top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.

23 Feb 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

RS Bethesda yang didirikan JG Scheurer, dokter-misi Belanda berjuluk "Dokter Tolong". (Wikipedia)

  • 3 jam yang lalu
  • 3 menit membaca

HAMPIR saja putra seorang guru itu menjadi seorang guru juga ketika muda. Jan Gerrit Scheurer, si putra guru tadi, sudah beberapa bulan menjadi mahasiswa calon guru. Namun ketertarikannya dalam dunia penyebaran agama Kristen (misionaris) membelokkan langkah hidupnya. Gereja Reformasi Utrecht dan Nederlandsch Gereformatie Zendingvereniging (Asosiasi Misionaris Reformasi Belanda) kemudian mengarahkannya belajar kedokteran dan diikutinya.

 

Sedari 1888 hingga 1892, Scheurer pun sekolah kedokteran di London. Namun pendidikan kedokteran yang dijalaninya tidak untuk bertugas di Eropa, melainkan di tempat yang jauh sekali dari tempat tinggalnya.

 

Bugitu lulus, pada 1893 Scheurer dikirim ke Surakarta. Pria kelahiran desa kecil Gelselaar pada 3 Maret 1864 itu dikirim bersama istrinya yang sudah belajar ilmu keperawatan pula.

 

Namun Scheurer hanya sebentar di Surakarta karena pekerjaan misionaris dikurangi di sana. Dia lalu pindah ke Yogyakarta. Pada 1899, dia ikut mendirikan sebuah rumahsakit (RS) di bilangan Kotabaru, Yogyakarta. Koran De Standard edisi 20 Juni 1928 memberitakan, rumahsakit itu diresmikan pada Hari Buruh 1 Mei 1900 dengan nama Petronella Hospitaal (Rumahsakit Petronella). Nama Petronella dipilih untuk menghormati istri pertama donatur rumahsakit itu: Pendeta van Coeverden Adriani.



Kiprah dr. Scheurer membuat namanya menjadi terkenal di Yogyakarta dalam hitungan tahun. Karena sering membantu orang yang sedang sakit, dia pun dijuluki dan ditulis sebagai Dokter Toeloeng atau Dokter Pitoeloengan.

 

Humanisme menjadi “pegangan” dokter Scheurer dalam menjalani profesinya. Maka diirinya tak menolong orang hanya berdasarkan tanda salib saja alias tidak hanya menolong orang Kristen semata. Orang Islam dan penganut agama lain yang tersebar di Yogyakarta pun bila sakit ditolonginya. 

 

“Saya pernah mendengar Muslim yang taat berbicara dengan sangat baik tentang orang Kristen yang mulia itu mengklaim bahwa, meskipun tanpa disadari, dia sebenarnya seorang Islamis,” catat Clockener Brousson, pensiunan letnan KNIL yang tinggal di Yogyakarta, seperti diberitakan Winschoter Courant edisi 21 Agustus 1905.

 

Bagi sebagian muslim Jawa yang bijak, orang yang suka menolong apapun agamanya kerap dianggap Islam dalam bersikap. Laku Islami kalau kata orang kekinian.

 

Kebaikan misionaris-misionaris Kristen kepada penduduk Yogyakarta membuat Sultan Hamengkubuwono VII selaku penguasa Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat memperbolehkan para misionaris tinggal di Yogyakarta dengan menyewa lahan dalam jangka panjang pada awal abad ke-20 itu.

 

RS Petronella, dengan halaman luas membentang di bagian depannya, menjadi satu dari sekian tempat misionaris bekerja di Yogyakarta. Ketika itu, rumahsakit tersebut baru punya lima bangsal paviliun memanjang, masing-masing untuk 20 pasien. Tiga bangsal untuk lelaki dan dua untuk perempuan. Pada tiap bangsal, ada ruang untuk petugas jaga.

 

RS Petronella juga punya ruang apotek dan laboratorium. Selain dr Scheurer, rumahsakit tersebut punya perawat-perawat terlatih dari Eropa pula. Menurut Clockener Brousson, pelayanan di rumahsakit tersebut masih terhitung gratis.



Pada 1906, dr. Scheurer kembali ke Eropa. Di sana dia mendalami ilmu kedokteran di Groningen.


Meski tanpa dr. Scheurer, RS Petronella terus berjalan. Pun hingga setelah dr. Scheurer tutup usia pada 20 Juni 1928. Dokter Scheurer dianggap mirip dengan dokter Albert Schweitzer (1875–1965) yang menolong rakyat Afrika. Keduanya sama-sama misionaris yang berjuang lewat jalur kesehatan.

 

Kendati penguasa di Jawa terus berganti, RS Petronella tetap bertahan, bahkan hingga sekarang. Peran penting dimainkan rumahsakit tersebut menjelang pecahnya Perang Asia Timur Raya, di mana pemerintah Hindia Belanda mempersiapkan banyak hal terkait medis, termasuk mencetak tenaga-tenaga medis.

 

“Pendidikan juru rawat diperbanyak. Tugas semacam ini diserahkan kepada Petronella Hospital, sedangkan biayanya ditanggung oleh pemerintah,” tulis Ryadi Goenawan dan Darto Harnoko dalam Sejarah Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta: Mobilitas Sosial DI Yogyakarta.  

 

Setelah perang pecah, RS Petronella teramat sibuk. Tak hanya merawat dan menyembuhkan pasien yang membludak, rumahsakit tersebut juga mengkoordinir dua rumahsakit darurat di Pingit.

 

Di zaman pendudukan Jepang (1942-1945) yang singkat, RS Petronella bekerja di bawah aturan Jepang dan diganti namanya. Sementara, RS Pingit beserta seluruh perlengkapannya diambil alih pemerintah pendudukan Jepang.



“Semenjak datangnya beberapa dokter dan dua perawat wanita ke rumah sakit ini praktis rumah sakit telah dikuasai pemerintah pendudukan. Digantilah nama Petronella Hospital menjadi Jogjakarta Tjuo Bjoin. Berakhirlah azas dan nama Petronella Hospital,” sambung Ryadi Goenawan dan Darto Harnoko.

 

Usai perang, dilakukan upaya pengembalian ke kondisi pra-perang. RS Petronella kembali beroperasi. Statusnya bahkan dijadikan RS Pusat. Kendati terkendala pendanaan setelah pendudukan kembali oleh tentara Belanda, RS Petronella tetap berjalan dengan sokongan dana pribadi Sultan Hamengku Buwono IX.

 

Setelah 1 Februari 1950, RS Petronella menjadi bagian dari Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (Yakkum) dan mulai dikenal sebagai Rumah Sakit Bathesda hingga sekarang.

 

“Rumah sakit pusat harus kembali menjadi rumah sakit Kristen. Akhirnya dalam rapat 28 Juni 1950 diputuskan agar masyarakat umum mengetahui bahwa rumah sakit pusat itu rumah sakit Kristen, dan namanya diganti menjadi Rumah Sakit Bethesda. Sejak saat itu kepengurusannya diserahkan kepada swasta,” tulis Ryadi Goenawan dan Darto Harnoko.



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
Coolen Mengkristenkan Jawa

Coolen Mengkristenkan Jawa

Coolen menyebarkan Kristen menggunakan wayang. Dia melakukan akulturasi ajaran Kristen dengan budaya Jawa sehingga berbeda dengan Kristen Belanda.
bottom of page