- 3 jam yang lalu
- 4 menit membaca
KURT Cobain bukan hanya rockstar. Pentolan band grunge Nirvana itu sudah jadi ikon Generasi X (Gen X). Walau kehidupannya ironis di mana dirinya mati muda pada 5 April 1994, Cobain bersama Nirvana turut memengaruhi para musisi alternative rock sekaligus memperluas cakrawala musik rock mainstream hingga jadi salah satu yang paling dikenang pemuda-pemuda yang tumbuh pada 1990-an.
Jalan hidup Cobain memang penuh ironi. Suami musisi Courtney Love itu sudah lama bersentuhan dengan narkoba. Pada September 1991, tak lama setelah Nirvana mengeluarkan album keduanya yang meledak di pasaran, Nevermind, Cobain makin kecanduan heroin. Cobain mengaku menjadikan penggunaan heroin sebagai kebiasaan untuk “mengobati” perutnya yang sakit secara mandiri.
“Itu memang pilihan saya. Inilah yang yang menyelamatkan saya dari kepala saya yang mau meledak. Saya harus melakukan sesuatu untuk menghentikan rasa sakit ini. Mulanya saya mencoba heroin selama tiga hari berturut-turut dan saya tak lagi merasakan nyeri pada perut saya,” kata Cobain, dikutip jurnalis musik Michael Azerrad dalam biografi Come As You Are: The Story of Nirvana.
Jelas saja alasan itu tak begitu saja dipercaya orang-orang terdekatnya. Gitaris Buzz Osborne, misalnya, menganggap Cobain sering sakit perut dan muntah justru gara-gara heroin. Osborne, pendiri band rock Melvins, adalah sahabat Cobain yang juga berjasa mengenalkan drummer Dave Grohl kepada Cobain dan bassist Krist Novoselic. Grohl bergabung ke Nirvana pada 1990.
“Yang Kurt bilang pada saya justru tak ada masalah apapun dengan perutnya. Ia hanya membuat-buat cerita itu demi simpati dan ia bisa menggunakannya sebagai alasan untuk tetap punya persediaan. Tentu saja dia muntah – itu yang terjadi pada orang kecanduan heroin, mereka muntah. Itu disebut ‘muntah dengan senyum di wajah Anda’,” kenang Osborne di kolom The Talkhouse, 6 Juni 2015, “Buzz Osborne (the Melvins) Talks the HBO Documentary Kurt Cobain: Montage of Heck”.

Overdosis hingga Investigasi Independen
Mulai 1992, kecanduan Cobain pada narkoba sudah akut. Pada 12 Januari 1992 atau sehari pasca-Nirvana tampil di program acara varietas komedi “Saturday Night Live”, Cobain pertamakali mengalami overdosis yang nyaris merenggut jiwanya. Beruntung, Love yang tengah hamil sempat memanggil paramedis darurat untuk menyelamatkan Cobain.
“Kecanduannya mengharuskannya menjalani rehabilitasi pada 1992. Akan tetapi kepulihannya tak berlangsung lama karena ia kembali overdosis medio 1993 dan pada awal Maret 1994, di mana disebutkan overdosis itu jadi percobaan bunuh diri,” ungkap Len Sperry dalam Mental Health and Mental Disorders: An Encyclopedia of Conditions, Treatments, and Well-Being.
Love pun memaksa Cobain untuk rehabilitasi lagi sekaligus menjalani detoksifikasi pada 30 Maret 1994 di Exodus Recovery Center di Los Angeles. Namun pada 2 April, Cobain kabur dengan memanjat tembok dan pulang ke Seattle.
“Sebelum direhab, Cobain dan kawannya, (musisi) Dylan Carlson membeli sebuah senapan gentel. Meski dikenal tak menyukai senjata api, Cobain ternyata butuh untuk melindungi diri terhadap penyusup di rumahnya. Karena ia telah membatalkan sebuah tur, jadi ia yakin fans akan kesal dan mungkin akan menyakitinya atau keluarganya. Sebelum masuk rehabilitasi, ia menyimpan senapannya di rumah,” tulis Teresa Nordheim dalam Murder & Mayhem in Seattle.
