top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Pusat Listrik Negara di Medan Merdeka

Menikmati secangkir kopi di sebuah kedai yang dulunya berperan dalam penerangan kota. Bangunan ini menjadi perusahaan pemasok listrik sejak masa kolonial.

Oleh :
Historia
13 Feb 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Stroom Coffe (Laila Amalia Khaerani/Historia.ID)

  • 9 jam yang lalu
  • 5 menit membaca

BUKA setiap hari dengan menyajikan beragam minuman dan makanan masa kini, Stroom Coffee menyimpan sejarah proses penerangan jalan di Batavia. Stroom yang berarti arus atau setrum listrik, dulu berfungsi sebagai bangunan Nederlandsch-Indische Electriciteit Maatschappij (NIEM) atau Perusahaan Pusat Listrik Negara. 


Keberadaan bangunan ini tidak dapat dilepaskan dari kawasan Medan Merdeka yang sejak lama merekam dan menampilkan potret visual perjalanan sejarah. Meski tak banyak yang masih eksis hingga hari ini, setiap bangunan yang tersisa tetap menyimpan cerita dari masa kolonial hingga masa kini. Jalan ini dianggap penting karena di sekitarnya berdiri banyak bangunan cagar budaya khususnya era kolonial Belanda. 


“Hawa segar Medan Merdeka di pagi buta maupun petang hari menarik banyak pengunjung. Beberapa keluarga berjalan-jalan, pasangan muda asik mengobrol; dan ada yang berolahraga: lari, lompat, senam, bermain bola, saling berkejaran dengan sepeda atau sepatu roda,” catat Adolf Heuken SJ dalam Medan Merdeka-Jantung Ibukota RI.


 

PLN menempati gedung bekas Nederlandsch-Indische Electriciteit Maatschappij (NIEM). (Wereldmuseum Amsterdam).
PLN menempati gedung bekas Nederlandsch-Indische Electriciteit Maatschappij (NIEM). (Wereldmuseum Amsterdam).

Perusahaan Listrik Negara

Menjelang pengujung abad ke-19, inovasi teknologi kelistrikan mulai diperkenalkan ke wilayah-wilayah koloni. Tujuannya untuk aktivitas ekonomi maupun sarana penerangan di daerah jajahan. Sebelum listrik masif digunakan, penerangan jalan dan bangunan umumnya mengandalkan gas. Sumber energi ini dikenal dengan istilah Gas Kota. Sepanjang abad ke-19, Gas Kota dihasilkan melalui proses pemanasan batu bara pada suhu tinggi. Kemudian gas tersebut dikumpulkan, disimpan, dan disalurkan kepada konsumen melalui jaringan pipa. Kondisi ini berubah sejak masyarakat mulai mengenal listrik sebagai sumber penerangan lampu jalan dan lampu ruangan.

 

“Komersialisasi listrik yang dimulai oleh Thomas Edison hakikatnya telah menandai kemajuan peradaban yang digerakkan oleh listrik. Kemajuan yang akhirnya membawa kekuatan transformatif pada kehidupan manusia, yakni penerangan, daya, dan kepadatan,” tulis Eko Sulistyo dalam Jejak Listrik di Tanah Jawa


Listrik menjadikan manusia memiliki akses ke daya yang hampir tak terbatas, serta dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan sehari-hari. 


“Pada awal 1890-an, terbit sebuah iklan menarik yang menggambarkan dimulainya elektrifikasi koloni Inggris di Afrika. Iklan ini dibuat perusahaan listrik berbasis di London, Woodhouse and Rawson, yang merayakan keberhasilan mereka sebagai produsen penerangan dan kejayaan misi peradaban Inggris di Afrika yang gelap,” catat Eko. 


Gedung bekas Nederlandsch-Indische Electriciteit Maatschappij (NIEM) kemudian jadi kantor PLN dan kini jadi Stroom Caffe. (Wereldmuseum Amsterdam).
Gedung bekas Nederlandsch-Indische Electriciteit Maatschappij (NIEM) kemudian jadi kantor PLN dan kini jadi Stroom Caffee. (Wereldmuseum Amsterdam).

Tujuh tahun setelah iklan tersebut terbit, Belanda mendirikan Nederlandsch-Indische Electriciteit Maatschappij (NIEM) atau Perusahaan Pusat Listrik Negara. Perusahaan ini membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di tepi Sungai Ciliwung dengan kekuatan 3.200+3.000+1.350 kW yang pertama di Hindia Belanda. NIEM merupakan perusahaan di bawah NV Handelsvennootschap, yang sebelumnya bernama Maintz&Co berpusat di Amsterdam, Belanda. 


