- 31 Jul 2025
- 3 menit membaca
Diperbarui: 14 Agu
DI kalangan suku Batak, kaum pria boleh jadi menempati posisi lebih dominan dalam struktur sosial. Pada setiap hajatan, entah itu pesta pernikahan, upacara perkabungan, atau parhata –orang yang memimpin jalannya prosesi adat– selalu diperankan oleh laki-laki yang dituakan.
Namun, andai kata tidak ada perempuan yang menenun kain ulos, nicaya tradisi adat itu mati belaka. Sepenting itulah ulos, sebutan untuk kain tenun Batak, begitu pula peran perempuan penenunnya (partonun).
Ulos dalam adat budaya Batak bukan sekadar sehelai kain tenun. Ia mengandung nilai keluhuran. Selain itu, penyematan ulos (mangulosi) kepada seseorang punya filosofi masing-masing. Tergantung jenis ulos apa yang dipakai dan kepada siapa ulos itu disematkan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












