bungsu. Sambil berdagang, mereka juga berdakwah.

 

“Ketika dakwah di Makassar menghadapi tantangan besar, ketiganya meninggalkan Makassar menuju Luwu,” tulis Mustari Mustafa dalam Syaikh Yusuf Al-Makassari.



Raja Luwu adalah raja yang dihormati oleh raja-raja lain di Sulawesi Selatan, sebab Luwu adalah akar bagi kerajaan lain di Sulawesi Selatan. Pendekatan yang baik membuat Raja Luwu La Patiwarek Daeng Parebbung mengenal Islam dan pada 1603 pun mengucapkan dua kalimat syahadat.

 

Khatib Sulaiman  terus berada di Luwu hingga tutup usia di sana. Dia digelari Datuk Ri Patimang. Khatib Bungsu kemudian meninggal di Tiro dan digelari Datuk Ri Tiro.

 

Sementara, Khatib Tunggal kemudian berhasil membuat Raja Tallo yang merangkap perdana menteri Gowa I Malingkaan Daeng Manyonri dan Raja Gowa I Mangarangi Daeng Manrabia  mau menerima Islam pada 22 September 1605. Kedua raja dari Makassar itu lalu memakai gelar sultan. Raja Tallo sebagai Sultan Awaluddin dan Raja Gowa sebagai Sultan Alaudin. Setelah rajanya, rakyat Makassar di Gowa dan Tallo pun banyak masuk Islam.

 

Setelah wafat, Khatib Tunggal Abdul Kadir digelari Datuk Ri Bandang. Dirinya tak hanya berjasa dalam Islamisasi rakyat Makassar, di Selayar dan sebagian Kalimatan Timur Islam berkembang karena Datuk Ri Bandang.*


 

 

1 Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

nama-nama yg susah untuk di ucapkan dan di hafalkan

Suka

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Catatan Snouck Hurgronje Tentang Kebiasaan Umat Islam di Hindia Belanda

Catatan Snouck Hurgronje Tentang Kebiasaan Umat Islam di Hindia Belanda

Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Snouck Hurgronje di Jeddah dan Makkah

Snouck Hurgronje di Jeddah dan Makkah

Snouck Hurgronje pergi ke Jeddah dan Makkah untuk mengamati dan menggali informasi mengenai umat Islam dari Hindia Belanda.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page