top of page

Migas Riwayatmu Dulu dan Kini

Dari dulu hingga kini persoalannya tetap berpusar pada pertanyaan yang sama: kekayaan alam Indonesia untuk siapa?

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kapal keruk Billiton Maatschappij. (Wereldmuseum Amsterdam/Wikimedia Commons).

13 Jul 2025
5 menit membaca

Diperbarui: 20 Nov 2025

PANGERAN Hendrik putar otak. Dia punya rencana agar usaha yang didirikan bersama koleganya, sesama kaum aristokrat Belanda, dapat izin mengelola tambang di Belitung, Sumatera. Padahal pada 1852, pemerintah kolonial di Hindia Belanda tak mengizinkan kegiatan ekskploitasi tambang di luar Pulau Jawa. Tapi Hendrik tak kehabisan akal. Dia gencar melobi abangnya, Raja Willem III, untuk memberikan izin mengelola tambang.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page