top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Pesta Panen dengan Ulos Sadum dan Tumtuman

Kedua jenis ulos ini biasa digunakan dalam pesta sukacita orang Batak. Sadum untuk perempuan dan Tumtuman bagi laki-laki.

6 Des 2025

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Pertunjukan wastra ulos bertajuk “Mauliate” di Tobatenun Studio & Gallery, Jakarta, 4 Desember 2025. (Martin Sitompul/Historia.ID).

Diperbarui: 12 jam yang lalu

WARNA-warni ceria begitu melekat pada motif Ulos Sadum. Dalam tradisi adat Batak, Ulos Sadum berfungsi sebagai handehande, atau kain yang disampirkan pada bahu. Keidentikannya dengan warna-warna cerah seperti merah menggenggam arti sebagai simbol kebahagiaan. Ulos Sadum biasanya dikenakan oleh gadis yang belum menikah.


“Sebenarnya yang sudah menikah juga bisa pakai, tapi yang saya mengerti biasanya dipakai untuk gadis yang belum menikah dan pada acara pesta. Cukup ikonik ya Sadum ini, kalau misalnya kita pikir, seperti apa bentuk ulos itu, terus kita pernah lihat yang warna-warni, itulah Sadum. Dan Sadum itu juga macam-macam, ada Sadum Angkola, ada Sadum Toba,” terang Kerri Na Basaria Panjaitan dalam pertunjukan wastra ulos bertajuk “Mauliate” di Tobatenun Studio & Gallery, Jakarta, 4 Desember 2025.



Mauliate sendiri, lanjut Kerri, berarti terimakasih dalam bahasa Batak Toba. Pertunjukan wastra ini sebagai bentuk ucapan syukur atas satu tahun yang telah dilalui. Terinspirasi dari Festival Gotilon, tradisi untuk mengucap syukur atas tuaian hasil panen di Tanah Batak. Pesta panen gotilon dulu menjadi ritus adat dalam masyarakat Batak Toba dan berlangsung dua kali dalam setahun.


“Tradisi gotilon telah berlangsung lama sebelum masuknya agama Kristen. Setelah Kristen masuk, [gotilon] tetap dirayakan di lingkungan gereja,” kata Kerri yang juga pendiri social enterprises Tobatenun.


Ulos Sadum. (Dok. Tobatenun).
Ulos Sadum. (Dok. Tobatenun).

Ulos Sadum ditenun menggunakan teknik songket yang dalam bahasa Batak disebut jungkit. Teknik jungkit dibuat dengan metode pakan tambah, yaitu menggandakan pakan (benang horizontal yang bergerak) terhadap lungsi (benang vertikal yang diam) untuk menghasilkan motif timbul. Selain ditenun dengan motif-motif warna cerah, Ulos Sadum menjadi populer karena biasa dipakai dalam acara mangulosi untuk parboru, yang berarti memakaikan ulos untuk perempuan.


Selain Ulos Sadum, ulos lain yang ditampilkan ialah Ulos Tumtuman. Dalam bahasa Batak, tumtuman berarti mengikat. Dahulu, Ulos Tumtuman digunakan sebagai ikat kepala laki-laki, khususnya anak laki-laki tertua sebagai simbol kesulungan. Seperti Ulos Sadum, Ulos Tumtuman juga dibuat dengan teknik songket atau jungkit.



Dalam Pesona Kain Indonesia: Kain Ulos Danau Toba, Threes Emir dan Samuel Wattimena menyebut Ulos Tumtuman yang ditenun dengan teknik pakan tambahan atau songket digunakan sebagai tali (ikat kepala) raja atau tetua Batak. Tali-tali yang bermotif digunakan oleh anak sulung atau tuan runah yang sedang menyelenggarakan acara adat Batak.


Tak hanya itu, motif Tumtuman banyak terinsipirasi dari ikat pinggang (hohos) para raja yang disebut suranti, serta selendang pelengkap ulos hande bagi tokoh kerajaan dan permaisuri. Motifnya juga memiliki kemiripan dengan bagian tinorpa pada Ulos Ragi Hidup, bagian yang memiliki teknik tenun serupa.


Ulos Tumtuman. (Dok. Tobatenun).
Ulos Tumtuman. (Dok. Tobatenun).

“Tapi kemudian ia (Ulos Tumtuman) menjadi satu kain set sebagai sarung atau selendang dan menjadi simbol yang cukup luks. Karena dulu orang Batak suka pakai Songket Palembang kalau beracara. Kenapa kita enggak bisa pakai motif-motif kita sendiri padahal kita banyak sekali motif [Batak] yang kaya. Lahirlah Tumtuman ini menjadi satu jenis ulos yang bisa bersanding setara dengan Songket Palembang,” jelas Kerri.


Artisan Ulos Sadum dan Ulos Tumtuman tersebar di penjuru Tanah Batak. Mulai dari Silindung dan Tarutung di Tapanuli Utara hingga Angkola dan Mandailing di Tapanuli Selatan. Melalui pertunjukan wastra ini, Kerri berharap membangkitkan minat dan ketertarikan generasi muda terhadap kebudayaan Batak sebagai wujud pemajuan kebudayaan bangsa.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

A Historical Pilgrimage to Petamburan, Jakarta (1)

A Historical Pilgrimage to Petamburan, Jakarta (1)

From Indonesian national soccer team coach Toni Pogacnik to race car driver Hengky Iriawan, several notable sports heroes in Indonesian history are buried at the Petamburan Public Cemetery, Central Jakarta.
Pasang Surut Hubungan Indonesia dan Iran

Pasang Surut Hubungan Indonesia dan Iran

Hubungan masyarakat Indonesia dan Iran sudah terjalin sejak masa Nusantara dan Persia. Namun, Indonesia pernah menjaga jarak setelah Revolusi Islam Iran.
Greenland Dikuasai Denmark, Diancam Amerika Serikat

Greenland Dikuasai Denmark, Diancam Amerika Serikat

Ratusan tahun Greenland di bawah kekuasaan Denmark, kini terancam dianeksasi Amerika Serikat. Orang Greenland sendiri ingin merdeka.
Lelucon Jojon Tepi Jurang

Lelucon Jojon Tepi Jurang

Selain untuk menghibur, komedi bisa menjadi kritik sosial. Namun, komedi bisa menimbulkan masalah bagi komedian, seperti yang terjadi pada Jojon.
Bintang Telenovela Venezuela di Layar Kaca Indonesia

Bintang Telenovela Venezuela di Layar Kaca Indonesia

Artis Venezuela pernah begitu terkenal di Indonesia ketika tayangan telenovela Amerika Latin melanda tanah air.
bottom of page