top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Ruhana Kudus Bukan Sekadar Wartawan Perempuan Pertama Indonesia

Selain sebagai wartawan perempuan pertama, Ruhana Kudus juga seorang pendidik dan penggerak masyarakat. Ia melakukan tiga peran dalam waktu bersamaan untuk memajukan kaum perempuan.

9 Feb 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Sekolah pembuatan renda di sekolah Kerajinan Amai Setia, Koto Gadang, dekat Bukittinggi, Sumatra Barat. (Wereldmuseum Amsterdam/Wikimedia Commons).

Diperbarui: 5 menit yang lalu


NAMA Roehana Koeddoes (dibaca Ruhana Kudus) dikenal sebagai wartawan perempuan pertama Indonesia. Namun, sejarah mencatat, ia juga berkiprah sebagai pendidik dan penggerak kaum wanita di kampung kelahirannya, Koto Gadang. Salah satu peninggalannya ialah Yayasan Amai Setia, sekolah keterampilan yang didirikan pada 1911, yang masih bertahan hingga kini. 


“Gedung Kerajinan Amai Setia dibangun pada 1915, dan sampai sekarang tetap berdiri. Kami juga tetap menggunakan gedung ini untuk menjalankan mimpi dan visi dari Ibu Rohana Kudus,” kata Trini Tambu, ketua Yayasan Amai Setia, dalam diskusi “3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia,” di IDN HQ, Jakarta (6/2). 


Siti Ruhana lahir di Koto Gadang pada 20 Desember 1884. Ayahnya seorang kepala jaksa bernama Moehammad Rasjad Maharadja Sutan. Ruhana saudari seayah lain ibu dengan Sutan Sjahrir yang kelak menjadi perdana menteri Indonesia pertama. Pada 1908, Ruhana menikah dengan Abdul Kudus, seorang notaris independen lulusan sekolah hukum Batavia dan aktivis pergerakan nasional. Sejak itu, Ruhana menyandang nama belakang suaminya dan dikenal sebagai Ruhana Kudus. 


Ruhana Kudus muda bersama muridnya.
Ruhana Kudus muda bersama muridnya. (Repro Rohana Kudus, Srikandi Indonesia).

Wartawati Pertama 

Meski Ruhana tak bersekolah formal, ayahnya peduli pada pendidikan Ruhana dengan mengasupnya berbagai macam buku bacaan sejak kecil. Ruhana juga diajarkan untuk mahir berbahasa Melayu dan Belanda. Ketika kebanyakan anak-anak perempuan sebayanya masih buta huruf, Ruhana mampu membaca, menulis, dan terampil berbahasa. 


Tradisi literasi yang mapan ditambah dukungan sang suami kemudian membuka jalan bagi Ruhana berkiprah sebagai wartawan perempuan pertama di Indonesia. Dibuktikan pada 1912, ketika Ruhana mendirikan Soenting Melajoe, bersama pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe Datuk Sutan Maharadja. Soenting Melajoe terbit di Padang dan merupakan suratkabar perempuan pertama di Hindia Belanda. Seperti misi yang diusungnya, Soenting Melajoe menyajikan berita dan isu tentang perempuan yang ditulis oleh penulis perempuan. 


Menurut Wahyu Dyatmika, ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), sebagai perintis pers Indonesia, Ruhana Kudus adalah pionir jurnalis perempuan. Ruhana Kudus merupakan wartawan perempuan pertama, pemimpin redaksi suratkabar perempuan pertama, dan pendiri surat kabar khusus perempuan pertama. Namun, namanya kurang bergaung dibandingkan jurnalis perempuan yang berkiprah di generasi selanjutnya. Katakanlah misalnya S.K. Trimurti yang diinisiasi Aliansi Jurnalisme Independen (AJI) sebagai tokoh jurnalis perempuan. 


Diskusi “3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia,” di IDN HQ, Jakarta (6/2). (Tangkapan Layar Youtube IDN Times).
Diskusi “3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia,” di IDN HQ, Jakarta (6/2). (Tangkapan Layar Youtube IDN Times).

“Sama-sama berkontribusi tapi kalau disebut pionirnya harusnya Ruhana Kudus,” terang Wahyu. “Saya kira penting segera dilakukan upaya untuk menguatkan kembali memori publik tentang perempuan dalam sejarah jurnalisme Indonesia.” 


Sementara itu, Khairiah Lubis, ketua umum Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) menyatakan, Ruhana Kudus adalah spirit bagi jurnalis perempuan. Sebab, menurutnya, Ruhana Kudus meninggalkan banyak rekam jejak dalam sejarah pers Indonesia. Tak hanya di Koto Gadang, Ruhana Kudus juga berkiprah di koran Perempuan Bergerak yang didirikan Parada Harahap dan istrinya, Butet Satidjah di Medan. 


“Ruhana Kudus pindah ke Medan pada 1916. Ketik pindah ke Medan, dia menulis untuk koran Perempuan Bergerak. Jadi [pers] Sumatra Barat dan Sumatra Utara itu punya titisan yang sama. Titisannya adalah dari Ruhana Kudus,” tutur Khariah. 



