top of page

Soebandrio Ujung Tombak Politik Luar Negeri Sukarno

Terlepas dari kontroversi yang mengelilinginya, dr. Soebandrio pernah jadi diplomat ulung Indonesia di panggung internasional. Tak gentar meladeni Amerika Serikat.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Presiden Sukarno (kanan) bersama Waperdam merangkap Menlu dr. Soebandrio (Elsevier/nationaalarchief.nl)

10 Feb
2 menit membaca

Diperbarui: 14 Mei

BELAKANGAN ini, keputusan Presiden RI Prabowo Subianto untuk ikut serta dalam Board of Peace yang digagas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuai banyak protes. Antara lain karena dewan itu tak mengikutsertakan Palestina. Demi merespon kemauan publik, Istana sampai memanggil banyak ormas keagamaan hingga para diplomat yang pernah menjabat menteri luar negeri (menlu) dan wakil menteri luar negeri (wamenlu).


Di masa awal kemerdekaan, diplomasi khususnya di forum-forum PBB jadi ujung tombak perjuangan pengakuan kedaulatan di panggung internasional. Antara lain dilakukan delegasi RI di forum Dewan Keamanan PBB, medio 1947 dengan membongkar propaganda Belanda pasca-Agresi Militer I Belanda (21 Juli-4 Agustus 1947). Para tokoh di delegasi itu dikenal sebagai diplomat ulung: Sutan Sjahrir, Haji Agus Salim, Soedjatmoko, Charles Tambu, dan Soemitro Djojojadikusumo sang ayah Presiden Prabowo.


Namun, sejatinya ada satu nama lagi yang terlupakan dalam jajaran diplomat ulung yang pernah dimiliki Indonesia: dr. Soebandrio. Dia perintis jalan diplomasi sebagai duta besar pertama Indonesia untuk Inggris (1946-1954).


Untuk mengingat kiprahnya sebagai ujung tombak politik luar negeri Indonesia di era 1960-an, Historia.ID menyuguhkan laporan khusus mengenai sosok Soebandrio. Masa itu, dunia “mendidih” akibat Perang Dingin yang diorkestrasi AS dan Soviet. Dalam mengerjakan laporan ini, Historia.ID menelusuri banyak arsip, catatan-catatan hingga suratkabar-suratkabar lawas selain wawancara dengan sejarawan Asvi Warman Adam dan analis politik luar negeri Sigit Aris Prasetyo.


Soebandrio sendiri awalnya merupakan dokter ahli bedah lulusan Geneeskundige Hoogeschool (kini Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Perjalanan hidup membawanya dari meja bedah ke meja diplomasi internasional yang berperan penting bagi masuknya Irian Barat.


“Dr. Soebandrio pelaku sejarah yang memiliki peran amat penting. Jika kita menyimak secara cermat dan seksama atas penuturan dr. Soebandrio, terbayang dan terasakan bagi kita semua: alot dan tidak mudahnya langkah-langkah diplomasi kita waktu itu. Ada pula pihak-pihak yang amat berpengaruh seperti Amerika Serikat, Uni Soviet, dan PBB yang memerlukan pendekatan dan komunikasi politik yang tepat dan konstruktif,” terang Menko Polsoskam Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya di peluncuran buku karya Soebandrio, Meluruskan Sejarah Perjuangan Irian Barat, pada 25 Januari 2001.


Namun, sejarah kemudian membwa Soebandrio sebagai pesakitan. Dicap PKI pasca-Peristiwa 1965, dirinya divonis hukuman mati. Meski akhirnya lolos dari vonis hukuman mati –vonisnya diubah menjadi hukuman penjara seumur hidup– rezim Orde Baru, nama Soebandrio yang telah dirusak tak pernah dirahabilitasi dan kiprahnya terlupakan.


Berikut ini laporan khusus mengenai Soebandrio:



Kumpulan tulisan tentang Soebandrio

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Terlantar di negeri orang. Eks romusha bersama buruh Indonesia melakukan aksi propaganda, boikot, hingga pemogokan di Singapura.
bg-gray.jpg
Pengalaman dan usianya membuat Gatot Soebroto acap jadi tempat mengadu para perwira. Namanya tetap abadi di banyak tempat, mulai jalan-jalan protokol hingga RSPAD.
bg-gray.jpg
Kasus perdagangan anak di daerah transmigrasi Rawa Makmur, Kalimantan Timur ungkap kemiskinan ekstrem yang menjerat kehidupan para transmigran. Praktik korupsi aparat disinyalir biang keladinya.
bg-gray.jpg
Panglima tempur yang memadamkan gejolak di berbagai daerah. Menggagas banyak hal penting setelah aktif lagi di Angkatan Darat.
Aktor kawakan yang mencintai akting dan bisbol. Dikagumi Elvis Presley hingga jadi “anak emas” Walt Disney.
Aktor kawakan yang mencintai akting dan bisbol. Dikagumi Elvis Presley hingga jadi “anak emas” Walt Disney.
Pantomim bukan sekadar bahasa bisu. Ia seni ekspresi dengan estetika yang tak semata memancing gelak tawa.
Pantomim bukan sekadar bahasa bisu. Ia seni ekspresi dengan estetika yang tak semata memancing gelak tawa.
Merekam warga Jakarta dalam merayakan hari kemerdekaan Indonesia tahun ini. Antusiasme yang muncul lagi usai hampir dua tahun menghilang.
Merekam warga Jakarta dalam merayakan hari kemerdekaan Indonesia tahun ini. Antusiasme yang muncul lagi usai hampir dua tahun menghilang.
Beda zaman, beda lagi jiwanya. Begitu pula dengan kesantunan dalam berpolitik.
Beda zaman, beda lagi jiwanya. Begitu pula dengan kesantunan dalam berpolitik.
Ketika pemerintah Hindia Belanda tak mampu menghadapi gelombang pandemi Flu Spanyol secara menyeluruh, para sinshe muncul sebagai penyelamat.
Ketika pemerintah Hindia Belanda tak mampu menghadapi gelombang pandemi Flu Spanyol secara menyeluruh, para sinshe muncul sebagai penyelamat.
Barcelona menyambut kepulangan pahlawan Liga Champions pertamanya. Mampukah Koeman membawa Messi cs bangkit?
Barcelona menyambut kepulangan pahlawan Liga Champions pertamanya. Mampukah Koeman membawa Messi cs bangkit?
transparant.png
bottom of page