top of page

Ulos Ragi Hidup Simbol Kehidupan Paripurna Orang Batak

Dalam adat budaya Batak, hanya orang tertentu yang boleh menyadang ulos ini. Untuk mereka yang telah mengarungi perjalanan panjang kehidupan dan beranak-cucu.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Peragaan Ulos Ragi Hidup dalam simposium “UGARI: LUHUR” di Tobatenun Studio & Gallery, Jakarta, 30 Juli 2025. Foto: Martin Sitompul/Historia.id.

  • 31 Jul 2025
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 14 Agu

DI kalangan suku Batak, kaum pria boleh jadi menempati posisi lebih dominan dalam struktur sosial. Pada setiap hajatan, entah itu pesta pernikahan, upacara perkabungan, atau parhata –orang yang memimpin jalannya prosesi adat– selalu diperankan oleh laki-laki yang dituakan.


Namun, andai kata tidak ada perempuan yang menenun kain ulos, nicaya tradisi adat itu mati belaka. Sepenting itulah ulos, sebutan untuk kain tenun Batak, begitu pula peran perempuan penenunnya (partonun).


Ulos dalam adat budaya Batak bukan sekadar sehelai kain tenun. Ia mengandung nilai keluhuran. Selain itu, penyematan ulos (mangulosi) kepada seseorang punya filosofi masing-masing. Tergantung jenis ulos apa yang dipakai dan kepada siapa ulos itu disematkan.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
bg-gray.jpg
Captain Drury, a veteran of the Java Invasion, is the only British person buried in the old Dutch cemetery at the Bogor Botanical Gardens.
transparant.png
bottom of page