- 12 Feb
- 3 menit membaca
Diperbarui: 5 hari yang lalu
PERANG Aceh sepanjang paruh kedua abad ke-19 meninggalkan banyak artefak sejarah. Dari ribuan benda itu, sebagian tersimpan di Museum Nasional Indonesia. Salah satunya panji bendera Kesultanan Aceh yang masih melekat bekas noda darahnya. Panji ini biasanya diusung para prajurit menjelang berperang.
“Kita coba menggali narasi tersembunyi dari koleksi. Selama di Museum Nasional, saya secara tak langsung banyak melihat koleksi-koleksi yang belum bisa berbicara, termasuk koleksi Aceh,” kata Eko Septian Putra, kurator Museum Nasional Indonesia, dalam “Seminar Kuratorial dan Peluncuran Pameran Digital Keuneubah Aceh” di @america, Pacific Place, Jakarta (10/2).
Sejak 2025, Museum Nasional Indonesia bersama Southeast Asia Museum Services (SEAMS) berkolaborasi dalam meriset dan mendigitalisasi koleksi Aceh, terutama yang berkaitan dengan Perang Aceh (1873–1912). Sebelum dikurasi, banyak dari benda-benda bersejarah ini deskripsinya tak lengkap. Mulai dari tempat asal, bagaimana benda-benda itu digunakan, dan kondisi ketika benda-benda itu dibawa ke museum, tidak selalu diketahui sepenuhnya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