NIEM memperluas usahanya ke Surabaya dengan mendirikan Algemeene Nederlandsce-Indische Electricteits-Maatschappij (ANIEM). Dalam perkembangannya, ANIEM tumbuh menjadi perusahaan listrik swasta terbesar dan mampu memenuhi sekitar 40% kebutuhan listrik di Hindia Belanda. 



“Pendirian dua perusahaan listrik tersebut diikuti oleh pendirian perusahaan sejenis di berbagai kota di Indonesia. Di Bandung didirikan Bandoengsche Electricteit Maatschappij (BEM), serta di beberapa kota didirikan perusahaan serupa yang sebagian besar berafiliasi ke ANIEM yang bekedudukan di Kota Surabaya,” tulis Purnawan Basundoro dalam Pengantar Kajian Sejarah Ekonomi Perkotaan Indonesia. 


NIEM juga turut berperan dalam pembangunan jaringan kereta listrik di Batavia. Infrastruktur kereta listrik mulai direalisasikan pada 1918 oleh Nederlandsch-Indisch Spoorweg Maatschaapij (NIS). Namun, jaringan ini tidak dikembangkan secara luas ke berbagai wilayah, melainkan terbatas pada kawasan Batavia dan jalur yang menghubungkannya dengan Buitenzorg (Bogor). Termuat dalam Naskah Sumber Arsip Perkeretaapian di Indonesia terbitan Arsip Nasional RI tahun 2015, lintasan awal yang dioperasikan menghubungkan kawasan Weltevreden dan Meester Cornelis hingga ke Tanjung Priok. Kehadiran jalur ini memperkuat konektivitas antara pusat pemerintahan, permukiman, dan pelabuhan sebagai simpul perdagangan utama. 


Bangunan bagian dalam Stroom Coffe. (Laila Amalia Khaerani/Historia.ID).
Bangunan bagian dalam Stroom Coffee. (Laila Amalia Khaerani/Historia.ID).

Suratkabar De Locomotief, 23 Oktober 1928 melaporkan, saham NIEM dan perusahaan-perusahaan listrik lainnya tercatat tinggi pada 1920-an. Catatan ini menjadi perhatian besar di bursa. Keuntungan yang diraih pemerintah kolonial sangat besar dari perusahaan ini. Kendati demikian, menurut Willem Walraven seorang penulis Belanda, meskipun Jawa adalah pulau dengan penerangan listrik terbaik di Hindia Belanda tetapi akses listrik masih sangat terbatas. Hal ini dikarenakan pemerintah kolonial menawarkan dengan harga tinggi, sehingga masyarakat lokal tidak mampu mengakses. 


“Di tahun 1930 terdapat 76.000 penduduk asli di Jawa yang menggunakan listrik kurang dari 0,2% penduduk asli Jawa. Angka itu bahkan menurun, menjadi 54.000 dalam empat tahun berikut ketika depresi menimpa. Biaya terendah di tahun 1938, dihitung sebagai 25 sen seminggu untuk dua lampu 10 watt,” catat Rudolf Mrazek dalam Engineers of Happy Land


Lukisan di dalam Stroomm Coffe. (Laila Amalia Khaerani/Historia.ID).
Lukisan di dalam Stroomm Coffee. (Laila Amalia Khaerani/Historia.ID).

Arsitektur Bangunan 

Pada masa pendudukan Jepang, seluruh infrastruktur kelistrikan di Hindia Belanda dikuasai oleh pemerintah Jepang yang diberi nama Djawa Denki Djigjo Kosja (Perusahaan Umum Usaha Listrik Jawa). Kantor pusatnya berada di Tokyo. Perusahaan ini membawahkan tiga perusahaan yang berpusat di Jakarta, Semarang, dan Surabaya.

 

Pasca kemerdekaan, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 163 Tahun 1953, perusahaan-perusahaan listrik dan gas di seluruh Indonesia dinasionalisasi. Kebijakan ini diambil karena sektor listrik dan gas dipandang sebagai cabang produksi yang penting bagi negara serta menyangkut hajat hidup orang banyak. Pemerintah membentuk Djawatan Listrik dan Gas Bumi. Djawatan ini kemudian menjadi bagian dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1959. Ini merupakan awal konsolidasi PLN sebagai perusahaan listrik secara nasional. 

Kini, bangunan NIEM berada di dalam kawasan Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Jalan Ridwan Rais. Bagian yang dulunya kantor operasional, kini menjadi kedai kopi bernama Stroom Coffee. 


