top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Menggali Sumber Sejarah Aceh Semakin Mudah

Ribuan koleksi sumber sejarah Aceh tersimpan di Museum Nasional Indonesia. Digitalisasi mempermudah untuk memaknai pengetahuan sejarah.

11 Feb 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Koleksi Aceh dalam Museum Nasional Indonesia yang sudah didigitalisasi. (Google Arts & Culture/Keuneubah Aceh).

  • 12 Feb
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 12 Feb

PERANG Aceh sepanjang paruh kedua abad ke-19 meninggalkan banyak artefak sejarah. Dari ribuan benda itu, sebagian tersimpan di Museum Nasional Indonesia. Salah satunya panji bendera Kesultanan Aceh yang masih melekat bekas noda darahnya. Panji ini biasanya diusung para prajurit menjelang berperang. 


“Kita coba menggali narasi tersembunyi dari koleksi. Selama di Museum Nasional, saya secara tak langsung banyak melihat koleksi-koleksi yang belum bisa berbicara, termasuk koleksi Aceh,” kata Eko Septian Putra, kurator Museum Nasional Indonesia, dalam “Seminar Kuratorial dan Peluncuran Pameran Digital Keuneubah Aceh” di @america, Pacific Place, Jakarta (10/2). 


Sejak 2025, Museum Nasional Indonesia bersama Southeast Asia Museum Services (SEAMS) berkolaborasi dalam meriset dan mendigitalisasi koleksi Aceh, terutama yang berkaitan dengan Perang Aceh (1873–1912). Sebelum dikurasi, banyak dari benda-benda bersejarah ini deskripsinya tak lengkap. Mulai dari tempat asal, bagaimana benda-benda itu digunakan, dan kondisi ketika benda-benda itu dibawa ke museum, tidak selalu diketahui sepenuhnya. 


Pameran digital bertajuk “Keuneubah Aceh” menjadi ikhtiar untuk melengkapi narasi tentang koleksi Aceh yang tersimpang di Museum Nasional Indonesia. Dengan menggabungkan dokumentasi museum, penelitian, dan konsultasi bersama komunitas terkait, pameran ini menelusuri perjalanan benda-benda tersebut. Keuneubah sendiri dalam bahasa Aceh berarti warisan. Digitalisasi koleksi tersebut dapat diakses di laman Google Arts & Culture dalam kanal Keuneubah Aceh.







Seminar Kuratorial dan Peluncuran Pameran Digital Keuneubah Aceh”, di @america, Pacific Place, Jakarta (10/2). (Martin Sitompul/Historia.ID).
Seminar Kuratorial dan Peluncuran Pameran Digital Keuneubah Aceh”, di @america, Pacific Place, Jakarta (10/2). (Martin Sitompul/Historia.ID).

Eko menyebut ada sekira 42 objek koleksi Aceh yang telah didigitalisasi. Ia sendiri meriset tentang benda unik yang disebut cupeng. Ini adalah alat penutup kelamin bagi anak perempuan Aceh, yang terbuat dari berbagai logam mulia, tergantung dari stratifikasi sosialnya. Koleksi cupeng yang tersimpan di Museum Nasional Indonesia berasal dari tempat persembunyian Cut Nyak Dien di Aceh Barat, ketika pasukan Marsose melancarkan penyergapan. 


“Saya mendapat kesempatan untuk mengkaji objek yang sifatnya kecil, namanya cupeng. Awalnya saya mengira objek kecil ini mudah, ternyata rumit,” kata Eko. 



Menurut Eko, koleksi Aceh yang tersimpan di Museum Nasional Indonesia tak lepas dari peran Snouck Hurgronje dan Ernest van Daalen. Snouck adalah antropolog Belanda yang juga seorang peneliti Islam. Pada 1890, Snouck ditugaskan ke Aceh untuk mempelajari masyarakat Aceh dan agama Islam yang dianut orang Aceh, menjadi cikal-bakal aksi spionasenya dalam Perang Aceh. Sementara itu, van Daalen merupakan perwira yang memimpin ekspedisi militer di Aceh sekaligus murid Snouck. Mereka berkontribusi mengirimkan benda-benda pampasan Perang Aceh ke Museum Nasional Indonesia yang saat itu bernama Bataviaasch Genootschap untuk dipelajari. 


“Bahwa yang bertanggungjawab atas koleksi ekspedisi militer Aceh di Museum Nasional adalah dua orang ini,” ungkap Eko. 


Selain cupeng dan panji Kesultanan Aceh, masih banyak koleksi lainnya yang sudah didigitalisasi. Mulai dari foto-foto ekspedisi militer, alat-alat perang senjata tajam seperti rencong dan pedang, hingga perhiasan logam mulia. Tersua pula koleksi yang berkaitan dengan wahana spiritual dan objek reliji seperti tasbih, inskripsi Arab, dan lembaran surat kayu (papan untuk mengajar) yang memuat ayat-ayat suci Al-Qur'an, hingga berbagai rupa jimat. 


“Relijius objek ini dipakai juga untuk pertahanan diri secara spiritual,” kata Ayu Dipta Kirana, peneliti SEAMS. 



Pada panji Kesultanan Aceh, terkisah fakta mencengangkan. Terdapat noda darah pada bendera berlambang bulan, bintang, dan pedang itu. Menurut Hafnidar, peneliti SEAMS dan mantan direktur Museum Tsunami Aceh, noda darah itu menjadi bukti jejak kekerasan dalam perang. 


“Panji direbut dari medan pertempuran dan kemungkinan disimpan sebagai trofi kebanggaan perang bagi Belanda,” ungkap Hafnidar. 


Sementara itu, Ayu Dipta juga mengangkat tentang objek peralatan sehari-hari dari wilayah Gayo dan Alas, yang turut menjadi barang-barang pampasan dari ekspedisi militer Perang Aceh. Benda-benda itu seperti tas anyaman, kotak sirih, dan kain tenun. Termasuk pula Tenun Gayo yang sudah tak lagi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Gayo hari ini. Hilangnya Tenun Gayo dari khazanah wastra Indonesia dimulai sejak periode Perang Aceh yang mengakibatkan kehabisan sumber daya dan kerusakan alat tenun secara masif. Itulah sebabnya Tenun Gayo tak lagi dikenal. 


“Peralatan sehari-hari ini menjadi cermin bagaimana warisan budaya material yang penting ketika kita mencatat pengetahuan praktik kehidupan keseharian orang-orang yang ada di wilayah Aceh,” tutup Ayu Dipta.* 



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

Murka karena utusannya dibantai dengan bengis, Sultan Mehmed II membalas dengan kekuatan penuh. Walau berhasil kabur, nasib Vlad Dracula berakhir tragis.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Pahit Getir Hidup Sjahrir

Pahit Getir Hidup Sjahrir

Menjelang akhir hayatnya, Sutan Sjahrir hidup sebagai tahanan dalam perawatan. Namun, justru pada saat itulah putrinya merasakan kehidupan sebagai keluarga yang utuh.
Gowa Masuk Islam

Gowa Masuk Islam

Islamisasi di Gowa dan Makassar makan waktu panjang meskipun raja-raja di sana sangat terbuka.
bottom of page