top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Jago Perang Denmark Cucu Tuan Kebun Deli

Axel Lassen berbisnis tembakau di Deli, Sumatra Utara. Cucunya, Anders Lassen bersama pasukan Inggris melawan Jerman dalam Perang Dunia II.

3 Jan 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Anders Lassen semasa Perang Dunia II. (Imperial War Museums/Wikimedia Commons).

ANDERS Lassen digambarkan sebagai ahli dalam membunuh lawan-lawannya, termasuk dengan tangan kosong atau tanpa senjata api dalam film The Ministry of Ungentlemanly Warfare (2024) arahan Guy Ritchie. Dia disebut-sebut sebagai “Palu Denmark” dalam film tentang Operasi Postmaster melumpuhkan kapal logistik pendukung U-Boat Jerman itu. Karakter Anders Lassen itu diperankan oleh Alan Ritchson.

 

Baik Operasi Postmaster maupun karakter Anders Lassen adalah riil. Anders Frederik Emil Victor Schau Lassen (1920-1945) memang berasal dari Denmark, anak dari Emil Victor Schau Lassen and Suzanne Maria Signe Lassen. Ibunya seorang penulis dan ayahnya adalah kapten dalam bala keselamatan.

 

Keluarga Lassen merupakan keluarga pemilik pertanian. Kakek Anders Lessen, Axel Frederik Julius Christian Lassen (1858-1925), orang kaya dari perkebunan. Rosekamp.dk mencatat, Axel Lassen melaut antara 1872 hingga 1877. Setelahnya, dia menjadi pebisnis kebun tembakau di Deli, Sumatra Utara pada 1877 hingga 1894. Bisnis tembakau itu membuatnya kaya.

 

Axel Lassen berbisnis tembakau setelah satu dekade Jacobus Nienhuys (1837-1927) merintis perkebunan tembakau di sana. Dagblad van Zuidholland en de Gravenhage tanggal 11 April 1894 dan De Locomotief tanggal 23 Mei 1894 menyebut, Axel Lassen mengenali potensi tanah di daerah Deli dan Langkat. Potensi itu yang dimanfaatkannya. Setelah menanam di Deli, mereka terus menanam ke arah Langkat.

 

Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 daerah sekitar Medan dikenal dengan komoditas tembakau Delinya. komoditas itu lau digantikan karet dan kelapa sawit. Orang-orang Eropa kaya biasanya menjadi pemilik atau pengelola alias Administrateur atau Administrator pekerbunan yang sangat luas di sana. Para tuan di pekebunan-perkebunan itu memiliki kuasa besar di tanah perkebunan mereka.


Jan Breman dalam Menjinakan Sang Kuli menggambarkan besarnya kuasa pengelola perkebunan terhadap kuli-kulinya yang kebanyakan berasal dari Jawa itu. Para kuli bisa dicambuk jika kabur dari perkebunan atau dibaluri sambal alat kelaminnya jika dianggap bersalah. Mereka bisa menghukum tanpa bantuan kepolisian atau aparat pemerintah lain.

 

Di Deli, Axel Lassen tak sendiri. Adiknya, Christian Lassen, juga menjadi administrator perkebunan di Langkat Tabak Maatschappij. Setelah Axel lebih banyak berada di Denmark, Christian banyak berada di sana pada awal abad ke-20 ketika kota Medan mulai berkembang menjadi modern.

 

Axel Lassen jelas berpengaruh di kalangan para kuli bumiputra yang dibayar rendah demi membesarkan tembakau-tembakau milik pengusaha perkebunan Eropa macam Axel Lassen dan lainnya. Harta yang terkumpul dari Deli itu membuat Axel menjadi kaya dan berpengaruh kampung halamannya. Keluarganya hidup nyaman karenanya tanpa tahu pasti derita kuli-kuli kebun tembakau di Langkat dan Deli. Termasuk Anders Lassen sang jagoan ini.

 

Anders Lassen, sebut Gavin Mortimer dalam The Daring Dozen: 12 Special Forces Legends of World War II, adalah pria kelahiran Høvdingsgård, 22 September 1920. Sedari kecil, dia hobi berburu. Kemampuan berburunya mengagumkan.

 

“Pada usia 12 tahun dikabarkan telah memburu dan membunuh seekor rusa jantan, hanya berbekal pisau berburu,” catat C.K. Smith dalam With the SBS and SAS in WW2: Corporal Ken Smith’s Wartime Service from the Royal Marines to the Special Forces.