Memberdayakan Perempuan 

Sebelum menjadi wartawati, Ruhana lebih dulu mendirikan Kerajinan Amal Setia (KAS), sekolah keterampilan untuk memberdayakan kaum perempuan, di Koto Gadang pada 1911. Sebagai perempuan, Ruhana tak ingin unggul sendirian. Ia juga ingin maju bersama-sama dengan mengangkat harkat perempuan melalui sekolah keterampilan yang didirikannya. Dalam KAS, mereka diajarkan membaca, menulis, dan keterampilan menjahit, merenda, menyulam, serta menenun. Kegiatan ini, selain memberikan kesempatan belajar bagi perempuan, juga memberikan nilai tambah ekonomi. Ruhana melakukan aktivitas dalam KAS sembari tetap menulis di Soenting Melajoe. 


Menurut jurnalis influencer Najwa Shihab, setiap zaman punya cara untuk membungkam perempuan. Tapi, di setiap zaman pula, selalu ada perempuan yang menemukan cara untuk bersuara. Ruhana Kudus adalah contoh bagaimana perempuan bisa bersuara di tengah zaman yang masih belum ramah terhadap akses perempuan bersuara. Ia tidak menunggu ruang publik itu datang. Sebaliknya, ia menulis dan membuka ruang publiknya sendiri. 


“Dan yang menurut saya juga menarik adalah Ruhana Kudus memahami sesuatu yang terasa sangat modern. Literasi membuat perempuan berpikir. Kemandirian ekonomi membuat perempuan kuat. Tulisan membuat suara itu sampai. Jadi, Ruhana Kudus memahami sesuatu (dalam konteks perempuan, red.) yang sampai sekarang masih kita perjuangkan,” kata Najwa. 


Gedung sekolah Kerajinan Amai Setia kini menjadi museum. (Wikimedia Commons).
Gedung sekolah Kerajinan Amai Setia kini menjadi museum. (Wikimedia Commons).

Pada 1917, Ruhana Kudus bersama suaminya pindah ke Bukittinggi. Di kota sejuk itu, Ruhana mendirikan Roehana School, sekolah swasta untuk anak-anak pribumi. Seperti KAS, sekolah ini juga memberikan pendidikan dasar dan mengajarkan keterampilan bagi para murid. Di Bukittinggi pula anak pertama pasangan Ruhana dan Abdul Kudus lahir bernama Djasma Juni. 


Selama puluhan tahun, Ruhana tetap berkhidmat dalam dunia pers dan tetap beraktivitas dalam gerakan mencerdaskan perempuan. Dari Koto Gadang, Ruhana sempat beberapa kali pindah domisili ke Medan, Bukittinggi, Surabaya, dan Jakarta. Hingga akhirnya Ruhana Kudus wafat di Jakarta pada 17 Agustus 1972. Ia dimakamkam di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Pusat. 


Sekolah Kerajinan Amai Setia kini menjadi Yayasan Amai Setia. Gedung sekolah Amai Setia yang diupayakan Ruhana Kudus sampai saat ini masih kokoh berdiri dan beralih fungsi menjadi museum. Pada 2019, pemerintah menyematkan gelar Pahlawan Nasional kepada Ruhana Kudus. Pengangkatan Ruhana Kudus menabalkan citra Nagari Koto Gadang, sebagai satu-satunya desa di Indonesia yang memiliki tiga Pahlawan Nasional: Sutan Sjahrir, Haji Agus Salim, dan Ruhana Kudus.*



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Soebandrio Ujung Tombak Politik Luar Negeri Sukarno

Soebandrio Ujung Tombak Politik Luar Negeri Sukarno

Terlepas dari kontroversi yang mengelilinginya, dr. Soebandrio pernah jadi diplomat ulung Indonesia di panggung internasional. Tak gentar meladeni Amerika Serikat.
Ruhana Kudus Bukan Sekadar Wartawan Perempuan Pertama Indonesia

Ruhana Kudus Bukan Sekadar Wartawan Perempuan Pertama Indonesia

Selain sebagai wartawan perempuan pertama, Ruhana Kudus juga seorang pendidik dan penggerak masyarakat. Ia melakukan tiga peran dalam waktu bersamaan untuk memajukan kaum perempuan.
Bapak Persandian Indonesia

Bapak Persandian Indonesia

Roebiono Kertopati dikenal sebagai Bapak Persandian Indonesia. Separuh hidupnya didedikasikan untuk memimpin lembaga sandi negara.
Jenderal Reformis Agus Widjojo Telah Berpulang 

Jenderal Reformis Agus Widjojo Telah Berpulang 

Agus Widjojo jenderal berpikiran maju. Meski sejatinya korban 1965 juga, Agus enggan mendendam dan pilih menyerukan perdamaian untuk semua.
Milisi Lokal Belanda di Subang

Milisi Lokal Belanda di Subang

Dalam Perang Kemerdekaan Indonesia, di Front Karawang-Bekasi Belanda punya pasukan lokal HAMOT. Di Front Subang ada Troepen Spier.
bottom of page