- 9 Feb
- 3 menit membaca
Diperbarui: 14 Mei
UMUMNYA, pasukan artileri adalah satuan yang kini berkutat dengan meriam-meriam. Namun, Letnan Tivadar Emile Spier (1916-2010), salah satu perwira di Resimen Artileri Medan ke-6 Divisi 7e December Koninklijk Landmacht (Angkatan Darat Kerajaan Belanda) yang bertugas di sekitar Subang, Jawa Barat, malah tak berkutat dengan senjata berat macam meriam. Dia tugasnya mengejar musuh layaknya pasukan khusus infanteri.
Pada 24 Agustus 1948, Spier memimpin sebuah peleton berisi sekitar 20-40 orang milisi. Mereka bergerak ke puncak Gunung Pogor, dekat Kampung Cisalak. Di gunung itu terdapat sekitar 60 personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang –dilengkapi senapan, granat tangan, senapan mesin, dan pom-pom 2 cm– menjadi lawan mereka. Ketika itu pasukan TNI memiliki.
“Pendakiannya sudah sulit; kami harus mendaki 400 meter di sepanjang lereng gunung yang curam,” aku Spier di koran De Telegraaf, 10 Juni 1955. “Kami mampu mencapai puncak secara mengejutkan,” sambung Spier yang membawa pasukannya bergerak dengan hati-hati.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