 

Begitu dewasa, Anders Lassen bekerja sebagai pelaut kapal niaga. Ketika pecah Perang Dunia II, dia sedang berada di Inggris dan mengetahui negerinya diduduki Jerman-Nazi. Ia segera mendaftar masuk militer Inggris. Dia berupaya melakukan apapun demi bisa membantu membebaskan negerinya dari pendudukan Nazi.

 

“Demi setia melayani, bekerja di bawah otoritas apapun untuk melawan musuh yang menduduki tanah air,” sumpahnya kepada Raja Christian dari Denmark.

 

Memulainya sebagai prajurit, pria penuh semangat itu diterjunkan dalam operasi-operasi berbahaya di Perang Dunia II setelah 1941. Serangkaian petualangan yang berhasil diembannya membawanya menjadi perwira di pasukan elite 1st SAS/1st SBS. Dia dianugerahi Military Cross three lines, penghargaan tertinggi ketiga militer Inggris, atas keberaniannya.

 

Bersama pasukan elite Inggris itu, Lassen terus bergerak maju hingga mencapai sebuah pulau kecil di dekat kota kecil Comacchio, Italia pada paruh pertama 1945. Dia ditugaskan memimpin pasukan kecil, yang kelelahan, untuk membuat kekacauan pada garnisun Jerman di Comacchio yang begitu kuat pada 8 April 1945 malam. Bersama mereka, ada pasukan Ken Smith yang bergerak dari titik lain.

 

Pada malam hari H itu, tembakan hebat menghujani tempat pasukan kecil Lassen mendarat tepat saat kano Ken mendekati pantai. Berbeda dari pasukan Lassen yang terus maju, kano yang ditumpangi Ken berbalik arah karena berada di perairan terbuka dan menjadi sasaran empuk lawan. Menurut Ken, tidak ada gunanya untuk terus berjuang karena dengan semua kekacauan itu, tujuan telah tercapai dan melanjutkannya akan menjadi tindakan bunuh diri.

 

Sementara Ken berada di tempat aman di perairan seberang Comacchio, pasukan kecil Lassen bertaruh nyawa untuk terus mengacaukan garnisun Jerman. Dengan granatnya, Lassen menghancurkan posisi pertama garnisun Jerman berisi empat orang. Lassen lanjut ke posisi kedua di bawah tembakan perlindungan sisa pasukannya. Lebih banyak granat ia lemparkan hingga menewaskan dua prajurit lawan dan menawan dua lainnya hingga dua senapan mesin dibungkam. Posisi kedua lawan berhasil dikuasainya.  

 

Setelah mengumpulkan dan memberi briefing sisa pasukannya, Lassen memerintahkan mereka menyerang posisi ketiga. Begitu sudah berhasil menguasai posisi ketiga, Lassen berteriak memerintahkan lawan untuk menyerah. Saat berteriak itulah sebuah tembakan dari kiri posisinya menerjangnya hingga terluka parah dan jatuh. Namun, sebelum seluruh tubuhnya menyentuh tanah, Lassen sempat melemparkan granat ke arah lawan hingga melumpuhkan mereka dan membuat sisa pasukannya bisa menyerbu lawan di posisi terakhir.

 

Lassen yang terluka parah menolak untuk dievakuasi. Hal itu demi melapangkan jalan bagi sisa pasukannya, yang sudah kehabisan peluru, untuk mundur. Lassen pun gugur.

 

“Atas tindakannya malam itu, Lassen dianugerahi Victoria Cross secara anumerta, penghargaan tertinggi Inggris untuk keberanian. Salah satu cerita menyebutkan bahwa Victoria Cross-nya awalnya diblokir, karena Brigadir Tod bukanlah penggemar berat pria yang terkadang kasar itu. Namun, mantan komandan unit tersebut, Earl George Jellicoe, memiliki pengaruh di komando tinggi dan melewati beberapa jalur resmi,” sambung C.K. Smith.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Prajurit Keraton Ikut PKI

Prajurit Keraton Ikut PKI

Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
Perang Jawa Memicu Kemerdekaan Belgia dari Belanda

Perang Jawa Memicu Kemerdekaan Belgia dari Belanda

Hubungan diplomatik Indonesia dan Belgia secara resmi sudah terjalin sejak 75 tahun silam. Namun, siapa nyana, kemerdekaan Belgia dari Belanda dipicu oleh Perang Jawa.
Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja bersekutu melawan Belanda. Keduanya telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
bottom of page