top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Pesona Sadum Angkola

Dalam bahasa daerahnya, kain tenun ini disebut abit godang. Wastra yang sarat teknik, rona, dan jejak akulturasi dari tanah Tapanuli Selatan.

13 Feb 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

  • 00false00 GMT+0000 (Coordinated Universal Time)
  • 3 menit membaca

ULOS tak hanya monopoli budaya Batak Toba di Tapanuli Utara. Saudaranya di sebelah selatan, juga punya kain tenun serupa yang punya ciri khas. Abit, demikian masyarakat Batak di Tapanuli Selatan menyebut wastranya. Salah satu abit yang paling ikonik adalah abit godang yang disebut juga Sadum Angkola. 


“Jadi, abit godang atau Sadum Angkola itu kita mau highlight karena orang sering melihat Sadum Angkola tapi mereka nggak tahu itu dari Batak Angkola. Jadi, orang kalau misalnya tahu ulos, dia sebenarnya identiknya melihat Sadum Angkola ini,” kata Kerri Na Basaria Panjaitan kepada Historia.ID, di sela-sela pertunjukan busana bertajuk “RAYA” di Tobatenun Studio & Gallery, Jakarta, (11/2). 


Dalam pertunjukan itu, keindahan abit godang ditampilkan dari beberapa karya desainer. Masyarakat Tapanuli Selatan sendiri mayoritas beragama Islam dengan subetnis Batak Angkola dan Batak Mandailing. Oleh karena itu, pertunjukan wastra ini, sambung Kerri, dilakukan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan dan ibadah puasa. 



“Kita sengaja ambil tema ‘Raya’, karena kita ingin mengangkat komunitas Batak Muslim, terutama Angkola dan Mandailing,” kata Kerri, pendiri social enterprises Tobatenun, “dengan menyoroti keindahan kain abit godang, sejenis Sadum Angkola dengan teknik lilit bonggit yang menampilkan warna dan keindahan budaya masyarakat Tapanuli Selatan.”


Sadum Angkola atau abit godang pada umumnya dipakai dalam berbagai keperluan upacara adat bagi masyarakat Batak Angkola. Ia termasuk ulos pusaka yang digunakan untuk (menari) manortor, tutup nasi pangupa (sajian syukuran), penutup bagas godang (rumah adat), hingga pembalut indahan tukkus pasae robu (makanan bagi pengantin). 


Menurut tradisi lisan atau turi-turian yang berkembang dalam masyarakat Batak Angkola, kain tenun abit godang berasal dari kerajaan yang berkuasa di daerah Sipirok I, yaitu Bagas Nagodang. Abit godang ditenun oleh putri Raja Firdok Siregar, sehingga disebut pula tenunan boru regar. Karena ditenun oleh putri raja, kain ini menjadi simbol kebesaran dan status raja yang digunakan dalam berbagai upacara adat. Selain raja, abit godang hanya boleh digunakan oleh keturunan raja. Begitula sahibul hikayatnya. 



Sadum Angkola dalam helai kain. (Martin Sitompul/Historia.ID).
Sadum Angkola dalam helai kain. (Martin Sitompul/Historia.ID).

Seiring waktu, penggunaan abit godang semakin berkembang seturut jalannya zaman. Apalagi setelah masuknya agama Islam ke Tapanuli Selatan, corak abit godang terpengaruh daerah tetangganya yang juga beragama Muslim, seperti Sumatra Barat. Dalam Pesona Kain Indonesia: Kain Ulos Danau Toba, Threes Emir dan Samuel Wattimena melihat fungsinya sebagai gendongan bagi keturunan yang memegang kekuasaan. Sementara itu, desainer wastra Nusantara Philip Iswardono dalam Larik Lurik Menuju Wastra Setara, menyebut Sadum Angkola biasanya diberikan orangtua kepada anak tercinta dengan harapan, mendatangkan kegembiraan dan berkat bagi keluarga.


Abit godang ditenun dengan teknik pakan ganda –dikenal pula sebagai songket atau jungkit– yang memungkinkan pembentukan ragam hias geometris dengan kepadatan visual yang kuat. Teknik ini diperkaya dengan penerapan marsimata, yakni penyisipan manik-manik saat proses penenunan berlangsung, sehingga menghadirkan aksen berkilau yang menyatu dengan struktur kain. Keunikan lainnya hadir melalui aplikasi teknik sulam padat bonggit lilit, yang menghasilkan tekstur khas menyerupai rajutan dan mempertegas karakter taktil abit godang


Secara visual, tenun dengan karakter serupa abit godang juga dijumpai di wilayah Tapanuli Utara dan Toba, yang dikenal sebagai Ulos Sadum. Meski demikian, abit godang memiliki kekhasan yang membedakannya secara konseptual dan estetik. Salah satu hal yang membedakan Sadum Angkola dengan Ulos Sadum Batak Toba ialah absennya representasi figur manusia atau makhluk hidup. 



Dalam Ulos Sadum Toba lazimnya memuat motif makhluk hidup seperti manusia atau hewan sebagai ragam hiasan yang punya makna filosofi. Sementara itu, Sadum Angkola tidak menerapkan disebabkan adanya pengaruh Islam, yang menolak motif makhluk hidup dalam busana. Perbedaan ini mencerminkan latar kultural dan sistem nilai yang membentuk tradisi visual masing-masing wilayah.


“Setiap puak itu punya keunikannya masing-masing dan satu-satunya yang benar-benar ikonik kita bisa lihat ada akulturasi dari budaya Padang di Angkola. Karena [Tapanuli Selatan] komunitasnya Batak Muslim, jadi banyak pengaruh dari Sumatra Barat. Selain itu, warnanya mote-mote dan lebih gonjreng. Kalau Toba motifnya lebih geometris, kalem, dan warnanya secara tradisional itu-itu aja (merah, biru, hitam, putih),” terang Kerri. 


Dalam wastra Nusantara, abit godang atau Sadum Angkola mengandung cerita dan keunikan daerahnya. Ragam partikular serta proses asimilasi budaya yang membentuknya jadi warisan penting bagi masyarakat Angkola dan Mandailing, komunitas Batak Muslim yang mendiami wilayah Tapanuli Selatan. Ia tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, tetapi juga hadir dalam berbagai konteks adat, sosial, dan simbolik, merepresentasikan identitas, status, serta nilai- nilai kolektif yang diwariskan lintas generasi. 


“Kadang-kadang orang cuma bilang ulos, batik, ikat, atau sumba, tapi kita enggak tahu orang-orang di baliknya, kulturnya mereka dan juga cerita mereka. Itu yang seharusnya dikedepankan karana budaya itu kan bukan barang. Budaya itu orang sebenarnya, sehingga jadi lebih hidup, melekat, dan dinamis,” pungkas Kerri.* 



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja bersekutu melawan Belanda. Keduanya telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
Pengusaha Hiburan Malam Naik Haji

Pengusaha Hiburan Malam Naik Haji

Pengusaha hiburan malam yang mengorbitkan banyak penyanyi beken ini mengalami kejadian aneh saat menunaikan ibadah haji.
bottom of page