top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

...

_

_

Oleh :
Historia
...

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

...


 

UMUMNYA, pasukan artileri adalah satuan yang kini berkutat dengan meriam-meriam. Namun, Letnan Tivadar Emile Spier (1916-2010), salah satu perwira di Resimen Artileri Medan ke-6 Divisi 7e December Koninklijk Landmacht (Angkatan Darat Kerajaan Belanda) yang bertugas di sekitar Subang, Jawa Barat,  malah tak berkutat dengan senjata berat macam meriam. Dia tugasnya mengejar musuh layaknya pasukan khusus infanteri.

 

Pada 24 Agustus  1948, Spier memimpin sebuah  peleton berisi sekitar 20-40 orang milisi. Mereka bergerak ke puncak Gunung Pogor, dekat Kampung Cisalak. Di gunung itu terdapat sekitar 60 personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang –dilengkapi  senapan, granat tangan, senapan mesin, dan pom-pom 2 cm– menjadi lawan mereka. Ketika itu pasukan TNI memiliki.

 

“Pendakiannya sudah sulit; kami harus mendaki 400 meter di sepanjang lereng gunung yang curam,” aku Spier di koran De Telegraaf tanggal 10 Juni 1955. “Kami mampu mencapai puncak secara mengejutkan,” sambung Spier yang membawa pasukannya bergerak dengan hati-hati.

 

Ketika jarak antara pasukan TNI dengan pasukan Spier sekitar 20 meter, baku tembak terjadi. Pasukan TNI yang kurang terlatih, berantakan dibuatnya hingga sebagian harus kabur meninggalkan sebagian lain yang terbunuh.

 

Sebaliknya, pasukan inti Spier tidak ada yang tewas. Beberapa yang jadi korban hanya terluka. Hanya pemimpin pasukan lokalnya, yang dikenal sebagai Pak Sawad, terbunuh. Letnan Spier pun dianggap berprestasi. Maka setelah operasi itu, Spier terus memelihara pasukan lokalnya itu.

 

Orang-orang lokal yang dipakai Spier itu bukanlah serdadu bule. Mereka orang setempat dengan nyali besar bak preman yang tak peduli nasionalisme. Jumlah pasukan itu sekira satu kompi plus. Het Nieuwsblad voor Sumatra edisi 11 April 1949 menyebut, jumlah personelnya pernah mencapai 225 orang. Mereka disebut sebagai “Groep Spier” (Kelompok Spier) atau juga Troepen Spier (Pasukan Spier). Letnan Spier, disebut dalam Arsip Register Ridders Militaire Willemsorde 4e Klaas nomor 5671, memimpin pasukan itu sejak Agustus 1946 hingga pertengahan 1949.

 

Pada 27 Januari  1949,  peleton bawahan Spier kembali bergerak. Mereka kembali sukses, berhasil menghancurkan kelompok Naga Merah, yang oleh orang Belanda dianggap Geng Teroris. Mereka juga berhasil menewaskan Mayor TNI Rahman. 

 

Setelah Agresi Militer Belanda Kedua dengan hasil menduduki ibukota Republik Indonesia Yogyakarta, tentara Belanda tak membuat perlawanan orang Indonesia di Jawa Barat mengendor. Sebab, yang terjadi adalah kembalinya Divisi Siliwangi ke Jawa Barat yang telah menjadi daerah pendudukan tentara Belanda. Suatu kali,  perwira intelijen dari resimen melaporkan sebuah konvoi besar TNI yang bergerak masuk diam-diam ke Jawa Barat dari arah Jawa Tengah.

 

“Di medan pegunungan yang sangat terjal di tenggara Subang, kami bertemu dengan konvoi tersebut, yang berjumlah sekitar seratus orang,” aku Spier.

 

Spier pun bergerak bersama lima bawahannya. Mereka terlibat pertempuran jarak dekat.

 

“Kami cepat-cepat melepaskan tembakan dengan senapan mesin, pistol mesin, senapan, dan granat. Dalam lima meter pertama, dua orang anggota TNI tewas, dan konvoi tersebut jatuh ke dalam kekacauan yang tak terlukiskan.”

 

Pasukan Spier berhasil menyita dua lusin amunisi, sebuah mortir berat, dan berbagai macam senjata genggam. Meski ada lawan yang lolos, kondisi pasukan TNI sudah tercerai-berai dan jelas melemah dalam pengunduran dirinya.

Pada awal April 1949, ke-225 anggota pasukan lokal pimpinan Spier itu mengikuti sebuah parade militer di Alun-alun Subang. Dalam kesempatan itulah, tulis Het Nieuwsblad voor Sumatra, mereka mendapat pujian dari Komandan Grup Brigade Infanteri Kedua Kolonel J.A.W. Uylenberg.

 

Troepen Spier di Subang mirip dengan Hare Majesteits Ongeregelde Troepen (HAMOT) alias Pasukan Liar Ratu Belanda binaan Letnan Koert Bavinck (1926-1986) yang bertangsi di sekitar Kampung Sumur, dekat Klender, Jakarta Timur. HAMOT, yang juga berisi jago-jago lokal terkemuka, beraksi dalam Agresi Militer Belanda Pertama (21 Juli-Agustus 1947) di Front Karawang-Bekasi. Namun, HAMOT lebih sulit dikendalikan dibanding Troepen Spier.

 

Spier sendiri terus berkarier di militer setelah kembali ke Negeri Belanda. Dia sudah jadi tentara sejak 1938, dari pangkat terbawah. Ketika Belanda diduduki Jerman pada 1940, pangkatnya sudah sersan. Dia resmi jadi tentara lagi pada 1945 usai Perang Dunia II tamat, lalu dikirim ke Indonesia. Di KL, Spier mencapai pangkat akhir letnan kolonel. Dia pindah ke Korps Infanteri pada 1954 dan setahun kemudian dianugerahi bintang Ridders Militaire Willlemsorde atas aksi-aksinya di Subang, berdasarkan Koninklijk Besluit tanggal 14 Mei 1955 nomor 20.

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Perang Jawa Memicu Kemerdekaan Belgia dari Belanda

Perang Jawa Memicu Kemerdekaan Belgia dari Belanda

Hubungan diplomatik Indonesia dan Belgia secara resmi sudah terjalin sejak 75 tahun silam. Namun, siapa nyana, kemerdekaan Belgia dari Belanda dipicu oleh Perang Jawa.
Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja bersekutu melawan Belanda. Keduanya telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Prajurit Keraton Ikut PKI

Prajurit Keraton Ikut PKI

Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
bottom of page