Ketika tahu Cobain kabur, Love mulanya tak tahu ke mana ia pergi. Maka ia pun menyewwa jasa detektif swasta untuk mencarinya. Pada 4 April 1994, Love membuat laporan orang hilang ke kepolisian. Ternyata Cobain pulang ke rumahnya di Lake Washington Boulevard, Seattle.
Nahas kemudian, Cobain ditemukan sudah tak bernyawa di rumahnya. Jenazahnya ditemukan oleh tukang listrik Gary T. Smith yang memang sudah terjadwal untuk memasang lampu keamanan. Ditemukan pula sepucuk senapan gentel Browning Auto-5 dan secarik kertas berisi pesan bunuh diri. Ia pun segera melaporkannya ke kepolisian.
“Akan tetapi pesan bunuh diri itu justru sama sekali tak mengatakan apapun tentang dia akan mengakhiri hidupnya. Rocker yang tengah jenuh itu justru menuliskan versi kasar tentang pengumuman bahwa ia berniat keluar dari bisnis musik dengan menuliskan, ‘lebih baik habis daripada berangsur-angsur hilang,’” tulis suratkabar Weekly World News edisi 15 Oktober 2002, “Kurt Cobain – Suicide or Murder?”.
Hasil uji forensik menyatakan Cobain sudah meninggal sejak 5 April atau tiga hari sebelum ditemukan oleh Smith. Catatan resmi menyatakan Cobain meninggal bunuh diri dengan menembakkan senapan gentel itu ke mulutnya.
Semua rekan dan kerabat Cobain pun terpukul mendengar kabar kematiannya. Jenazahnya kemudian disemayamkan untuk penghormatan terakhir di Seattle Center pada 10 April 1994. Setelah itu jasad Cobain dikremasi atas permintaan Love.
Sejak kematiannya, banyak pihak meragukan pernyataan resmi “bunuh diri”, bahkan hingga sekarang. Terbaru, sekelompok peneliti forensik kembali menginvestigasi kasusnya dengan memeriksa banyak arsip bukti-bukti dari tempat kejadian perkara (TKP).
“Ada hal-hal dalam otopsinya yang membuat kami merasa, well, kematian orang ini (Cobain, red.) tidak disebabkan dampak tembakan. Nekrosis pada otak dan liver terjadi dalam overdosis. Itu tak terjadi dalam kematian akibat ditembak,” kata Michelle Wilkins, salah satu peneliti independen dalam tim investigasi forensik itu kepada Daily Mail, Selasa (10/2/2026).
Wilkins dkk. berkesimpulan ada lebih dari dua pelaku misterius dan memaksa Cobain overdosis heroin, kemudian menembak kepalanya dan meninggalkan secarik pesan bunuh diri. Pasalnya, dari riset mereka ditemukan gejala-gejala nekrosis atau kematian dini pada jaringan sel yang lazim terjadi pada orang yang mengalami overdosis.
“Jadi ini pembunuhan. Kita harus melakukan sesuatu tentang hal ini, timpal rekannya, Brian Burnett.
Kendati begitu, Kepolisian Seattle tetap pada pernyataan mereka bahwa kematian Cobain karena bunuh diri dan tak akan membuka kembali kasusnya. Begitu juga dengan pernyataan fasilitas kesehatan King County Medical Examiner yang pada 32 tahun lampau menangani forensik atas jasad Cobain.
“Kantor King County Medical Examiner saat itu bekerja dengan dinas penegak hukum lokal (Kepolisian Seattle, red), melakukan otopsi menyeluruh dan mengikuti semua prosedur untuk menentukan penyebab kematiannya karena bunuh diri. Kami selalu terbuka untuk menengok kembali kesimpulan itu jika terdapat bukti (resmi) baru, tetapi sampai hari ini kami tak punya alasan untuk membuka lagi kasusnya dan mengubah penentu kematiannya sebelumnya,” ujar juru bicara King County Medical Examiner yang tak disebutkan namanya.













Komentar