NIEM terlihat bermenara limas dengan deretan kolom dan bukaan jendela tinggi berjajar di lantai bawah. Hal ini menunjukkan ritme visual yang teratur dan menegaskan fungsinya di masa lalu sebagai bangunan institusional. Ornamen sederhana namun detail terlihat pada lis bangunan, jendela, dan peralihan antar lantai menjadi ciri khas arsitektur era awal abad ke-20 yang mengutamakan fungsi tanpa meninggalkan estetika.

 

“Gedung ini merupakan pengecualian di kawasan Koningsplein dan dibangun dalam gaya eklektisisme,” tulis Heuken. 



Tangga di dalam bangunan Stroom Caffee. (Laila Amalia Khaerani/Historia.ID).
Tangga di dalam bangunan Stroom Caffee. (Laila Amalia Khaerani/Historia.ID).

Gaya eklektisisme dalam arsitektur merujuk pada pendekatan yang mengombinasikan beragam elemen dari gaya-gaya arsitektur yang telah berkembang sebelumnya ke dalam satu rancangan bangunan. Unsur detail dan ornamen bangunan NIEM menunjukkan kualitas seni kriya yang tinggi, serta menampilkan karkteristik yang serupa dengan gaya Neo-Gotik dan Viktorian. 


Bangunan NIEM memperlihatkan adaptasi terhadap iklim tropis melalui keberadaan teras dan balkon yang awalnya bersifat terbuka, meskipun saat ini sebagian ditutup. Dari sisi tampak luar, bangunan ini menampakkan sebuah menara kecil serta dua dormer window yang menghadap ke arah barat dan utara. Keberadaan jendela di bawah bidang atap dengan ragam hias yang kaya menunjukkan gaya Viktorian di Inggris. 


Pemanfaatan material kayu terlihat sangat dominan, mulai dari lisplang, dinding, kusen, hingga tangga dan railing. Mengingat bangunan ini didirikan pada akhir abad ke-19, diduga bangunan ini dirancang atas pengaruh Art and Crafts. Hal ini tampak dari detail-detail bangunan yang bersifat khas dan tidak dihasilkan secara massal oleh mesin. Pada bagian menara, batu berlapis glasur disusun secara horizontal, memperkaya karakter visual bangunan. Keseluruhan elemen tersebut menghadirkan kesan bangunan hunian dengan skala yang cukup besar, meskipun fungsinya sebagai kantor. 


Bagian interior, khususnya ruang tangga menjadi salah satu elemen yang paling menarik perhatian. Tangga dirancang dengan bentuk yang unik, dilengkapi baluster dan newel post yang sarat dengan ukiran detail. Di area ruang resepsionis, identitas perusahaan lama masih dapat dikenali melalui logo yang tertera pada kaca patri tersebut. 


“Apabila kita menaiki tangga, kita akan menjumpai kaca patri warna-warni, yang menandakan berakhirnya era rumah-rumah serba putih,” tulis Hueuken. 


Oleh karena itu, pelestariannya menjadi penting demi menjaga warisan fisik bangunan yang pernah menjadi saksi bisu perkembangan sejarah perlistrikan Indonesia.*


 

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

A Dutch East Indies Referee at the Olympics

A Dutch East Indies Referee at the Olympics

The Dutch East Indies almost sent a football team to the Olympics but failed due to Dutch opposition. As consolation, a Dutch East Indies referee appeared in several matches, including the Olympics' football final.
Ujung Riwayat Kurt Cobain

Ujung Riwayat Kurt Cobain

Muntah dengan senyuman, begitu kata Buzz Osborne tentang kecanduan Kurt Cobain. Investigasi teranyar menguak dugaan ikon Gen X itu mati dibunuh.
Pusat Listrik Negara di Medan Merdeka

Pusat Listrik Negara di Medan Merdeka

Menikmati secangkir kopi di sebuah kedai yang dulunya berperan dalam penerangan kota. Bangunan ini menjadi perusahaan pemasok listrik sejak masa kolonial.
Dari Kampung ke Kampung, “Tour of Duty” Westerling

Dari Kampung ke Kampung, “Tour of Duty” Westerling

Pasukan Westerling ini pernah bermarkas di Polonia dan Kalibata sebelum pindah ke Batujajar.
Menggali Sumber Sejarah Aceh Semakin Mudah

Menggali Sumber Sejarah Aceh Semakin Mudah

Ribuan koleksi sumber sejarah Aceh tersimpan di Museum Nasional Indonesia. Digitalisasi mempermudah untuk memaknai pengetahuan sejarah.
bottom of page