- Petrik Matanasi
- 3 hari yang lalu
- 2 menit membaca
Diperbarui: 22 jam yang lalu
DI usia 21 tahun, Ali Adjer menjadi saksi tuannya yang bertakhta di Kesultanan Deli, Sultan Mahmud Al Rasyid Perkasa, didatangi tiga orang Eropa. Said Abdullah, orang kepercayaan sultan, yang membuat mereka datang ke Deli.
Pembicaraan pun terjadi antara Sultan Mahmud dan ketiga orang Eropa tadi. Setelah pembicaraan itu, dua dari orang Eropa itu meninggalkan Deli. Satu yang tetap tinggal bernama Jacobus Nienhuys (1836-1927).
Nienhuys baru saja gagal menanam tembakau yang baik di Tempeh, Lumajang, Jawa Timur. A. Hoynck van Papendrecht dalam Tabak Maatschappij Arendsburg 1877-1927 menyebut, uang dari firma Pieter van den Arend sebesar 36.000 gulden lenyap karena kegagalan itu. Namun Nienhuys tak patah arang dan berupaya kembali di tempat lain. Pieter van den Arend mendukung usaha Nienhuys.
Nienhuys lalu mendapat izin untuk menanam tembakau di tepi Sungai Deli. Kebun tembakau itu tidak jauh rumah Ali Adjer, pemuda Melayu kelahiran 1842 yang merupakan salah satu pembantu Sultan Mahmud. Jarak rumah Ali dengan istana cukup jauh, belasan kilometer. Perkebunan itu membuat kampung tempat tinggal Ali menjadi ramai oleh orang-orang baru yang bukan orang Melayu.
Nienhuys sering terlihat oleh Ali ketika mengurus tembakau di kebun dengan dibantu para kuli Tionghoa. Nienhuys menjadi administrateur yang mengelola perkebunan itu. Oleh karenanya, semua urusan kebun memenuhi pikirannya. Termasuk bangunan tempat tinggal untuk para kuli. Untuk menghubungkan kebun tembakaunya dan Klumpang dengan daerah Mabar, dia membangunkan sebuah jembatan.
“Jembatan kayu pertama yang dibangun oleh Nienhuys berada di belakang rumahnya. Inilah asal mula nama Titi Papan saat ini,” catat A. Hoynck van Papendrecht dalam Tabak Maatschappij Arendsburg 1877-1927.
Jembatan itu dibuat dari balok-balok kayu sebagai rangkanya lalu papan-papan diletakkan di atasnya sebagai lantai jembatan. Dari sanalah nama Titi Papan berasal, untuk menamakan daerah sekitar jembatan itu.
Setelah penanaman tembakau Nienhuys sukses, pada 1867 dia meninggalkan Deli untuk kembali ke Eropa. Perkebunan yang dikuasai Pieter van den Arend itu kemudian dikenal sebagai Arendsburg. Perusahaan perkebunan itu dikenal sebagai NV Arendsburg Tabak Maatschappij dan memiliki perkebunan tembakau di beberapa titik. Setelah tembakau, perusahaan tersebut berbisnis karet.
Daerah di seberang sungai perkebunan tembakau pertama di Deli yang dekat rumah Ali Adjer itu pun jadi berkembang. Berdasarkan denah yang dibuat G. Nieuwenhuys berdasar pengakuan Ali Adjer, daerah seberang sungai kebun tembakau itu kemudian menjadi jalan umum bernama Gouvernement Weg (Jalan Pemerintah). Rel keretaapi kemudian dibangun di sana. Sebuah stasiun kecil yang menghubungkan kota Medan dengan Pelabuhan Belawan dibangun pada 1886 dan dinamai Titi Papan. Jaringan keretaapi itu dioperasikan Deli Spoorweg Maatschappij (DSM).
Pada 1927, tahun di mana Ali Adjer tutup usia, bekas kebun tembakau Deli pertama itu sudah menjadi perkampungan. Perusahaan Arendsburg boleh hilang namanya di Medan, namun nama Titi Papan masih ada hingga sekarang.
Saat ini, Titi Papan adalah nama salah satu kelurahan di Medan Deli, Kota Medan. Bekas perkebunan itu telah dipenuhi rumah. Jalan yang menghubungkan Klumpang dengan Stasiun Titi Papan kini bernama Jalan Platina. Jalan di sisi barat kebun tembakau yang dulu bernama Maryland, kini menjadi Jalan Marelan Raya. Berbeda dengan tahun 1927, Kini di tepi Sungai Deli di bekas perkebunan tembakau pertama Deli itu membentang Jalan Speksi Sungai Deli. Di seberangnya, membentang Jalan Yos Sudarso yang dulu bermama Gouvernement Weg. Stasiun Titi Papan pun masih ada.*













Komentar